Mentari pagi baru saja menyentuh sudut café "Lentera," sebuah tempat populer di pusat kota yang selalu dipenuhi aroma biji kopi pilihan. Di sana, Deo sibuk mengelap meja kayu yang mengilap. Keringat mulai membasahi dahinya, namun senyumnya tak luntur. Baginya, setiap tetes keringat adalah investasi untuk masa depannya; tabungan demi tabungan ia kumpulkan agar suatu hari nanti ia tak lagi melayani di balik meja, melainkan membangun mimpinya sendiri.
Tiba-tiba, lonceng pintu berdenting nyaring. Suasana yang tadinya tenang berubah riuh. Bunga, sang konten kreator yang wajahnya menghiasi ribuan papan reklame digital, masuk dengan langkah yang seolah tak menyentuh bumi. Tubuhnya memang mungil dan imut, dibalut pakaian bermerk dari ujung kepala hingga kaki, namun aura sombong yang dibawanya terasa menyesakkan ruangan.
Sebuah kecelakaan kecil terjadi saat Deo sedang terburu-buru membawa pesanan lain. Tanpa sengaja, ujung nampannya menyenggol siku seseorang, menyebabkan secangkir latte panas meluncur bebas dan tumpah tepat di atas sepatu limited edition milik Bunga.
"Maaf, Mbak... saya benar-benar minta maaf. Saya tidak sengaja," ucap Deo dengan suara gemetar. Ia segera berlutut, mencoba menyeka tumpahan itu dengan tisu bersih. "Biar saya ganti kerugiannya, saya traktir minum di sini, atau saya bersihkan ke tempat khusus..."
Bunga tertawa sinis, suara tawanya membelah keheningan café. Matanya menatap Deo seperti melihat noda yang menjijikkan. Bukannya menerima permintaan maaf, ia justru mengeluarkan ponsel mahalnya. Lampu ring light portabel menyala, dan ia langsung melakukan 𝘭𝘪𝘷𝘦 𝘴𝘵𝘳𝘦𝘢𝘮𝘪𝘯𝘨.
"Kalian lihat ini, 𝘎𝘶𝘺𝘴?" seru Bunga ke arah kamera dengan nada dramatis yang dibuat-buat. Ribuan komentar mulai membanjiri layar. "Pelayan kasta rendahan ini baru saja merusak sepatuku yang harganya setara gajinya setahun. Beginilah nasib kalau orang tidak sekolah, cuma bisa merusak barang orang dan minta maaf dengan recehan!"
Deo tertunduk di lantai, disaksikan ribuan mata secara virtual dan puluhan mata di dalam café. Hatinya perih, bukan karena makian itu, tapi karena harga dirinya diinjak-injak hanya demi sebuah konten.
Beberapa minggu berlalu. Luka di hati Deo mulai mengering, meski rasa malu itu sesekali masih menghantuinya. Sore itu, rumah sederhana keluarga Deo tampak lebih rapi dari biasanya. Harum masakan ibu memenuhi ruangan. Rindo, kakak laki-laki Deo yang merupakan seorang pengusaha sukses dan tulang punggung utama keluarga, tampak berseri-seri. Ia mengumumkan akan memperkenalkan calon istrinya malam ini.
Saat pintu rumah terbuka, dunia seolah berhenti berputar bagi Deo. Bunga berdiri di sana. Ia tidak memakai pakaian mentereng seperti di café; ia mencoba tampil anggun dengan gamis sederhana. Namun, senyum manis yang ia persiapkan seketika luntur saat matanya beradu pandang dengan Deo yang sedang menata piring di meja makan.
"Kamu?!" Bunga berteriak spontan, jarinya menunjuk ke arah Deo dengan wajah pucat pasi.
Rindo mengerutkan kening, menatap calon istrinya dan adiknya bergantian. "Kalian sudah saling kenal?"
Suasana makan malam yang seharusnya hangat berubah menjadi pengadilan yang sunyi. Dengan jujur namun tanpa nada dendam, Deo menceritakan apa yang terjadi di café waktu itu. Bunga mencoba membela diri, namun rekaman 𝘭𝘪𝘷𝘦 𝘴𝘵𝘳𝘦𝘢𝘮𝘪𝘯𝘨-nya yang masih tersimpan di internet menjadi bukti yang tak terbantahkan. Ia telah menghina seseorang yang ternyata adalah darah daging dari pria yang ingin ia nikahi.
Rindo adalah pria yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga di atas segalanya. Baginya, mencintai seseorang berarti juga menghormati asal-usulnya.
"Cinta tidak bisa dibangun di atas kasta, Bunga. Jika kau merendahkan adikku karena pekerjaannya, kau juga merendahkanku. Kau merendahkan ayah dan ibu yang membiayai sekolahku dengan keringat yang sama seperti yang dikeluarkan Deo di café itu," ucap Rindo tegas, meski matanya menyiratkan luka yang dalam.
Malam itu, pertunangan yang mereka rencanakan selama setahun hancur dalam hitungan menit. Rindo memilih untuk melepaskan Bunga, lebih baik mencari "dermaga" lain daripada hidup dengan seseorang yang memandang dunia dari menara gading.
Beberapa hari kemudian, di sebuah senja yang sunyi di taman kota, Bunga menemui Deo untuk terakhir kalinya. Kali ini tanpa kamera, tanpa pengikut fanatik, dan tanpa topeng keangkuhan.
"Maafkan aku, Deo... aku baru sadar, kasta yang sesungguhnya bukan pada harta, tapi pada cara kita memanusiakan manusia," bisiknya dengan mata berkaca-kaca.
Deo hanya tersenyum tipis, sebuah senyum tulus yang tidak butuh validasi dari siapa pun. "Sudah saya maafkan sejak hari itu, Mbak. Semoga Mbak menemukan bahagia yang tidak perlu menyakiti orang lain."
Mereka berpisah di bawah langit yang memerah. Bunga kembali ke dunianya yang gemerlap, namun konten-kontennya kini terasa hampa dan sepi. Sementara Deo tetap dengan kesederhanaannya, bekerja di café dengan hati yang damai. Mereka tetap hidup di kota yang sama, namun di semesta yang berbeda, membawa pelajaran bahwa waktu bisa menghapus kasta, namun tidak bisa menghapus bekas luka di jiwa.