Raka hafal benar jalanan ibu kota yang berasap, macet, dan bising. Bukan karena dia senang, tapi karena setiap hari dia menyusuri gang sempit di belakang pasar, menggandeng Rani dan Rina, menuju warung nasi tempat ibunya mencuci piring.
“Raka, jaga adik ya,” pesan Sri setiap pagi, tangannya merah dan pecah-pecah karena sabun cuci.
Raka hanya mengangguk. Dia sudah terbiasa. Di usia 12 tahun, bahunya sudah memikul beban yang terlalu besar. Menjemur baju, memasak mi instan untuk adik-adiknya, mengajari mereka mengeja huruf di kardus bekas yang ditulisi arang. Sekolah? Raka putus di kelas 4 SD. Uang hanya cukup untuk biaya hidup seadanya.
Mereka kabur dari desa dua tahun lalu. Sang ayah sering memukul. Suatu malam, Sri menggigit bibirnya sampai berdarah, menggendong Rina, menarik Rani, dan membisikkan Raka, “Kita pergi, Nak. Jangan berisik.” Sejak itu, hidup mereka adalah gubuk reyot di bantaran kali, tiga kali makan jika beruntung, dan tawa kecil Rani-Rina yang menjadi satu-satunya alasan Raka tetap tegar.
“Bang Raka, kapan kita punya rumah?” tanya Rina polos suatu sore.
Raka mengusap rambut adiknya. “Nanti, kalau Ibu sudah kaya.”
Di balik dinding tipis, Sri mendengar. Dia menangis tanpa suara.
Suatu siang, saat Sri sedang menyetrika pakaian di rumah Bu Mira—majikan yang baik hati—dua pria dan satu wanita berdiri di depan gubuk mereka. Pak Bambang dan tim.
“Ibu Sri? Kami dari Dinas Sosial. Ada laporan anak-anak telantar.”
Raka menghalangi pintu. “Kami tidak telantar. Ibu kami bekerja.”
Rani dan Rina bersembunyi di balik punggung Raka, mata bulat mereka penuh ketakutan.
Pak Bambang menghela napas. “Maaf, Nak. Aturan harus ditegakkan. Kalian belum sekolah, kondisi rumah tidak layak. Ibu kalian belum punya penghasilan tetap yang diakui.”
Sri tiba setengah jam kemudian, langsung berlutut di depan mereka. “Jangan ambil anak-anak saya! Saya sedang berusaha. Saya kerja apa saja, cuci piring, bersih-bersih rumah—“
“Ibu bisa mengajukan permohonan ke pengadilan,” potong Pak Bambang, suaranya datar. “Tapi untuk sementara, anak-anak harus ditempatkan di panti asuhan.”
Raka berteriak. Dia menggigit tangan Pak Bambang. Menendang. Tapi tubuh kecilnya mudah dijinakkan. Pemandangan terakhir yang dia lihat sebelum mobil dinas melaju adalah Ibu Sri tersungkur di lumpur, kedua tangannya meraih udara kosong.
Tiga bulan di Panti Asuhan Kasih Bunda terasa seperti tiga abad. Rani dan Rina menangis setiap malam. Raka diam. Hanya diam. Hatinya penuh amarah. Dia benci Pak Bambang, benci aturan, benci ketidakadilan. Tapi di sudut lain, diam-diam dia masih berdoa.
Sri tidak diam. Dia bekerja lebih keras. Mulai dari asisten rumah tangga harian, lalu belajar membuat kue risoles dari Bu Mira, hingga akhirnya bisa menyewa lapak kecil di depan pasar. Setiap malam dia mengirimkan surat kepada pengadilan, memohon sidang hak asuh.
“Saya bukan ibu yang sempurna,” tulisnya dalam satu surat. “Tapi saya ibu mereka. Saya tidak pernah tega dipisahkan.”
Akhirnya sidang digelar. Ruangan pengadilan sederhana itu penuh sesak. Raka, Rani, Rina duduk di bangku sebelah kiri, didampingi petugas panti. Di sebelah kanan, Sri duduk sendiri, memegang buku tabungan kecil berisi hasil jualan kue, serta surat keterangan usaha dari Bu Mira.
Hakim bertanya, “Raka, kamu mau ikut siapa?”
Raka menatap ibunya yang kurus dan kusam, lalu menatap adik-adiknya yang masih gemetar.
“Saya ingin pulang, Pak,” suaranya parau. “Saya dan adik-adik saya. Kami tidak butuh kemewahan. Kami butuh Ibu.”
Rani dan Rina ikut menangis. Ruangan hening. Pak Bambang yang hadir sebagai saksi, diam-diam menyeka sudut matanya.
Hakim mengetuk palu. “Hak asuh dikembalikan kepada Ibu Sri. Namun dengan syarat, anak-anak harus terdaftar di sekolah paling lambat satu bulan. Dinas Sosial akan memantau.”
Akhirnya pulang.
Malam itu, mereka kembali ke gubuk reyot. Namun gubuk itu sudah berbeda. Bu Mira dan tetangga lain membantu mengecat dinding, memberi kasur tipis, dan rak buku kecil. Sri menangis haru.
“Ibu dapat kerja tetap, Nak,” bisiknya sambil memeluk Raka erat. “Ibu diterima jadi pegawai dapur di kantor kelurahan. Gaji cukup. Kita bisa mulai lagi.”
Raka tidak bisa bicara. Pelukan ibunya terasa seperti obat untuk semua luka. Dia menangis untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Beberapa tahun kemudian, Raka lulus SMA dengan beasiswa. Rani dan Rina menjadi siswa berprestasi di SD-nya. Sri telah menjadi kepala dapur di kantor kelurahan, dengan rumah kontrakan kecil yang bersih dan hangat.
Setiap hari Minggu, mereka selalu duduk bersama di teras rumah. Raka menggenggam tangan ibunya yang kini sudah halus, tidak pecah-pecah lagi.
“Ibu,” ucap Raka pelan.
“Iya, Nak.”
“Terima kasih sudah tidak pernah menyerah.”
Sri tersenyum. Matanya berkaca-kaca. “Ibu hanya tahu satu hal, Nak. Dunia boleh keras, tapi Ibu tidak akan pernah tega jauh dari kalian.”
Mentari sore menyinari mereka berempat. Pilu telah berlalu. Bahagia itu sederhana: tetap bersama.