Namaku Jingga. Aku lahir tepat saat fajar menyingsing, saat dunia baru saja membuka mata dan warna emas mulai merayap di ufuk timur. Namun, anehnya, jiwaku selalu tertuju pada senja. Sejak aku mengerti apa itu warna dan keindahan, bagiku senja adalah definisi dari segala keelokan yang Tuhan ciptakan. Ia adalah lukisan Tuhan yang tak pernah habis untuk dipuja.
Setiap hari, aku tak pernah bosan duduk di bibir pantai, membiarkan angin membelai rambut, hanya untuk menunggu detik-detik ketika matahari mulai pamit. Bagiku, senja adalah kesempurnaan yang singkat namun abadi dalam ingatan.
Hingga pada suatu sore, di tengah gradasi warna oranye dan ungu yang memikat, hadir sesosok pria di hadapanku.
Wajahnya tampan dengan garis tegas, rambutnya lurus sebahu yang bergerak lembut ditiup angin. Matanya sayu, seolah menyimpan ribuan cerita yang tak ingin ia ucapkan, namun memancarkan keteduhan yang sulit dijelaskan. Hidungnya mancung, alisnya tebal, dan kulit sawo matangnya bersinar hangat diterpa sisa cahaya matahari. Aku menamainya Langit.
Tapi, Langit berbeda denganku. Ia adalah sosok yang membenci senja.
"Senja itu perpisahan, Jingga," ucapnya pelan suatu hari, suaranya berat dan terdengar rapuh. "Ia datang hanya untuk memberitahu bahwa segalanya akan segera berakhir, digantikan oleh kegelapan."
Baginya, senja adalah pengingat yang kejam. Senja mengingatkannya pada kepergian ibunya, satu-satunya orang yang paling ia cintai di dunia ini. Saat dunia Langit runtuh, saat ia merasa hancur lebur ditinggalkan oleh orang yang sangat ia cintai, senja hadir sebagai saksi bisu kepedihannya.
Dan luka itu semakin dalam. Di saat ia paling rapuh, tepat setelah ibunya tiada, Evelyn—wanita yang pernah ia percaya—mengkhianati kepercayaannya. Pengkhianatan itu datang seperti badai yang menghancurkan sisa-sisa kekuatannya. Sejak saat itu, warna-warni senja yang indah bagiku, hanyalah warna darah dan air mata baginya.
Perkenalan kami singkat, seperti hembusan angin yang lewat. Kami menjadi sahabat. Aku menjadi pendengar setianya, tempat ia mencurahkan segala gundah. Aku belajar mencintai diamnya, aku belajar mengobati lukanya dengan kehadiranku. Namun, di balik tawa dan obrolan kami, ada perasaan yang tumbuh diam-diam di sudut hatiku.
Aku jatuh cinta pada Langit.
Aku mencintainya dengan cara yang paling sunyi. Mencintai seseorang yang hatinya masih dipenuhi oleh bayang-bayang masa lalu, seseorang yang masih sibuk menyembuhkan luka yang belum kering. Aku berharap, warnaku—warna jingga—bisa sedikit demi sedikit meluluhkan tembok tinggi yang ia bangun. Aku berharap bisa menjadi alasan baginya untuk mencintai senja kembali.
Tapi, cinta kadang memang tidak seindah puisi. Langit mungkin menyukaiku, mungkin menganggapku rumah tempatnya pulang, tapi ia belum siap untuk mencintaiku. Hatinya masih terlalu sibuk berdamai dengan rasa kehilangan, dan aku hanyalah pelangi yang muncul sesaat setelah badai berlalu—indah dipandang, namun tak bisa ia genggam.
Hingga akhirnya, hari perpisahan itu tiba.
Sore itu, langit berwarna lebih kelam dari biasanya, seolah ikut merasakan apa yang akan terjadi. Kami duduk berdampingan di tempat biasa, di mana pasir putih bertemu dengan ombak yang tak pernah lelah.
"Aku harus pergi, Jingga," bisiknya. Suaranya bergetar, matanya yang sayu kini berkaca-kaca. "Aku harus pergi untuk mencari diriku yang hilang. Aku tidak bisa terus begini, dan aku tidak bisa menyeretmu ke dalam gelapku."
Aku menahan dadaku yang terasa sesak, menahan air mata agar tidak jatuh membasahi pipi. "Pergilah, Langit. Terbanglah tinggi. Mungkin di sana, kau akan menemukan kedamaian yang tak bisa kuberi."
Ia menatapku lama, tatapan yang penuh rasa syukur dan penyesalan. "Terima kasih telah menjadi warna di hariku yang abu-abu. Terima kasih telah mengajarkanku bahwa senja tidak selalu tentang perpisahan, tapi juga tentang keindahan yang pernah ada. Maafkan aku yang belum bisa menjadi matahari untukmu."
Aku tersenyum, meski hatiku hancur berkeping-keping. "Kau adalah langit, Langit. Dan aku hanyalah jingga yang sesaat menghiasimu. Kita indah saat bersatu, tapi kita punya jalan masing-masing. Ingatlah, di mana pun kau berada, setiap kali senja datang, itu adalah aku yang sedang menyapamu."
Langit berdiri, melambaikan tangan untuk terakhir kalinya. Ia pergi menjauh, membiarkan bayangannya semakin kecil dan akhirnya hilang ditelan garis cakrawala.
Matahari akhirnya benar-benar tenggelam. Warna jingga di langit perlahan memudar, berganti menjadi biru tua lalu hitam. Angin berhembus lebih dingin. Aku tetap duduk di sana, sendirian.
Senja hari itu adalah yang terindah sekaligus yang tersedih. Ia mengajarkanku bahwa mencintai bukan berarti memiliki, dan perpisahan adalah cara alam mengajarkan kita akan arti sebuah kehadiran.
Langit telah pergi meninggalkan jingganya. Dan aku, akan tetap di sini, menjadi warna yang selalu setia menunggu, meski tahu bahwa langit tak akan pernah benar-benar milikku.
Selesai.