Di sebuah kerajaan Eropa kuno bernama Eldoria, hiduplah seorang putri yang sangat cantik dan berhati lembut, Putri Aurelia.Ia dicintai rakyatnya karena kebaikan dan keberaniannya.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Dari Gunung Avern yang gelap, bangkit seekor naga raksasa bernama Drakonis.Sisiknya hitam seperti malam, matanya menyala merah, dan napasnya mampu membakar hutan dalam sekejap.
Suatu malam, naga itu turun ke kerajaan… dan menculik Putri Aurelia.
Raja Eldoria mengumumkan sayembara“Siapa pun yang dapat menyelamatkan putriku… akan mendapatkan setengah kerajaan dan tangannya dalam pernikahan!”
Banyak ksatria mencoba.
Namun tak satu pun kembali.
Hingga suatu hari, datanglah seorang ksatria muda bernama Sir Leonhart.Ia tidak memiliki pasukan besar, hanya pedang tua dan keberanian yang tak tergoyahkan.
“Aku tidak datang untuk hadiah,” katanya.“Aku datang karena itu benar.”
Sir Leonhart menempuh perjalanan panjang melewati hutan gelap, sungai berarus deras, hingga akhirnya tiba di Gunung Avern.
Di dalam gua yang dipenuhi lava dan tulang belulang, ia melihat Putri Aurelia terkurung dalam menara batu.
Dan di depannya… Drakonis menjaga.
“Aku tahu kau datang,” suara naga bergema.
Sir Leonhart menghunus pedangnya.
“Aku datang untuk membawanya pulang.”
Pertarungan pun dimulai.
Api menyembur, batu runtuh, dan langit bergetar.Sir Leonhart hampir kalah berkali-kali… namun ia tidak menyerah.
Putri Aurelia, yang melihat dari menara, berteriak,
“Jangan lawan dengan kekuatan saja! Naga itu terluka di bagian dadanya!”
Dengan sisa tenaga, Sir Leonhart menyerang titik lemah itu.
Drakonis mengaum keras… lalu roboh.
Namun sebelum menghilang, naga itu berbisik,
“Aku… hanya menjaga kutukan…”
Sir Leonhart membebaskan Putri Aurelia.
Namun saat naga itu menghilang, tubuhnya berubah menjadi cahaya… dan perlahan menjadi manusia—seorang pria tua.
Ternyata, Drakonis adalah penjaga kuno yang dikutuk untuk menculik sang putri demi memecahkan ramalan.
Hanya keberanian sejati dan hati tulus yang bisa mengakhiri kutukan itu
Putri Aurelia kembali ke kerajaan dengan selamat.
Raja menepati janjinya, namun Sir Leonhart hanya tersenyum.
“Aku tidak butuh kerajaan… cukup melihatnya selamat.”
Aurelia menatapnya lembut.
“Lalu… bagaimana jika aku yang memilihmu?”
Dan sejak saat itu, bukan hanya kerajaan yang bersatu…
tetapi juga dua hati yang dipertemukan oleh keberanian dan takdir.
Keberanian sejati bukan hanya tentang kekuatan, tetapi tentang ketulusan hati dan niat yang benar.
Tamat.