Sore itu, angin sepoi-sepoi menyapa daun-daun mangga di halaman rumah. Tomo, cowok tulen berusia 39 tahun yang punya predikat 'Jomblo 39 Tahun Berturut-turut'—sebuah rekor yang ngalahin cicilan KPR—lagi asyik nyeruput kopi manis di teras. Sebagai seorang dosen yang kalau lagi nggak ngajar malah sibuk nyangkul di sawah, momen ngopi manis di sore hari di Jember adalah sebuah kemewahan hakiki.
Tapi ketenangan itu ambyar seketika.
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara gemerisik daster yang bergesekan. Tiga sosok ibu-ibu dengan sanggul menantang gravitasi berjalan mendekat. Itu Bude Lastri, Tante Sum, dan Bulik Yayuk. Formasi lengkap. Pasukan elit pencari kelemahan batin.
"Eh, Tomo! Makin subur aja itu tanaman di sawah," sapa Bude Lastri basa-basi sambil nyomot pisang goreng di meja. Tomo cuma cengar-cengir.
Belum sempat Tomo menelan ludah, Tante Sum langsung mengeluarkan jurus pamungkas yang udah diasah sejak zaman Majapahit.
"Sawahnya subur, mahasiswanya di kampus juga pada pinter-pinter pasti diajarin kamu. Tapi... *kapan nikah*, Tom? Umur udah 39 lho. Itu KTP mau dianggurin terus statusnya?"
Jlebb. Pertanyaan itu meluncur mulus, menembus pertahanan dada Tomo, lalu belok sedikit ke arah ulu hati.
Tomo memperbaiki posisi duduknya. Dia sudah berlatih menghadapi momen ini sejak 15 tahun lalu. Dulu dia jawab, "Lagi fokus kuliah, Tante." Terus ganti, "Lagi fokus karir." Sekarang, alasan itu udah kedaluwarsa.
"Rencananya sih besok, Tante," jawab Tomo dengan wajah lempeng ala komedian srimulat. "Cuma sayang, besok tanggal merah. Kalendernya lagi cuti bersama. KUA-nya pada ikutan piknik."
Bulik Yayuk memutar bola mata. "Alah, kamu ini dari zaman nungguin hilal pakai teropong bambu sampai sekarang jawabannya ngeles terus. Nyari yang kayak gimana sih? Nyari bidadari yang turun mandi di Kali Brantas?"
"Bukan, Bulik," sahut Tomo sambil ngaduk kopi manisnya dengan tempo lambat, mencoba terlihat bijak bak filsuf dari Yunani, padahal hatinya kembang kempis.
"Tomo ini kan nungguin jodoh yang *download*-nya selesai. Kemarin pas mau selesai 99%, eh koneksi internetnya putus. Ya ngulang dari awal lagi deh prosesnya."
Bude Lastri geleng-geleng kepala. "Kamu ini ditanya serius malah bercanda. Buruan, keburu lele di empangmu itu pada bikin reuni akbar!"
Tomo akhirnya narik napas panjang. "Sebenarnya Bude, Tomo lagi nunggu antrean persetujuan dari PBB. Soalnya pernikahan Tomo nanti berpotensi mengguncang stabilitas dunia persilatan jomblo internasional."
Ketiga emak-emak itu akhirnya menyerah, mengomel panjang pendek sambil ngabisin sisa pisang goreng di piring, lalu ngeloyor pergi mencari mangsa lain yang mungkin lebih masuk akal untuk dinasihati.
Tomo tersenyum penuh kemenangan, menyeruput kembali kopi manisnya yang mulai dingin. Menang di luar, nangis di dalam. *Bisa-bisanya alasan kuota internet dipakai buat alasan jodoh*, batinnya miris.
***