Pemakaman itu sepi.
Hanya suara tanah yang jatuh menimpa kayu peti, satu per satu, seperti menghitung semua penyesalan yang terlambat diucapkan.
Karin berdiri mematung di bawah payung hitam, jemarinya dingin, bibirnya pucat.
Di dalam peti itu, Gading.
Lelaki yang pernah ia cintai sampai lupa caranya menyelamatkan diri sendiri.
Lelaki yang pernah pergi… lalu kembali saat semuanya sudah terlalu rusak.
Orang-orang mulai pulang.
Tapi Karin tetap di sana.
Karena ada cinta yang bahkan kematian pun tak bisa membuatnya selesai.
Ia jongkok di dekat pusara yang masih basah.
Tangannya menyentuh nisan itu perlahan.
“Gading… aku datang.”
Suaranya pecah.
Dan kenangan mulai datang seperti banjir.
Tentang malam ketika Gading bilang, “Dari awal kita mungkin cuma kesalahan.”
Tentang Karin yang pura-pura kuat saat ditinggalkan.
Tentang pesan-pesan yang tak pernah lagi dibalas.
Tentang rindu yang ia peluk sendirian setiap malam.
Dan tentang hari Gading kembali…
membawa maaf.
Membawa sesal.
Membawa cinta yang terlambat.
“Aku mau kita mulai lagi, Karin.”
Saat itu Karin menangis, tapi menggeleng.
Karena hati yang pernah remuk, takut percaya pada tangan yang sama.
“Kita adalah kesalahan yang tidak ingin aku ulang.”
Itu kalimat terakhir yang ia berikan pada Gading.
Kalimat yang terus menghantuinya.
Karena seminggu setelah itu…
Gading meninggal.
Kecelakaan.
Mendadak.
Tanpa pesan terakhir.
Tanpa kesempatan memperbaiki apa pun.
Karin tak sempat bilang…
bahwa sebenarnya ia masih mencintainya.
Sangat.
Bahkan mungkin tak pernah berhenti.
Ia membuka tas kecilnya.
Di dalamnya ada surat lusuh, tak pernah dikirim.
Surat untuk Gading.
Tangannya gemetar saat membacanya di depan makam.
"Gading, kalau suatu hari kamu datang sekali lagi dan memintaku pulang, mungkin aku akan berhenti pura-pura kuat."
"Mungkin aku akan memelukmu."
"Mungkin aku akan bilang… jangan pergi lagi."
Air mata jatuh ke kertas.
Terlambat.
Semua terlambat.
Karin menempelkan dahinya ke nisan.
Menangis seperti seseorang yang kehilangan separuh nyawanya.
“Aku bohong waktu bilang aku tak ingin mengulang kita…”
“Aku mau, Gading…”
“Aku mau mengulang semuanya…”
“Asal kali ini kamu jangan mati.”
Angin sore berembus.
Daun-daun berguguran.
Seolah semesta ikut berduka.
Sejak hari itu, Karin sering datang ke makam itu membawa dua cangkir kopi.
Satu untuk dirinya.
Satu untuk Gading.
Seperti dulu.
Seperti mereka belum berpisah.
Orang bilang waktu menyembuhkan.
Tapi tidak untuk Karin.
Karena yang hilang bukan sekadar seseorang.
Tapi kemungkinan.
Kemungkinan untuk memperbaiki.
Kemungkinan untuk kembali.
Kemungkinan untuk bilang aku masih cinta.
Dan itu yang paling menyakitkan.
Bukan kehilangan orang yang pergi.
Tapi kehilangan kesempatan untuk mencintainya sekali lagi.
Di batu nisan itu tertulis nama:
Gading Pratama
1995–2023
Di bawahnya, diam-diam Karin pernah menulis dengan spidol kecil, lalu membiarkannya luntur oleh hujan:
Kita memang kesalahan.
Tapi kaulah kesalahan yang paling aku rindukan untuk kuulang.
Tamat