THE STORY OF MY LIFE.
Aku aku ini apa? Aku ini siapa?
Kawan… inilah aku.
Di usia 12 tahun, aku lulus SD dan tak lagi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bukan hanya karena kemiskinan, tapi juga kondisi fisikku aku yang mengalami polio sejak berusia 1 tahun sehingga aku tak bisa naik sepeda. Sedangkan untuk bisa pergi ke sekolah yang letaknya jauh dari desa tempat tinggalku, itu harus bisa naik sepeda. Pupus sudah harapanku untuk melanjutkan pendidikan. Aku bersedih tapi tak bisa berbuat apapun.
Dua tahun kemudian aku menerima tawaran untuk bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga. Bukan hanya sekedar Surabaya atau Jakarta, tapi di Bumi Cendrawasih, pulau yang berada di paling ujung timur Indonesia. Di sanalah aku bisa melanjutkan pendidikan dengan perjanjian tidak mendapatkan gaji selama menempuh pendidikan, dan aku menerima kesepakatan itu.
Tiga tahun berturut-turut sekama SMP menjadi juara kelas membuat majikanku bannya. Di tahun ke-empat berada di Bumi Cendrawasih, dan masih duduk di bangku kelas satu SMA, aku pulang. Bukan karena keinginan, tapi karena huru-hara yang terjadi di sana pada waktu itu. Terpaksa aku kembali mengubur impian untuk melanjutkan pendidikan.
Karena kondisi ekonomi kedua orang tuaku, aku pergi bekerja ke Kota Pahlawan. Dengan profesi yang sama, pembantu rumah tangga. Profesi yang sama sekali tak bisa dibanggakan, namun cukup untuk aku bisa meringankan beban kedua orang tuaku, sekaligus membiayai pendidikan adik-adikku.
Pernah berkali-kali berhenti karena ada lamaran yang datang dari beberapa laki-laki. Tetapi kembali lagi ke kota karena mereka semua akhirnya mundur saat mengetahui kondisi fisikku.
Julukan “Perawan Tua” pun tersemat untukku.
Namun, aku tak peduli semua itu. Dengan langkah ringan aku selalu kembali ke kota setiap kali lamaran dibatalkan. Aku bahkan pernah berkata pada diriku sendiri, tidak masalah aku hidup tanpa suami seumur hidupku. Aku tidak membutuhkan mereka, aku bisa menghidupi diriku sendiri.
Hingga ketika 12 tahun sudah aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga, lamaran kembali datang. Aku sudah pesimis. Aku bahkan pulang hanya sekedar pulang. Tidak membawa pakaianku, karena aku merasa lamaran itu pun pasti akan batal. Karena aku yakin pasti akan kembali ke kota.
Namun, Siapa yang akan menduga, hari itulah aku ditemukan dengan jodohku. Bukan orang kaya, bukan tuan muda yang jatuh cinta pada pelayannya seperti di bukuku yang berjudul
DITIPU KEKASIH, DINIKAHI TUAN MUDA KAYA
Tapi dialah yang terbaik yang disiapkan oleh Tuhan untukku. Dia yang melindungiku dari panas dan hujan, dia yang memastikan perutku tidak kelaparan, dia yang menghapus air mataku dikala duka, dan dia yang menemaniku tertawa ketika bahagia. Bersamanya aku merasakan pahit getir kehidupan, bersamanya saat ini aku memiliki dua orang anak sedang berusia 21 tahun dan 14 tahun.
Semua berjalan mulus pada awalnya, hingga ujian itu datang ketika anak bungsu ku duduk di bangku TK. Suamiku, tulang punggung keluargaku, mengalami cedera pada lututnya dan tak lagi bisa bekerja. Sedangkan kehidupan kami harus tetap berjalan. Anak-anakku butuh biaya sekolah.
Tidak apa-apa… tidak apa-apa… ucapku kala itu mensugesti diri sendiri. Kamu sudah berjuang cukup lama, mungkin saatnya kamu istirahat sejenak. Sekarang giliranku berdiri tegak. Aku bekerja semampuku. Berjualan lauk keliling dengan sepeda ontel yang aku beli dari pengepul barang bekas.
(Sebagai catatan, aku baru bisa belajar naik sepeda ontel di usia 18 tahun, sepulang dari Papua-- kala itu namanya masih Irian Jaya- dengan uang santunan yang diberikan oleh majikanku).
Baru dua bulan aku berjualan, dengan penghasilan yang tak menentu. Bahkan bisa dibil6jauh dari cukup. Aku mendapat tawaran untuk bekerja sebagai perwat lansia. Aku menerimanya tanpa pikir panjang. Gaji yang sudah pasti, tidak perlu berhitung modal, untung, atau rugi. Benar-benar baik. Aku mulai bisa bernafas lega.
Namun ternyata, ujian kembali datang. Sebuah kecelakaan terjadi dan aku mengalami patah tulang pada kaki kananku. Kondisi perekonomian kami semakin buruk. Suamiku yang hanya bisa bekerja alakadarnya, dan aku yang tak lagi bisa membantu apa-apa. Namun, aku selalu percaya; akan ada hikmah di balik musibah.
Dan... seperti kata Ibu Kita Kartini; HABIS GELAP TERBITLAH TERANG, dari sinilah petualanganku sebagai seorang penulis novel dimulai. Aku yang hanya bisa berbaring di atas kasur sambil bermain HP. Hingga dalam berbaring diam ku, aku bertemu dengan aplikasi NOVELTOON. Keinginan untuk menjadi berguna kembali muncul.
Bukan sesuatu yang mudah. Entah berapa banyak buku yang kuhapus karena tidak ada pembaca, lalu aku rilis ulang di lain hari. Hingga cahaya itu datang. Untuk pertama kalinya ceritaku lolos sebagai Bab 20 terbaik di buku berjudul
SELEPAS TALAK TIGA.
Dari sanalah segalanya mulai berjalan lancar, dan terus berjalan hingga saat ini. Kaki suamiku juga berangsur sembuh. Bukan berarti semua masalah selesai, bukan berarti tinggal duduk o gkang kaki. Jalan itu masih terjal. Namun, ada banyak lampu menyala di sepanjang jalan yang aku lewati. Aku tak perlu takut gelap.
Yang paling membuatku berkesan, dari NOVELTOON ini pula aku mengenal kalian semua. Bukan sanak bukan saudara, tapi menjadi tempat berbagi cerita. Tidak pernah bertatap muka, tetapi bisa menjadi kawan bengek bersama.
Semoga persaudaraan dan persahabatan kita ini tak lekang oleh waktu.
*
*
*
Selamat HARI KARTINI untuk Ibu-ibu seluruh Indonesia.