Cleary tak pernah menyangka rindu bisa terasa seperti dosa.
Semua bermula dari hujan sore di sebuah kafe kecil saat Bertrand duduk di depannya, menatap dengan mata yang terlalu dalam untuk dianggap biasa.
Bertrand bukan lelaki yang seharusnya ia rindukan. Lelaki itu milik keadaan yang salah, waktu yang salah, dan mungkin… cinta yang salah.
“Aku harus pergi,” bisik Cleary waktu itu.
Tapi Bertrand menahan jemarinya. Hangat.
“Kalau pergi, jangan bawa hatiku.”
Sejak kalimat itu, Cleary tahu mereka sedang jatuh ke jurang yang sama.
Malam-malam mereka dipenuhi pesan yang tak seharusnya dikirim.
Aku rindu.
Aku juga.
Sesederhana itu, tapi cukup menghancurkan.
Bertrand selalu datang seperti candu. Dengan aroma parfum yang tinggal di bahu Cleary setelah pelukan singkat, dengan suara rendah yang membuat napasnya bergetar.
Suatu malam, mereka bertemu diam-diam di apartemen Bertrand.
Tak ada banyak kata.
Hanya tatapan yang bicara terlalu jujur.
Bertrand mendekat, menyentuh wajah Cleary seakan takut perempuan itu menghilang. Jarak di antara mereka runtuh perlahan ketika bibir mereka bertemu—ciuman yang lama tertahan, penuh lapar, penuh rindu yang tak punya tempat pulang.
Cleary gemetar.
“Ini salah…” bisiknya di sela napas.
“Tapi kenapa rasanya seperti rumah?” jawab Bertrand.
Malam itu mereka berpelukan lama di sofa, berbagi sunyi, berbagi detak jantung, berbagi sesuatu yang lebih berbahaya dari sekadar cinta.
Cleary merebahkan kepala di dada Bertrand.
“Apa kita akan menyesal?”
Bertrand mencium keningnya.
“Aku hanya menyesal mengenalmu saat semuanya sudah terlambat.”
Kalimat itu menikam.
Karena mereka tahu hubungan ini tak punya masa depan.
Hanya potongan-potongan pertemuan curian.
Pelukan terburu-buru.
Ciuman penuh perpisahan.
Dan rindu yang tumbuh seperti luka.
Sampai suatu malam Cleary menangis di dada Bertrand.
“Aku capek mencintaimu diam-diam.”
Bertrand memeluk lebih erat, seolah dengan itu ia bisa melawan takdir.
“Aku juga.”
Tapi cinta kadang tak cukup.
Mereka berpisah tanpa benar-benar melepaskan.
Bertahun-tahun kemudian, Cleary masih menyimpan surat terakhir Bertrand:
Kalau rindu ini terlarang, biarlah aku menjadi pendosa yang setia mencintaimu.
Dan setiap hujan turun, Cleary tahu—
ada rindu yang tak boleh dimiliki,
tapi tak pernah bisa mati.
Selesai