Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang anak petani miskin bernama Raka.Hidupnya sederhana—terlalu sederhana.Kadang ia dan ibunya hanya makan sekali sehari.
Suatu sore, Raka menemukan seekor angsa buruk rupa di tepi rawa.Bulunya kusam, jalannya pincang, dan suaranya lirih seperti memohon pertolongan.
Raka menatapnya lama… lalu tersenyum.
“Aku nggak punya banyak, tapi… kita bisa berbagi.”
Ia membawa angsa itu pulang.
Hari-hari berlalu.Raka merawat angsa itu seperti sahabat sendiri.Ia berbicara padanya setiap malam, menceritakan mimpinya—tentang hidup yang lebih baik, tentang ingin membahagiakan ibunya.
Anehnya… angsa itu selalu diam mendengarkan, seolah mengerti.
Hingga suatu pagi, keajaiban terjadi.
Di sarangnya, angsa itu bertelur… telur emas.
Sejak saat itu, kehidupan Raka berubah.Ia bisa membeli makanan, memperbaiki rumah, bahkan membantu tetangga.
Tapi satu hal yang tak pernah berubah—cara Raka memperlakukan angsa itu.
Ia tetap menyayanginya… bukan karena emasnya.
Suatu malam, di bawah cahaya bulan purnama, angsa itu mendekati Raka.
Tiba-tiba… cahaya putih menyelimuti tubuhnya.
Raka mundur kaget.
“Jangan takut…”
Suara itu… bukan suara angsa.
Perlahan, sosok itu berubah.
Sayapnya menghilang, bulunya memudar, dan di hadapan Raka berdiri seorang pemuda tampan dengan mata lembut.
“Aku… Pangeran Elian.”
Raka terdiam.
Pangeran Elian tersenyum tipis.
“Aku dikutuk menjadi angsa karena kesombonganku.Aku hanya bisa kembali menjadi manusia… jika seseorang menyayangiku tanpa mengharapkan apapun.”
Ia menatap Raka penuh rasa hangat.
“Dan kau… melakukannya.”
Raka menggaruk kepalanya canggung.
“Aku cuma… nggak tega aja sih.”
Elian tertawa kecil.
“Aku harus kembali ke kerajaanku.Tapi… aku tidak ingin kehilangan satu-satunya sahabat yang tulus padaku.”
Ia mengulurkan tangan.
“Maukah kau ikut denganku?”
Raka terdiam lama.Ia menoleh ke arah ibunya… lalu kembali menatap Elian.
“Aku mau… tapi ibuku juga harus ikut.”
Elian tersenyum.
“Tentu.”
Sejak hari itu, Raka dan ibunya tinggal di istana.
Namun Raka tidak berubah.Ia tetap rendah hati, tetap sederhana, dan tetap menjadi sahabat bagi Elian—bukan sebagai rakyat… tapi sebagai keluarga.
Bersama, mereka membantu rakyat miskin, membangun desa-desa, dan membawa harapan bagi banyak orang.
Dan bagi Elian…
Ia akhirnya mengerti bahwa kekuatan terbesar bukanlah sihir atau kekayaan.
Melainkan… hati yang tulus seperti milik seorang anak petani bernama Raka.
Kebaikan yang tulus tanpa pamrih bisa mengubah takdir seseorang—bahkan mematahkan kutukan sekalipun.
Tamat.