Sean selalu percaya ada orang yang kita tinggalkan, tapi tak pernah benar-benar pergi.
Bagi Sean , orang itu adalah Langit.
Mereka pernah saling memiliki dengan cara yang nyaris membuat dunia terasa kecil.
Langit adalah rumah, luka, sekaligus alasan Sean percaya cinta itu ada.
Tapi cinta, kadang, kalah oleh keadaan.
Mereka berpisah bukan karena berhenti mencinta, tapi karena hidup terlalu keras untuk dua orang yang sama-sama keras kepala.
Tiga tahun berlalu.
Sean belajar tersenyum tanpa Langit. Belajar tidur tanpa mendengar suara Langit di telepon. Belajar pura-pura biasa saat nama Langit disebut orang.
Tapi hati punya ingatan yang kejam.
Malam itu, di stasiun tua saat hujan jatuh seperti kenangan yang bocor, Sean melihat Langit lagi.
Masih lelaki yang sama. Mata teduh yang menyimpan badai. Bahu tempat Sean pernah pulang.
“Aku cari kamu ke mana-mana,” kata Langit.
Sean tersenyum pahit.
“Untuk apa? Untuk meninggalkanku dua kali?”
Sean diam.
Diam yang terasa lebih menyakitkan dari jawaban apa pun.
“Aku pergi waktu itu karena aku miskin, hancur, dan takut kamu ikut tenggelam bersamaku,” suara Langit serak.
“Aku tidak pernah takut miskin, Langit. Aku cuma takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu membuat Langit menutup mata, seolah menahan sesal yang selama ini hidup diam-diam.
Mereka berjalan tanpa tujuan malam itu, seperti dulu.
Tentang hal-hal kecil.
Tentang luka yang belum sempat sembuh.
Tentang cinta yang ternyata diam-diam masih tinggal.
Saat sampai di apartemen Langit, semuanya terasa seperti waktu diputar mundur.
Masih ada aroma kopi.
Masih ada gitar di sudut ruangan.
Masih ada buku puisi Sean di rak, halaman favoritnya diberi tanda.
“Kamu simpan semua ini?”
Langit mengangguk.
“Aku buang banyak hal. Tapi tidak pernah yang berhubungan dengan kamu.”
Sean runtuh.
Air matanya jatuh.
Langit menghapusnya pelan, begitu pelan seolah takut Sean lenyap jika disentuh terlalu keras.
Lalu Langit memeluknya.
Pelukan itu…
Terlalu akrab untuk disebut asing.
Terlalu sakit untuk disebut pertemuan biasa.
Sean menangis di dada Langit seperti tiga tahun kehilangan pecah sekaligus.
“Aku benci kamu.”
“Aku tahu.”
“Aku masih cinta kamu.”
Langit memeluknya lebih erat.
“Aku juga.”
Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang getir.
Bukan seperti orang yang sedang jatuh cinta.
Tapi seperti dua orang yang mencoba menyelamatkan sisa hidup.
Malam larut.
Mereka rebah berdampingan.
Jari Langit memainkan jemari Sean.
Sunyi mereka penuh rindu.
“Aku mau jujur,” kata Sean tiba-tiba.
Sean menoleh.
“Aku sakit.”
Sean membeku.
Langit tersenyum tipis.
“Jantungku. Dokter bilang aku mungkin tak punya banyak waktu.”
Dunia seperti berhenti.
Sean menatap Langit, tak percaya.
“Kamu bohong…”
Langit menggeleng.
Air mata Sean jatuh satu-satu.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
“Karena aku pengecut.”
Sean memukul dada Langit sambil menangis.
“Kamu jahat… jahat…”
Langit justru memeluknya.
“Makanya malam ini aku mau lihat kamu sekali lagi.”
Malam itu berubah menjadi malam paling indah sekaligus paling kejam.
Sean tertidur di dada Langit sambil menggenggam tangannya erat, seakan jika dilepas Langit akan hilang.
Dan pagi datang terlalu cepat.
Saat Sean bangun…
Langit sudah dingin.
Masih memeluknya.
Masih dengan senyum kecil di bibir.
Tapi Langit sudah pergi.
Selamanya.
Di meja ada surat.
Untuk Sean.
Kalau kamu baca ini, berarti aku pergi saat sedang memeluk rumah terakhirku.
Jangan benci waktu karena mengambilku.
Karena di ujung waktuku, yang terakhir kupanggil… namamu.
Sean.
Selalu Sean.
Bertahun-tahun kemudian, Sean masih datang ke stasiun tua saat hujan turun.
Berdiri sendiri.
Tersenyum pada kosong.
Dan berbisik—
“Langit… aku belum selesai mencintaimu.”
Karena ada cinta yang tak tamat oleh kematian.
Ada nama…
yang tetap hidup di ujung waktu.
Tamat