Matahari sore itu menggantung rendah di ufuk barat, menyiramkan warna jingga yang biasanya tampak indah, namun kali ini terasa seperti luka yang menganga. Bau karbol yang menyengat di lorong poli VCT rumah sakit itu seolah menjadi aroma permanen bagi mereka yang terpaksa akrab dengan jarum suntik dan obat-obatan seumur hidup.
Aku duduk di kursi plastik biru yang keras, menemani seorang kerabat jauh untuk kontrol rutin. Di tempat ini, setiap wajah menyimpan rahasia. Setiap mata menghindari kontak. Namun, ketenangan semu itu pecah oleh sebuah lengkingan tangis yang merobek udara.
"Kenapa, Gusti... Kenapa harus mereka?"
Suara itu berasal dari seorang wanita muda, mungkin usianya belum genap tiga puluh tahun. Ia sedang hamil besar, perutnya membuncit, kontras dengan tubuhnya yang terlihat sangat kurus hingga tulang pipinya menonjol tajam. Di sampingnya, empat anak kecil—yang tertua mungkin baru berumur tujuh tahun dan yang terkecil masih merangkak di lantai rumah sakit yang dingin—tampak bingung. Mereka tidak mengerti mengapa ibu mereka menangis histeris hingga tersujud di depan pintu ruang periksa.
Aku terdiam, hatiku mencelos. Aku mengenal wanita itu secara sekilas dari bisik-bisik perawat. Namanya Aminah. Suaminya baru saja meninggal dua minggu lalu. Kabar yang beredar di kampungnya, suaminya meninggal karena "sakit parah yang aneh". Namun di ruangan ini, kebenaran tidak bisa disembunyikan. Suaminya meninggal karena komplikasi AIDS.
Seorang perawat keluar dengan wajah yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan rasa lelah yang amat sangat. Ia memegang selembar kertas hasil laboratorium. Aminah mendongak, matanya merah dan sembab, mencari secercah harapan yang sebenarnya ia tahu tidak ada.
"Ibu Aminah," suara perawat itu pelan, nyaris berbisik. "Hasil tes anak-anak sudah keluar. Semuanya... positif."
Detik itu juga, dunia seolah berhenti berputar. Aminah meraung, memukul-mukul dadanya sendiri. Anak yang paling besar mulai ikut menangis melihat ibunya hancur, sementara si bungsu hanya menghisap jempolnya, menatap nanar pada kerumunan orang yang mulai memandang mereka dengan tatapan yang menyakitkan: perpaduan antara iba dan rasa jijik yang terselubung.
Inilah yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa muak hingga ke sumsum tulang. Kemarahan itu bukan kepada Aminah, melainkan kepada sosok pria yang sudah terkubur di dalam tanah itu. Pria yang demi kepuasan sesaat di luar sana, telah membawa pulang maut ke dalam rumahnya. Pria yang dengan egoisnya tidak hanya mengkhianati janji suci pernikahan, tapi juga merampas masa depan lima nyawa sekaligus—termasuk janin yang bahkan belum sempat melihat cahaya dunia.
"Bajingan," desis seorang bapak di sebelahku. Aku tidak menyalahkannya. Kata itu terasa terlalu ringan untuk menggambarkan pengkhianatan sebesar ini.
Bagaimana bisa seorang ayah tega membiarkan anak-anaknya yang masih suci harus menelan pil pahit setiap hari seumur hidup mereka? Bagaimana bisa ia menatap mata istrinya yang setia menunggu di rumah, sementara ia menyebarkan racun mematikan ke dalam rahimnya?
Anak-anak itu—si sulung yang seharusnya sedang belajar membaca, si nomor dua yang sedang aktif berlari, si nomor tiga yang masih cadel, dan si kecil yang lucu—kini resmi menjadi yatim dengan label yang akan membuat dunia menjauhi mereka. Mereka tidak bersalah. Mereka tidak memilih untuk lahir dari darah yang terinfeksi. Namun, mereka harus memikul dosa yang tidak pernah mereka perbuat.
Aminah mencoba memeluk keempat anaknya sekaligus, namun tenaganya seolah menguap. "Maafkan Ibu, Nak... Maafkan Ibu..." ratapnya.
Pemandangan itu memuakkan karena kita tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Di masyarakat kita, mereka bukan hanya akan berjuang melawan virus yang menggerogoti imun, tapi juga melawan stigma yang lebih mematikan daripada penyakit itu sendiri. Mereka akan dikucilkan, dijauhi dari sekolah, dan dipandang sebagai aib berjalan. Semuanya karena ulah satu orang pria yang merasa dirinya "berhak" untuk jajan di luar tanpa memikirkan nyawa keluarganya.
Lorong rumah sakit itu mendadak terasa sangat sempit. Aku melihat anak yang paling kecil mencoba menggapai tangan ibunya, tidak mengerti bahwa di dalam tubuh mungilnya, sebuah perang besar sedang dimulai. Perang yang kemungkinan besar akan ia kalahkan sebelum ia sempat dewasa.
Aku ingin marah. Aku ingin berteriak pada nisan pria itu. Namun yang tersisa hanyalah rasa mual yang hebat melihat kenyataan betapa murahnya nyawa seorang istri dan anak-anak di mata seorang lelaki hidung belang.
Sore itu, senja di ujung rumah sakit tidak lagi indah. Ia berwarna merah darah, seolah meratapi masa depan lima manusia yang dikubur hidup-hidup oleh pengkhianatan yang paling keji. Aminah masih menangis kejer, mendekap perutnya yang besar, menyadari bahwa bayinya pun akan lahir dengan vonis yang sama. Sebuah warisan dosa yang akan dibawa sampai mati.