Dua garis merah pada alat tes kehamilan itu seharusnya menjadi simbol kebahagiaan yang meluap. Namun, bagi Arumi, benda plastik di tangannya itu terasa seberat bongkahan batu yang siap menenggelamkannya ke dasar laut.
Ia duduk di lantai kamar mandi yang dingin, menatap pantulan dirinya di cermin yang mulai berembun. Pikirannya melayang pada percakapan-percakapan di meja makan keluarga besar, pada setiap Lebaran yang terasa seperti sidang pengadilan, dan pada setiap arisan keluarga yang berubah menjadi ajang interogasi medis.
"Arum, kamu itu sudah tiga tahun nikah. Kalau punya anak, ikatan suami istri itu bakal semakin kuat. Suamimu bakal lebih betah di rumah," kata Tante Lastri suatu kali, sambil mengunyah rempeyek dengan bunyi yang bagi Arumi terdengar seperti suara penghakiman.
Arumi mengingat jawabannya saat itu—jawaban yang membuat seisi ruangan mendadak hening. "Heleh, Tante. Itu tetangga sebelah anaknya tiga, cerainya malah sampai masuk berita regional karena rebutan harta. Anak bukan lem perekat hubungan kalau dasarnya memang sudah retak."
Ibunya langsung mencubit lengannya, tapi Arumi tidak peduli. Ia sudah lelah menjadi sasaran empuk nasihat-nasihat usang yang seringkali tidak relevan dengan kenyataan pahit yang ia lihat setiap hari.
"Nanti kalau kamu tua, siapa yang bakal ngerawat? Anak itu investasi hari tua, Arum," sambung ibunya dengan nada memelas.
"Investasi?" Arumi tertawa getir saat itu. "Itu lihat Pak Subrata di ujung jalan. Anaknya lima, sukses semua di Jakarta. Tapi Pak Subrata mati sendirian di rumahnya sampai baunya tercium tetangga baru ketahuan. Anaknya banyak, tapi satu pun nggak ada yang mau merawat. Anak itu manusia, Bu, bukan asuransi masa tua."
Sejak saat itu, Arumi dicap sebagai anak yang "mulutnya tidak bisa diajak bicara baik". Padahal, ia hanya sedang membangun benteng pertahanan. Ia lelah ditanya "kapan hamil" seolah-olah rahimnya adalah fasilitas umum yang boleh dikomentari siapa saja.
---
Kini, di tahun keempat pernikahannya, doa orang-orang yang sering menghakiminya itu seolah dikabulkan Tuhan. Ia hamil. Namun, ironisnya, ini terjadi di saat hubungannya dengan suaminya, Galih, sedang berada di titik nadir.
Galih sudah tiga bulan ini jarang pulang dengan alasan lembur proyek di luar kota. Namun, Arumi bukan wanita bodoh. Ia menemukan mutasi rekening yang menunjukkan pengeluaran di toko perhiasan dan hotel mewah yang tak pernah ia datangi.
Saat Arumi keluar dari kamar mandi dan menunjukkan alat tes itu pada Galih yang baru saja pulang, reaksi suaminya bukanlah pelukan hangat atau tangis haru. Galih hanya menatap benda itu dengan dahi berkerut, seolah melihat tagihan hutang yang tak terduga.
"Kamu hamil?" suara Galih datar.
"Iya. Sesuai kata keluargamu, kan? Biar ikatan kita semakin kuat?" Arumi tersenyum sinis, meski hatinya perih luar biasa.
Galih menghela napas panjang, lalu melepas jasnya dengan kasar. "Arum, jujur saja... situasinya sedang tidak tepat. Proyekku lagi berantakan, dan kita... kita sedang tidak baik-baik saja."
"Jadi anak ini bukan penguat? Tapi beban?"
Galih tidak menjawab. Ia malah meraih kunci mobilnya lagi dan keluar tanpa sepatah kata pun. Malam itu, Arumi duduk sendirian di ruang tamu yang gelap, merasakan kehadiran nyawa baru di dalam perutnya yang justru membuatnya merasa semakin terasing dari dunia.
---
Bulan-bulan berikutnya adalah neraka yang disamarkan dengan senyum palsu di depan keluarga besar. Di acara syukuran empat bulanan, keluarga Arumi tampak sangat bangga.
"Nah, benar kan kata Tante? Akhirnya hamil juga. Pasti Galih jadi makin sayang, kan?" Tante Lastri menepuk-nepuk bahu Arumi.
Arumi hanya tersenyum tipis. Dalam hati ia ingin berteriak bahwa semalam Galih tidak pulang, dan tadi pagi suaminya itu baru saja membentaknya karena Arumi meminta diantar ke dokter kandungan.
"Nanti kalau sudah lahir, kamu bakal tahu rasanya punya jaminan di masa tua," sahut ibunya lagi, masih dengan topik yang sama.
Arumi menatap ibunya dengan tatapan kosong. "Bu, kalau nanti anak ini lahir dan ternyata dia lebih memilih hidupnya sendiri daripada mengurusi aku yang sudah jompo, aku nggak akan menyalahkannya. Karena aku nggak mau dia lahir hanya untuk memikul beban ego orang tuanya."
Suasana kembali kaku. Ibunya mendesah, "Kamu ini, sudah mau jadi ibu kok omongannya masih tajam begitu. Belajarlah berkata baik, Arum."
"Mereka yang duluan mulai, Bu. Mereka yang menaruh ekspektasi setinggi langit pada janin yang bahkan belum bisa menendang ini. Aku hanya mencoba jujur pada kenyataan yang ada di depan mata," jawab Arumi dingin.
---
Tragedi itu terjadi di bulan ketujuh.
Arumi mengalami perdarahan hebat setelah bertengkar hebat dengan Galih soal foto-foto perselingkuhan suaminya yang akhirnya terbongkar. Di rumah sakit, dalam keadaan setengah sadar, Arumi hanya melihat lampu-lampu lorong yang berkelebat cepat.
Ia kehilangan bayinya.
Saat ia terbangun di ruang pemulihan, ruangan itu sepi. Galih tidak ada di sana. Yang ada hanya ibu dan tantenya yang menatapnya dengan wajah penuh duka—tapi di mata Arumi, duka itu terasa seperti kekecewaan karena "investasi" mereka gagal.
"Sabar ya, Rum. Mungkin memang belum rezekinya. Nanti coba lagi, ya? Biar rumah tanggamu bisa selamat," bisik Tante Lastri.
Kalimat itu menjadi pemantik ledakan di dalam diri Arumi. Ia mencabut paksa jarum infus di tangannya, mengabaikan rasa sakit yang berdenyut.
"Selamat? Tante bilang apa? Biar rumah tangga selamat?" Arumi tertawa histeris, air mata mengalir deras di pipinya. "Galih sudah pergi dengan perempuan lain saat aku sedang dikuret di ruang sebelah! Di mana ikatan kuat yang Tante janjikan? Di mana penguat yang kalian bilang itu?"
Arumi menatap ibunya. "Dan Ibu... Ibu bilang anak ini jaminan masa tua? Dia bahkan belum sempat melihat dunia, tapi kalian sudah memberinya tugas untuk merawatku nanti. Kalian tidak pernah peduli pada anak ini, kalian hanya peduli pada fungsi anak ini untuk menambal lubang-lubang di hidupku yang kalian anggap cacat!"
"Arum, jaga bicaramu..." ibunya menangis.
"Tidak! Aku sudah cukup tutup mulut selama bertahun-tahun. Mulutku tidak bisa lagi bicara baik karena kenyataan yang kalian jejalkan ke telingaku itu bohong! Anak bukan alat penambal hubungan yang rusak, dan anak bukan pembantu untuk masa tua!"
---
Arumi keluar dari rumah sakit tiga hari kemudian. Ia tidak pulang ke rumah yang ia tempati bersama Galih. Ia mengemasi barang-barangnya dan menyewa sebuah kamar kecil di pinggiran kota.
Galih mengirimkan surat cerai seminggu kemudian. Tidak ada drama perebutan anak, karena anak yang diharapkan menjadi "perekat" itu sudah kembali ke pelukan Tuhan.
Suatu sore, Arumi duduk di sebuah taman. Ia melihat seorang wanita tua duduk sendirian di bangku taman, menatap anak-anak kecil yang berlarian. Wanita itu tampak rapi, namun matanya menyimpan kesepian yang sangat dalam.
Arumi mendekat dan duduk di ujung bangku yang sama.
"Anak-anak itu lucu, ya?" tanya wanita tua itu tiba-tiba.
"Iya, Bu," jawab Arumi singkat.
"Saya punya tiga. Semuanya sukses. Ada yang di London, ada yang di Amerika," wanita itu tersenyum bangga, namun tangannya gemetar memegang tongkat. "Tiap bulan mereka kirim uang banyak sekali. Saya bisa beli apa saja."
"Tapi Ibu sendirian di sini?" tanya Arumi, teringat pada argumennya dulu.
Wanita itu terdiam lama. Senyumnya perlahan memudar. "Mereka sibuk, Nak. Katanya, kalau saya ikut ke sana, nanti saya susah adaptasi. Jadi saya di sini saja, dengan perawat yang mereka bayar mahal."
Wanita itu menatap Arumi. "Jangan pernah punya anak karena kamu takut kesepian di masa tua, Nak. Karena saat mereka pergi mengejar hidupnya, rasa sepinya akan dua kali lipat lebih menyakitkan daripada jika kamu memang sejak awal sendirian."
Arumi merasakan dadanya sesak. Ia teringat janinnya yang hilang. Ia merasa sedih, tapi di sisi lain, ada rasa lega yang aneh. Setidaknya, anaknya tidak perlu lahir ke dunia yang penuh dengan tuntutan dan beban ekspektasi yang tidak masuk akal.
Malam itu, Arumi menulis di buku catatannya:
Aku kehilangan segalanya. Suami, anak, dan kepercayaan pada keluarga. Mereka bilang aku berubah, mereka bilang mulutku tidak bisa diajak bicara baik. Tapi mereka lupa, mereka yang lebih dulu merusak pendengaranku dengan janji-janji palsu tentang kebahagiaan yang harus dibarter dengan kehadiran seorang anak.
Aku akan hidup sendirian. Bukan karena aku benci anak-anak, tapi karena aku lebih menghargai sebuah nyawa daripada sekadar menjadikannya alat penambal luka atau asuransi masa tua.
Arumi menutup bukunya. Di luar, hujan mulai turun, membasuh debu-debu di jendela. Ia akan tetap diceramahi, ia akan tetap dianggap aneh oleh keluarganya. Namun kini, ia tidak lagi merasa perlu berdebat. Diamnya bukan lagi karena kalah, tapi karena ia telah menemukan kebenaran di balik rasa sakitnya sendiri.
Ia membiarkan dirinya menangis—bukan karena kesepian, tapi karena akhirnya ia bebas dari beban menjadi apa yang dunia inginkan. Ternyata benar, ikatan yang paling kuat bukan antara suami dan istri melalui anak, melainkan ikatan antara seseorang dengan kejujuran jiwanya sendiri.