Malam itu, hujan turun di Cibarusah dengan ritme yang lambat, seolah ikut merasakan beratnya isi kepala seorang perempuan bernama Dania. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu remang-remang, Dania duduk meringkuk di sudut tempat tidurnya. Tangannya melingkar kuat pada pundaknya sendiri, sebuah posisi yang sudah ia lakukan sejak kecil. Inilah pelukan paling tulus yang pernah ia rasakan: pelukan dari dirinya sendiri untuk dirinya yang hampir hancur.
Dania lahir dalam sebuah keluarga yang lengkap secara fisik, namun kosong secara jiwa. Sejak kecil, ia tidak memiliki saudara untuk berbagi cerita. Tidak ada kakak yang akan membelanya saat dirundung, tidak ada adik yang bisa ia ajak bicara tentang betapa dinginnya suasana meja makan orang tua mereka. Ia adalah anak tunggal yang dipaksa dewasa oleh keadaan. Di rumah itu, suara televisi lebih keras daripada suara percakapan antarmanusia.
"Tahan, Dania. Kamu sudah sampai sejauh ini," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya hampir hilang ditelan bunyi guntur di kejauhan.
Bagi Dania, hidup bukan sekadar menjalani hari, melainkan sebuah peperangan panjang melawan mentalnya sendiri. Ada suara-suara di dalam kepalanya yang sering kali lebih kejam daripada cacian orang lain. Suara yang membisikkan bahwa ia tidak cukup baik, bahwa kesendiriannya adalah sebuah hukuman, dan bahwa ia tidak akan pernah benar-benar dimengerti oleh siapa pun.
Kenangan masa kecil kembali menyerbu. Ia teringat saat berusia tujuh tahun, ketika ia pulang sekolah dengan lutut berdarah karena jatuh. Ia berlari ke dapur mencari ibunya, namun sang ibu hanya menatapnya sekilas sambil terus mengomel tentang harga beras yang naik. Tidak ada dekapan, tidak ada kata "tidak apa-apa". Dania kecil akhirnya masuk ke kamar, duduk di balik pintu, dan untuk pertama kalinya ia menyilangkan tangan di dada, mendekap tubuh kecilnya sendiri sambil terisak pelan. Sejak hari itu, ia belajar bahwa satu-satunya orang yang bisa ia andalkan untuk menguatkan dirinya adalah sosok yang ia lihat di cermin.
Beranjak dewasa, peperangan itu tidak mereda, justru semakin canggih. Depresi dan kecemasan adalah musuh yang tidak terlihat, namun sabetan pedangnya terasa nyata pada setiap sendi kehidupannya. Di kantor, Dania dikenal sebagai sosok yang pendiam namun pekerja keras. Teman-temannya menganggapnya mandiri, bahkan mungkin sedikit dingin. Mereka tidak tahu bahwa kemandirian itu adalah hasil dari ketiadaan pilihan. Mereka tidak tahu bahwa di balik wajah tenangnya, ada badai yang sedang mengamuk hebat.
"Semoga masih bisa bertahan," gumamnya sambil menatap langit-langit kamar.
Minggu ini terasa sangat berat. Masalah pekerjaan menumpuk, dan perasaan kesepian yang biasanya bisa ia jinakkan, tiba-tiba menjadi liar. Ia merindukan seseorang yang bisa ia hubungi saat malam-malam seperti ini. Seseorang yang hanya perlu mendengar, tanpa menghakimi, tanpa memberi nasihat-nasihat kosong seperti "kamu kurang ibadah" atau "jangan terlalu banyak pikiran". Tapi daftar kontaknya hanya berisi nama-nama rekan kerja dan penyedia jasa layanan pesan antar makanan.
Dania mencoba bangkit, melangkah menuju meja tulisnya. Ia mengambil sebuah buku harian yang sampulnya sudah mulai usang. Di sana, ia menuliskan segalanya. Tulisan itu bukan untuk dipublikasikan, melainkan sebagai cara baginya untuk mengeluarkan peluru-peluru pikiran agar tidak meledak di dalam kepalanya.
Hari ini, musuhku kembali kuat. Dia menggunakan topeng kesepian untuk menyerangku. Tapi aku masih bernapas. Aku masih di sini.
Saat sedang menulis, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari akun media sosialnya muncul. Seseorang yang tidak ia kenal mengirim pesan singkat: "Aku tidak tahu apa yang sedang kamu lalui, tapi terima kasih karena masih memilih untuk bertahan hari ini."
Pesan itu terasa seperti setetes air di padang pasir. Dania tertegun. Kadang, penguatan tidak datang dari saudara sedarah, tapi dari semesta yang bekerja dengan cara-cara yang tak terduga. Ia kembali memeluk dirinya sendiri, kali ini dengan sedikit lebih lembut. Ia menyadari bahwa peperangan ini mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai, tapi ia bisa menjadi prajurit yang lebih tangguh setiap harinya.
Ia teringat sebuah kutipan yang pernah ia baca: bahwa keberanian terbesar terkadang bukan tentang kemenangan besar, melainkan tentang suara kecil di akhir hari yang mengatakan, "Aku akan mencoba lagi besok."
Dania menarik napas dalam-dalam, merasakan udara mengisi paru-parunya. Dingin malam di Kabupaten Bandung masih terasa menusuk, tapi api kecil di dalam dirinya menolak untuk padam. Ia tidak punya saudara untuk mengadu, ia tidak punya pundak untuk bersandar, tapi ia punya diri sendiri—sosok yang telah menemaninya melewati ribuan malam kelam tanpa pernah menyerah.
"Terima kasih sudah bertahan, diriku," bisiknya.
Malam itu, di tengah peperangan mental yang melelahkan, Dania akhirnya bisa memejamkan mata. Ia tahu besok pagi musuh itu mungkin akan datang lagi dengan taktik yang berbeda, tapi ia juga tahu bahwa ia masih punya pelukan yang sama untuk menguatkan dirinya. Sebuah pelukan dari seorang pejuang yang menolak untuk kalah oleh sunyi.