Kaca besar di lantai 57 gedung perkantoran pusat Jakarta itu menampilkan pantulan seorang wanita dengan gaun sutra berwarna biru dongker. Namanya Arini. Di usianya yang ke-28, ia adalah definisi dari wanita sempurna: cerdas, elegan, dan merupakan otak di balik kesuksesan suaminya, Adrian, seorang CEO muda yang namanya selalu menghiasi sampul majalah bisnis.
Namun, di balik polesan lipstik merah yang sempurna, Arini menyimpan sebuah luka yang menganga lebar. Luka yang setiap harinya berdenyut, mengingatkannya pada malam di mana ia menemukan pesan-pesan mesra di ponsel Adrian dari seorang sekretaris baru bernama Meira.
"Rasanya seperti disayat sembilu, lalu ditaburi garam," bisik Arini pada pantulannya sendiri.
Sudah setahun sejak ia mengetahui perselingkuhan itu. Adrian telah bersujud, menangis, dan berjanji akan berubah. Sebagai wanita yang mencintai dengan seluruh energinya, Arini mencoba memaafkan. Ia mencoba berdamai dengan rasa sakit itu. Namun, trauma bukanlah debu yang bisa disapu sekali jalan. Setiap kali Adrian pulang terlambat, setiap kali ponsel pria itu bergetar, jantung Arini seolah berhenti berdetak. Trauma itu menghantuinya, membisikkan bahwa ia tidak cukup cantik, tidak cukup menarik, dan tidak cukup berharga.
Arini tidak ingin membalas dendam dengan cara yang kotor. Ia tidak ingin melabrak Meira di depan umum atau menyewa orang untuk mencelakai mereka. Ia hanya berdoa. Ia mencoba melupakan perlahan, meski bayangan mereka bersama sering kali muncul tanpa diundang di tengah mimpinya.
Namun, semesta punya caranya sendiri untuk memberikan keadilan bagi hati yang sabar.
---
Pagi itu, Adrian sedang mempersiapkan rapat pemegang saham terbesar dalam sejarah perusahaannya. Jika kesepakatan ini berhasil, ia akan menjadi pengusaha termuda yang masuk dalam daftar orang terkaya di Asia.
"Sayang, doakan aku ya," kata Adrian sambil merapikan dasinya. Ia tampak percaya diri, seolah-olah pengkhianatannya setahun lalu tidak pernah meninggalkan bekas luka pada istrinya.
Arini tersenyum tenang. "Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Mas. Apa pun yang kamu tanam, itulah yang akan kamu tuai."
Adrian tidak menyadari makna ganda dalam ucapan itu. Ia melangkah keluar dengan angkuh. Ia tidak tahu bahwa selama setahun ini, sambil Arini "berdamai" dengan rasa sakitnya, ia juga mulai menarik kembali seluruh dukungannya. Selama ini, Arini-lah yang mengelola aset pribadi Adrian, yang mengatur lobi-lobi politik perusahaan, dan yang memegang kunci akses ke investor-investor utama yang sebenarnya adalah kolega dari mendiang ayah Arini.
Saat rapat dimulai, suasana berubah tegang. Investor utama, Pak Danu, meletakkan sebuah map di depan Adrian.
"Adrian, kami telah meninjau kembali laporan audit independen yang dikirimkan kepada kami pagi ini," kata Pak Danu dengan nada dingin.
Adrian mengerutkan kening. "Laporan audit? Semuanya bersih, Pak."
"Bersih? Di sini tertulis ada aliran dana perusahaan sebesar 5 miliar rupiah yang masuk ke rekening seorang wanita bernama Meira dalam satu tahun terakhir. Digunakan untuk pembelian apartemen mewah dan perhiasan. Apakah ini bagian dari operasional perusahaan?"
Wajah Adrian memucat seketika. Ia melirik ke arah Meira yang duduk di pojok ruangan dengan wajah yang tak kalah pucat. Pengeluaran-pengeluaran itu ia lakukan dengan sangat rapi, atau begitulah pikirnya. Ia lupa bahwa Arini adalah seorang akuntan forensik yang handal sebelum mereka menikah.
"Ini... ini pasti ada kesalahan," gagap Adrian.
"Kesalahan lainnya adalah," sela Pak Danu, "bahwa 60% saham yang kamu klaim milikmu, secara hukum adalah milik Arini berdasarkan perjanjian pranikah dan hibah saham dari ayah mertuamu yang telah diperbarui tahun lalu. Dan pagi ini, Arini telah menandatangani surat pengalihan dukungan kepada dewan direksi yang baru."
Pintu ruang rapat terbuka. Arini melangkah masuk dengan langkah mantap. Tidak ada lagi raut wajah sedih atau mata yang sembab karena trauma. Ia tampak sangat berkuasa.
"Mas Adrian," kata Arini dengan suara yang jernih namun setajam silet. "Aku sudah memaafkan perbuatanmu secara pribadi. Aku sudah mendoakanmu agar kamu bertaubat. Tapi, memaafkan bukan berarti membiarkanmu terus menggunakan fasilitas yang aku berikan untuk memanjakan wanita lain."
"Ri, apa yang kamu lakukan? Kita bisa bicarakan ini di rumah!" teriak Adrian frustrasi.
"Rumah? Rumah yang mana, Mas? Rumah yang kamu beli dengan uang ayahku, tapi kamu jadikan tempat untuk mengkhianatiku?" Arini menggeleng pelan. "Aku sudah mencoba melupakan, tapi traumaku mengingatkanku bahwa aku harus melindungi diriku sendiri. Hari ini, kamu bukan lagi CEO dari perusahaan ini. Dewan direksi telah sepakat untuk memberhentikanmu secara tidak hormat karena penggelapan dana."
Meira mencoba mendekat, "Mbak Arini, tolong..."
Arini menatap Meira dengan tatapan rendah. "Jangan panggil aku Mbak. Kamu bukan saudaraku. Kamu hanya salah satu bukti bahwa harga diri seorang pria bisa dibeli dengan sangat murah. Silakan bawa barang-barangmu, dan jangan lupa, apartemen itu sudah disita oleh bank karena cicilannya menggunakan dana ilegal."
---
Satu bulan kemudian.
Adrian duduk di sebuah kontrakan kecil di pinggiran kota. Ia kehilangan segalanya: jabatan, harta, dan reputasi. Namanya dicoret dari dunia bisnis. Teman-temannya menghilang. Dan Meira? Wanita itu meninggalkannya begitu tahu Adrian tidak lagi punya uang sepeser pun.
Setiap malam, Adrian teringat bagaimana Arini melayaninya dengan tulus, bagaimana Arini menemaninya dari nol, dan bagaimana ia dengan bodohnya membuang berlian demi sekerikil debu. Penyesalan itu datang terlambat, mencekik lehernya setiap kali ia melihat berita tentang kesuksesan Arini yang kini memimpin perusahaannya sendiri.
Sementara itu, Arini berdiri di balkon kantor barunya. Ia menarik napas dalam. Rasa sakit itu masih ada, sesekali trauma itu muncul saat ia melihat pria yang mirip dengan Adrian. Namun, rasa puas melihat keadilan ditegakkan telah memberikan obat penawar yang luar biasa.
Ia tidak membalas dengan selingkuh balik. Ia tidak membalas dengan kekerasan. Ia membalas dengan menjadi wanita yang tak terjangkau oleh pria pengkhianat seperti Adrian.
Arini tersenyum pada langit sore. Ia benar-benar telah berdamai. Bukan dengan melupakan kejadiannya, tapi dengan menyadari bahwa dirinya terlalu berharga untuk dihancurkan oleh kesalahan orang lain. Ia telah memaafkan, tapi ia tidak pernah lupa untuk mencintai dirinya sendiri lebih dari ia mencintai siapa pun.
Dan bagi Arini, melihat pengkhianat itu jatuh tanpa perlu ia kotori tangannya sendiri, adalah akhir cerita yang paling sempurna.