Gaun putih itu tergantung kaku di sudut kamar, tampak megah namun bagiku ia terlihat seperti kain kafan yang siap membungkus masa depanku. Namaku Astinia. Nama yang indah, katanya diambil dari bahasa Yunani yang berarti bintang. Namun, kenyataannya, hidupku jauh dari cahaya bintang. Aku adalah hasil dari sebuah kesalahan masa lalu, atau dalam bahasa yang lebih kasar yang sering kudengar di balik bisik-bisik tetangga: aku adalah anak hasil zina.
Dunia mungkin sudah modern, tapi di ruang tamu rumahku, waktu seolah berhenti di abad pertengahan. Perdebatan itu sudah berlangsung selama tiga jam, dan ini adalah minggu keempat sejak prosesi lamaran yang seharusnya membahagiakan itu berubah menjadi medan perang.
"Astinia itu anakku! Darah dagingku! Aku yang membiayai sekolahnya dari TK sampai dia jadi sarjana! Kenapa sekarang aku tidak boleh menjadi walinya?" Suara itu menggelegar. Itu suara pria yang kupanggil Papa. Wajahnya memerah, urat lehernya menonjol.
Di hadapannya, calon mertuaku, Pak Baskoro, duduk dengan tenang namun raut wajahnya sekeras batu karang. "Kami menghormati kasih sayangmu, Pak. Tapi hukum tetaplah hukum. Dalam agama, anak yang lahir di luar pernikahan tidak memiliki hubungan nasab dengan ayahnya. Astinia tidak bisa diwalikan oleh Anda. Pernikahan mereka tidak akan sah secara syariat jika Anda memaksa maju."
"Tapi siapa yang tahu?" Ibu angkat bicara, suaranya gemetar. "Kita bisa merahasiakan ini. Di akta kelahiran Astinia, nama Papa ada. Di KKN pun ada. Urusan di KUA akan lancar-lancar saja kalau kita diam."
"Bukan soal lancar atau tidak di kantor urusan agama, Bu," sahut Ibu calon suamiku dengan nada dingin. "Ini soal keabsahan hubungan anak saya dengan Astinia nantinya. Kami tidak mau cucu-cucu kami lahir dari pernikahan yang status walinya bermasalah. Kami keluarga terpandang, kami tidak ingin ada cacat dalam silsilah kami."
Aku duduk di sudut ruangan, meremas jemariku hingga memutih. Di sebelahku, Randu, pria yang sangat kucintai, hanya bisa menunduk lesu. Ia terjepit di antara baktinya pada orang tua yang memegang teguh prinsip, dan cintanya padaku yang memiliki masa lalu yang tak pernah bisa kupilih.
Rasanya sakit sekali. Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia ini, apalagi dilahirkan dalam kondisi seperti ini. Mengapa kesalahan yang dilakukan orang tuaku puluhan tahun lalu harus menjadi beban yang kupikul di hari pernikahanku? Aku merasa seperti produk cacat yang sedang ditawar di pasar loak, didebatkan kualitasnya, dicari-cari celah hukumnya, sementara perasaanku sendiri dianggap tidak ada.
"Papa mohon, Pak Baskoro," Papa hampir bersimpuh. "Hanya ini keinginan terakhir saya untuk Astinia. Memberikannya pada pria pilihan hatinya sebagai seorang ayah."
"Keinginan Anda tidak bisa mengalahkan hukum Tuhan, Pak," jawab Pak Baskoro tajam. "Solusinya hanya satu: Astinia harus menggunakan Wali Hakim. Jika Anda setuju, pernikahan lanjut. Jika tidak, maaf, kami tidak bisa melanjutkan proses ini."
Ruangan mendadak hening. Menggunakan Wali Hakim berarti secara tidak langsung mengakui di depan petugas KUA—dan mungkin di depan beberapa saksi—bahwa aku adalah anak yang tidak memiliki nasab. Itu adalah pengakuan yang sangat memalukan bagi Papa, yang selama ini dikenal sebagai sosok pria terhormat di lingkungannya. Baginya, menyerahkan perannya sebagai wali kepada orang asing adalah penghinaan terhadap kejantanannya dan kasih sayangnya selama ini.
Perdebatan pecah lagi. Saling tuduh, saling menyalahkan. Aku bangkit berdiri, kakiku terasa lemas. Aku tidak sanggup lagi mendengar kata-kata mereka yang membedah statusku seolah aku bukan manusia.
Aku lari ke luar rumah, menuju taman kecil di belakang. Randu mengejarku.
"Nia, tunggu!" Randu memegang bahuku.
"Sampai kapan, Ndu?" tangisku pecah. "Sampai kapan mereka akan berdebat tentang statusku? Aku mencintaimu, tapi aku merasa seperti pembawa sial bagi keluargamu. Mungkin benar kata ibumu, aku ini cacat dalam silsilah."
"Jangan bicara begitu," Randu memelukku erat. "Aku tidak peduli siapa walimu. Aku hanya ingin kamu menjadi istriku. Tapi kamu tahu orang tuaku, mereka sangat keras soal prinsip agama."
"Prinsip atau gengsi?" aku melepaskan pelukannya. "Keluargamu menolak karena mereka malu, kan? Dan keluargaku memaksa Papa jadi wali karena mereka juga malu mengakui dosa lama itu. Semuanya tentang rasa malu mereka, tidak ada yang memikirkan bagaimana rasanya jadi aku!"
Malam itu, perundingan buntu. Keluarga Randu pulang dengan ultimatum: Wali Hakim atau batal. Sementara Papa bersumpah tidak akan mengizinkan orang lain menikahkan putri satu-satunya selama dia masih bernapas.
Hari-hari berikutnya terasa seperti neraka yang dingin. Aku dan Randu jarang berkomunikasi. Di rumah, Ibu terus menangis, sementara Papa menjadi lebih pendiam dan temperamental. Aku merasa rumah ini bukan lagi tempat berteduh, tapi penjara yang pengap oleh rahasia.
Aku mulai sering mengurung diri, memperbaiki ibadahku, bersujud di tengah malam hingga lantai terasa basah oleh air mata. Aku bertanya pada Tuhan, apakah memang tidak ada tempat bagi orang sepertiku untuk bahagia? Mengapa cinta harus serumit ini karena urusan administrasi langit dan bumi?
Sampai suatu hari, aku memutuskan untuk menemui seorang ulama senior di kota kami secara diam-diam. Aku menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutupi. Tentang kelahiranku, tentang perdebatan keluarga, dan tentang rasa sakit yang menghimpit dada.
Beliau menatapku dengan tatapan yang sangat menyejukkan. "Astinia," katanya lembut. "Kamu adalah ciptaan Allah yang sempurna. Tidak ada anak yang lahir dalam keadaan kotor. Dosa adalah pilihan, dan kamu tidak memilih untuk dilahirkan dalam kondisi itu. Maka, kamu tidak menanggung dosa apa pun."
"Tapi pernikahan saya, Bah..."
"Hukum wali memang sudah ditetapkan, bukan untuk menghinamu, tapi untuk menjaga ketertiban nasab. Jika Papa-mu mencintaimu, dia harus belajar tentang keikhlasan yang sesungguhnya. Ikhlas mengakui kesalahan masa lalu demi masa depan anaknya. Dan jika keluarga pria itu bijak, mereka harus melihatmu sebagai pribadi, bukan sebagai catatan di atas kertas."
Aku pulang dengan kekuatan baru. Malam itu, aku meminta seluruh keluargaku berkumpul. Aku juga mengundang Randu dan orang tuanya. Aku ingin mengakhiri perdebatan ini.
"Cukup," kataku saat mereka mulai bersitegang lagi. Suaraku tenang namun tegas. "Papa, aku sangat mencintaimu. Papa adalah ayah terbaik di dunia ini. Tapi hari ini, aku meminta Papa untuk mencintaiku dengan cara yang berbeda. Aku meminta Papa untuk melepaskan ego Papa."
Papa menatapku kaget.
"Dan untuk keluarga Randu," aku menatap Pak Baskoro. "Saya menghargai prinsip Anda. Tapi jika pernikahan ini hanya dianggap sebagai transaksi sah secara hukum tanpa melihat martabat saya sebagai manusia, maka saya lebih baik tidak menikah."
"Nia, apa maksudmu?" tanya Randu panik.
"Aku memilih untuk menggunakan Wali Hakim," kataku mantap. Air mata mengalir, tapi kepalaku tetap tegak. "Bukan karena aku tidak mengakui Papa, tapi karena aku ingin memulai hidup baruku dengan kejujuran. Aku tidak mau membangun rumah tangga di atas kebohongan atau paksaan. Jika Papa setuju, Papa akan tetap duduk di sebelahku sebagai saksi utama, sebagai pria yang paling berjasa dalam hidupku. Tapi biarkan hukum Tuhan berjalan sebagaimana mestinya."
Papa terdiam. Bahunya yang tegap perlahan merosot. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya dan terisak—suara tangis yang belum pernah kudengar sebelumnya. "Maafkan Papa, Nia... Maafkan Papa yang dulu tidak bisa menjagamu..."
Ibu merangkul Papa. Suasana yang tadinya panas mendadak haru. Pak Baskoro dan istrinya tampak tertegun melihat keberanianku mengakui statusku di depan mereka tanpa rasa malu lagi. Keberanianku ternyata jauh lebih kuat daripada gengsi mereka.
Akhirnya, dengan berat hati namun penuh keikhlasan, Papa setuju. Pak Baskoro pun luluh, melihat bahwa kejujuranku adalah fondasi yang lebih kuat daripada silsilah mana pun.
Hari pernikahan itu pun tiba. Tidak ada kemewahan yang berlebihan, hanya keluarga inti dan teman dekat. Saat petugas KUA bertindak sebagai Wali Hakim, aku melihat Papa duduk tepat di sampingku. Tangannya menggenggam tanganku erat hingga saat ijab kabul diucapkan.
"Saya terima nikahnya Astinia binti Fulan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Sah.
Dunia seolah berhenti sejenak. Aku bukan lagi "anak itu". Aku adalah seorang istri. Aku adalah Astinia, bintang yang akhirnya menemukan cahayanya sendiri bukan karena silsilahnya, tapi karena keberaniannya untuk jujur pada diri sendiri.
Ternyata benar, saat kita berhenti berusaha membohongi dunia dan mulai berdamai dengan kenyataan, Tuhan akan membuka jalan yang tidak pernah kita duga. Perdebatan itu berakhir bukan karena ada yang menang atau kalah, tapi karena cinta akhirnya menemukan jalan untuk mengalah pada kebenaran.