Shela tak pernah merencanakan jatuh cinta pada Adam.
Semua bermula dari pertemuan sederhana di sebuah toko buku kecil saat hujan turun deras sore itu. Shela berdiri di sudut rak novel, memeluk buku yang tak benar-benar ingin ia beli, hanya menunggu hujan reda. Adam datang dengan kemeja putih sedikit basah, rambutnya meneteskan air, lalu tersenyum saat melihat Shela kesulitan meraih buku di rak paling atas.
“Boleh kubantu?” tanyanya.
Senyum itu sederhana, tapi entah kenapa tinggal lama di hati Shela.
Sejak hari itu, mereka sering bertemu. Minum kopi, berjalan tanpa tujuan, berbagi cerita tentang luka-luka lama. Adam adalah lelaki yang hangat, dengan suara tenang yang membuat Shela merasa pulang.
Namun Adam bukan lelaki bebas.
Ia telah memiliki seseorang.
Dan Shela tahu itu… sejak awal.
“Aku harus pergi kalau kamu ingin semuanya jelas,” kata Shela suatu malam.
Adam menggenggam tangannya. “Tapi aku tak bisa pergi dari kamu.”
Kalimat itu salah. Tapi juga indah.
Dan Shela memilih tenggelam.
Hubungan mereka tumbuh diam-diam, hidup di sela waktu yang dicuri. Telepon larut malam. Pesan rindu yang dihapus sebelum pagi. Pertemuan di tempat-tempat jauh dari siapa pun yang mengenal mereka.
Shela menjadi rahasia.
Kekasih gelap.
Kadang Adam datang membawa bunga kecil.
“Kenapa mawar putih?” tanya Shela.
“Karena cintaku ke kamu tak pernah berniat mengotori.”
Shela tertawa pahit.
Cinta mereka memang terasa suci saat berdua. Tapi selalu berdosa ketika dunia kembali hadir.
Yang paling menyakitkan dari menjadi kekasih gelap bukan soal tak bisa memiliki.
Tapi harus berpura-pura tak cemburu saat lelaki yang dicintai pulang pada perempuan lain.
Malam-malam Shela sering menangis diam-diam.
“Aku capek jadi bayangan, Adam.”
Adam memeluknya erat.
“Bertahan sedikit lagi.”
Sedikit lagi.
Sedikit lagi.
Kalimat itu terus berulang hingga berubah jadi tahun.
Sampai suatu malam, Shela melihat Adam datang dengan wajah lelah.
“Aku akan menikah bulan depan.”
Dunia Shela runtuh tanpa suara.
Ia tersenyum, padahal dadanya seperti dihancurkan.
“Selamat ya.”
Hanya itu yang keluar.
Adam menangis malam itu. Untuk pertama kalinya Shela melihat lelaki yang selama ini terlihat kuat, runtuh di hadapannya.
“Aku cinta kamu.”
Shela mengusap air mata Adam.
“Aku tahu.”
“Maaf aku pengecut.”
Shela mengangguk.
“Aku juga pengecut. Karena bertahan di cinta yang tak punya nama.”
Malam itu mereka berpelukan lebih lama dari biasanya. Seolah tahu itu akan menjadi pelukan terakhir.
Setelah Adam menikah, Shela menghilang.
Mengganti nomor.
Pindah kota.
Meninggalkan semua tempat yang pernah menyimpan mereka.
Tapi cinta, rupanya tak mudah pindah.
Bertahun kemudian, mereka bertemu lagi di sebuah acara kecil.
Adam menua dengan tatapan yang masih sama.
Shela memakai gaun sederhana, lebih tenang, lebih utuh.
Mereka saling diam lama.
“Apa kamu bahagia?” tanya Adam.
Shela tersenyum.
“Aku belajar.”
Adam menatapnya dengan rindu yang belum selesai.
“Aku sering mencari kamu.”
“Tapi dulu kamu tak pernah benar-benar memilih aku.”
Kalimat itu lembut, tapi menampar.
Adam menunduk.
Sebelum pergi, Adam berkata pelan,
“Kalau waktu bisa diulang, aku akan memilihmu.”
Shela menahan air mata.
“Tapi cinta yang datang terlambat… tetap terlambat, Adam.”
Ia berjalan pergi.
Tanpa menoleh.
Tanpa membawa apa-apa, kecuali cinta lama yang akhirnya ia kuburkan sendiri.
Malam itu Shela sadar…
Adam mungkin cinta terbesarnya.
Tapi bukan takdirnya.
Karena ada cinta yang diciptakan hanya untuk dikenang, bukan dimiliki.
Dan Adam…
akan selamanya menjadi rahasia paling manis sekaligus luka paling sunyi dalam hidupnya.
Kekasih gelap itu akhirnya pergi.
Tapi cintanya… tak pernah benar-benar mati.
Tamat