Udara di koridor gedung salah satu kampus di Indonesia pagi itu terasa seperti disuntikkan nitrogen cair, dingin, beku, dan membuat paru-paru sesak. Ratusan remaja dengan kemeja putih rapi dan celana kain gelap tampak seperti barisan penguin yang gelisah. Di tangan mereka, kartu peserta UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) digenggam erat, seolah-olah kertas itu adalah tiket terakhir menuju masa depan.
Gabriel menyandarkan punggungnya di tembok pilar. Matanya tertuju pada barisan soal simulasi di layar ponselnya, namun pikirannya melayang ke angka-angka passing grade jurusan Teknik Informatika yang semakin tidak masuk akal tahun 2026 ini.
"Boleh pinjam pensil atau pulpen? Buat tanda tangan di daftar hadir nanti, punyaku tiba-tiba macet," sebuah suara lembut memecah konsentrasi Gabriel.
Gabriel menoleh. Di sampingnya berdiri seorang gadis dengan rambut diikat kuda yang sedikit berantakan. Wajahnya pucat, tipikal peserta ujian yang kurang tidur karena mengejar target skor 700+.
"Oh, ini. Ambil saja," jawab Gabriel sambil merogoh saku tasnya dan memberikan pulpen cadangan.
Gadis itu tersenyum tipis. "Makasih ya. Aku Arin. Gugup banget ya?"
"Gabriel. Iya, rasanya lebih horor daripada film pengabdi setan," seloroh Gabriel, berusaha mencairkan suasana.
Arin terkekeh, dan untuk sesaat, ketegangan di bahu Gabriel mengendur. Namun, obrolan mereka terputus saat pengawas ujian mulai memanggil peserta untuk masuk ke ruangan. Mereka ternyata berada di ruangan yang sama. Gabriel di kursi nomor 14, dan Aluna tepat di depannya, kursi nomor 13.
Di dalam ruangan, hanya ada suara detak jarum jam dan denting pelan papan ketik. Di layar komputer, waktu terus berkurang dengan kejam. Gabriel sedang bertarung dengan soal Penalaran Matematika yang terasa seperti bahasa alien. Ia melirik punggung Arin di depannya. Gadis itu tampak tegang, berkali-kali membenarkan posisi duduknya.
Tiba-tiba, Gabriel melihat bahu Arin bergetar kecil. Tak lama kemudian, terdengar isak lirih yang nyaris tak terdengar. Aluna menunduk, tangannya menutupi wajah. Sepertinya tekanan itu mencapai puncaknya. Soal-soal itu mungkin terasa seperti tembok raksasa yang mustahil dipanjat.
Gabriel tahu ia tidak boleh berbicara. Ia tahu setiap detik sangat berharga. Namun, melihat Arin hancur di depan matanya membuat logika Gabriel goyah. Ia teringat pulpen yang ia berikan tadi.
Gabriel meraih secarik kertas buram kecil yang sudah tidak terpakai di mejanya. Dengan gerakan sangat hati-hati agar tidak terlihat pengawas, ia menuliskan sesuatu dengan huruf besar:
"ISTIRAHAT 10 DETIK. TARIK NAPAS. KAMU SUDAH BERJUANG SEJAUH INI. LANJUTKAN!"
Ia sedikit menggeser kertas itu ke arah meja Arin saat pengawas sedang berjalan membelakangi mereka. Arin tersentak. Ia melihat kertas itu, membacanya, lalu perlahan menoleh sedikit ke arah Gabriel. Mata mereka bertemu sekejap…mata Arin yang basah bertemu dengan tatapan yakin dari Gabriel.
Arin mengangguk kecil. Ia menghapus air matanya, menarik napas panjang seolah sedang menghirup keberanian, dan kembali fokus ke layar komputer.
Ujian berakhir. Saat keluar dari ruangan, wajah-wajah lesu mendominasi koridor. Namun, Arin menunggu di dekat pintu. Begitu melihat Gabriel, ia langsung menghampirinya.
"Pulpenmu," ucap Arin sambil menyerahkannya kembali. "Dan... terima kasih untuk kertasnya. Itu menyelamatkan mentalku tadi."
Gabriel tersenyum lega. "Sama-sama. Bagaimana? Bisa?"
"Entahlah, yang penting sudah selesai. Kamu mau ke kantin? Aku butuh gula setelah otakku diperas habis-habisan," tawar Arin.
Gabriel mengangguk. Mereka berjalan beriringan meninggalkan gedung ujian. Di antara ribuan ambisi yang berserakan di ruang UTBK hari itu, ada sesuatu yang lebih lembut yang mulai tumbuh. Bukan tentang siapa yang mendapat skor tertinggi, tapi tentang dua orang asing yang saling menguatkan di titik terendah mereka.
Mungkin masa depan mereka tidak ditentukan oleh baris-baris kode atau rumus fisika, tapi oleh sebuah pertemuan sederhana di kursi nomor 14. Karena di ruang UTBK tahun 2026 itu, Gabriel tidak hanya mengerjakan soal masa depan, ia juga baru saja memulai sebuah cerita tentang rasa.