Dinda Nada Aluna adalah definisi dari kebahagiaan yang berwujud manusia. Dengan kulit putih bersih, pipi chubby yang selalu merona merah muda, dan mata bulat yang jernih, ia memancarkan aura hangat di mana pun ia berada. Hidungnya yang sedikit pesek dan potongan rambut bob berponi membuatnya terlihat semakin manis. Namun, yang paling memikat adalah senyumnya—senyum lebar yang memperlihatkan lesung pipi indah, seolah-olah dunia ini tidak pernah memiliki masalah.
Dinda sangat dekat dengan Ayahnya. Bagi Dinda, Ayah adalah pahlawan, sahabat, dan tempat bersandar paling nyaman. Mereka sering tertawa bersama, berbagi cerita, dan berjalan bergandengan tangan. Namun, takdir berkata lain. Di sebuah pagi yang kelabu, dunia Dinda runtuh. Ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung yang mendadak.
Senyum manis itu perlahan memudar. Dinda yang dulu ceria kini sering menatap kosong. Ia merasa separuh jiwanya telah pergi bersama Ayah. Belum sempat ia mengobati lukanya, cobaan berat kembali datang. Ibunya, yang tak kuasa menahan kesedihan dan memiliki riwayat sakit paru-paru, akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Kini, Dinda yatim piatu. Hanya tersisa Kakak perempuannya yang berusaha menjadi pelipur lara, namun tidak ada yang bisa menggantikan kehangatan orang tua.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Adril Fajar Kazamzi. Pria tampan dengan hati yang selembut sutra. Adril mencintai Dinda dengan tulus. Ia berusaha mengembalikan warna-warni dalam hidup gadis itu. Adril tahu betapa rapuhnya hati Dinda, maka ia menjaganya dengan sangat hati-hati. Di pelukan Adril, Dinda belajar tersenyum kembali. Lesung pipinya kembali terlihat, meski tidak seceria dulu. Dinda berpikir, mungkin Tuhan masih menyisakan kebahagiaan untuknya dalam wujud Adril.
Namun, kesedihan seakan tak ingin melepaskan Dinda.
Suatu sore, hujan turun sangat deras. Adril pulang dari tempat kerja dengan hati yang ingin segera bertemu Dinda. Tapi, takdir kejam kembali berputar. Sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa Adril dalam sekejap.
Saat mendengar kabar itu, tubuh Dinda lemas seketika. Hatinya hancur berkeping-keping, lebih parah dari sebelumnya. Ayah, Ibu, dan kini Adril... semua orang yang ia cintai pergi meninggalkannya satu per satu. "Kenapa Tuhan begitu kejam padaku?" bisiknya dalam tangis yang tak bersuara.
Sejak hari itu, Dinda benar-benar berubah. Gadis ceria itu lenyap entah ke mana. Ia lebih sering menyendiri di kamar, diam, dan wajahnya selalu pucat. Matanya yang dulu bulat dan berbinar kini terlihat sayu dan kosong. Rasa sakit yang mendalam menggerogoti jiwanya perlahan. Kakaknya sangat khawatir, namun Dinda hanya bisa menggelar lemah saat ditanya apa yang dirasakannya.
Hingga pada suatu pagi, kakaknya mengetuk pintu kamar Dinda berkali-kali namun tak ada jawaban. Saat pintu didobrak, pemandangan yang menyambut membuatnya menjerit ngeri.
Dinda tergeletak tak berdaya di lantai. Tubuhnya dingin, dan darah segar mengalir deras dari hidungnya membasahi lantai kamar.
"Dinda!! Bangun Dinda!!" teriak kakaknya histeris.
Dinda segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter berlari kesana-kemari, melakukan segala upaya. Namun, setelah serangkaian pemeriksaan, hasilnya keluar dan membuat seluruh keluarga merasa dunia telah berakhir.
Kanker Otak Stadium Akhir.
Dokter menjelaskan bahwa tumor di kepalanya telah tumbuh sangat besar dan menyebar. Rasa sakit yang Dinda rasakan selama ini bukan hanya sakit hati, tapi juga rasa sakit fisik yang luar biasa yang ia pendam sendiri. Mungkin karena terlalu banyak menangis, terlalu banyak beban, atau memang takdir yang sudah tertulis, penyakit itu berkembang sangat cepat hingga tak ada lagi yang bisa dilakukan.
Dinda terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Napasnya tersengal-sengal. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata yang mulai kabur. Dalam benaknya yang mulai samar, ia melihat bayangan Ayah yang tersenyum memanggilnya, Ibu yang merentangkan tangan, dan Adril yang menunggunya dengan senyum tampannya.
"Ayah... Ibu... Adril... aku datang..." bisiknya sangat pelan.
Tangannya yang dingin tergolek lemah. Napasnya perlahan berhenti. Jantung gadis malang itu berhenti berdetak. Senyum tipis terukir di wajah chubby-nya, seolah ia akhirnya menemukan kedamaian abadi.
Dinda Nada Aluna pergi untuk selamanya.
Ia dimakamkan di samping makam Ayah dan Ibunya. Di tanah yang sama, di bawah naungan langit yang sama. Gadis dengan rambut bob dan lesung pipi itu kini tertidur pulas, jauh dari rasa sakit, jauh dari air mata, bersatu kembali dengan orang-orang yang paling ia cintai di surga.
Hanya tinggal kenangan manis dan air mata yang tak kunjung kering bagi mereka yang ditinggalkan.