Hujan turun tipis ketika Sammy kembali duduk di bangku tua dekat taman kota. Bangku itu sudah lapuk dimakan usia, cat hijaunya mengelupas, tapi baginya tempat itu selalu menyimpan sesuatu yang hidup—kenangan tentang Nora.
Dulu, Nora sering datang dengan langkah kecil tergesa, rambutnya sedikit basah karena gerimis, lalu duduk di samping Sammy sambil berkata, “Aku datang, jangan ngambek.”
Sesederhana itu kebahagiaan mereka.
Mereka pernah percaya cinta cukup untuk melawan apa pun. Mereka pernah bicara tentang rumah kecil dengan jendela menghadap senja, tentang anak-anak yang mungkin mewarisi senyum Nora, tentang hari tua yang akan dilalui bersama.
Tapi hidup, seperti musim, tak selalu tinggal pada cuaca yang sama.
Ketika keluarga Nora menolak hubungan mereka, ketika keadaan menuntut Nora memilih jalan yang tak melibatkan Sammy, cinta mereka mulai retak pelan-pelan. Bukan karena ada yang berhenti mencinta, justru karena keduanya terlalu mencinta dan sama-sama terluka.
“Aku pergi bukan karena tak cinta,” kata Nora malam itu, di bawah lampu jalan yang temaram.
Sammy menahan suara gemetar di dadanya.
“Lalu kenapa rasanya seperti ditinggalkan?”
Nora menangis, tapi tetap pergi.
Dan sejak malam itu, waktu berjalan, tapi ada bagian dalam diri Sammy yang seperti berhenti.
Tahun berganti. Kota berubah. Orang-orang datang dan pergi. Tapi Sammy tetap menyimpan Nora seperti lagu lama yang tak pernah sanggup ia hapus dari ingatan.
Ia belajar tersenyum, bekerja, menjalani hidup, bahkan terlihat baik-baik saja. Tapi setiap hujan turun, setiap aroma kopi menguar, setiap senja jatuh terlalu sunyi, nama Nora selalu pulang diam-diam.
Sementara Nora hidup dengan kehidupan yang dipilihkan untuknya.
Mereka bertemu lagi bertahun-tahun kemudian di toko buku.
Nora masih sama, hanya matanya tampak lebih lelah.
“Sammy…”
Nama itu keluar dari bibir Nora seperti sesuatu yang telah lama tertahan.
Sammy tersenyum, tapi dadanya runtuh perlahan.
Mereka bicara tentang hal-hal kecil, tentang waktu, tentang usia, tentang hidup yang ternyata tidak sesederhana mimpi masa muda.
Tapi mereka tak bicara tentang luka.
Karena beberapa luka tak butuh diucapkan. Ia tinggal di antara tatapan.
Sebelum pulang, Nora bertanya pelan,
“Kau pernah melupakanku?”
Sammy diam cukup lama.
“Kalau melupakanmu semudah itu, mungkin aku sudah bahagia dari dulu.”
Mata Nora berkaca-kaca.
Setelah pertemuan itu, mereka kadang bertemu diam-diam hanya untuk berbincang sebentar, seperti dua jiwa yang tahu mereka tak bisa bersama, tapi juga tak pernah benar-benar berpisah.
Sampai suatu sore yang muram, Nora berkata,
“Aku selalu merasa bersalah… karena aku bukan milikmu.”
Sammy memandang langit kelabu.
“Kau salah, Nora.”
Nora menatapnya.
“Mungkin hidupmu bukan bersamaku. Mungkin namamu tak pernah ada di akhir ceritaku. Tapi cintamu… tinggal di sini.”
Sammy menunjuk dadanya.
“Dan itu tak pernah pergi.”
Air mata Nora jatuh.
Untuk pertama kalinya mereka menangis bersama, bukan karena ingin memiliki, tapi karena sadar ada cinta yang memang ditakdirkan hanya untuk dikenang.
Saat Nora pergi untuk terakhir kalinya, Sammy tak menahan.
Karena ia tahu, beberapa cinta tak diciptakan untuk dimiliki.
Beberapa cinta hanya diciptakan untuk hidup diam-diam… tak lekang oleh waktu.
Dan meski Nora bukan miliknya, Sammy tetap mencintainya dalam cara yang paling sunyi.
Dalam setiap hujan.
Dalam setiap senja.
Dalam setiap sepi yang tak pernah benar-benar selesai.
Tamat