Namaku Nara. Umurku tiga puluh, masih sendiri, dan banyak orang menganggap hidupku sepi.
“Kenapa belum menikah?”
“Enggak bosan pulang ke rumah sendirian?”
“Bahagia, memang, hidup sendiri?”
Dulu, pertanyaan-pertanyaan itu sering membuatku berpikir ada yang kurang dari hidupku. Seolah bahagia harus selalu datang bersama seseorang.
Tapi pagi ini, seperti pagi-pagi lainnya, aku bangun dengan senyum.
Kuseduh kopi hangat, membuka jendela, membiarkan matahari masuk ke kamar kecilku. Ada tanaman-tanaman hijau di sudut teras, kucing oren yang selalu datang minta makan, dan angin yang membawa rasa damai.
Aku bekerja, punya penghasilan sendiri, bisa membeli hal-hal kecil yang kusukai. Kadang aku makan sendiri di kafe favorit, nonton film sendirian, atau berjalan sore tanpa tujuan. Anehnya, aku tidak pernah merasa kesepian.
Aku merasa utuh.
Teman-temanku sibuk dengan rumah tangga mereka, dengan drama dan pertengkaran yang sering mereka sembunyikan di balik foto bahagia. Aku ikut senang untuk mereka, tapi aku juga sadar—jalan bahagiaku berbeda.
Bahagiaku adalah kebebasan.
Bisa pergi ke mana pun tanpa izin siapa pun. Bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan pengkhianatan. Bisa mencintai diriku sendiri tanpa menunggu dicintai orang lain.
Suatu malam, aku duduk di balkon, memandangi langit.
Aku tersenyum dan berbisik pada diri sendiri,
“Aku single, aku happy, dan aku baik-baik saja.”
Bukan pura-pura kuat. Bukan sedang menutupi luka.
Tapi sungguh, aku menikmati hidup yang aku punya.
Hidupku sederhana, tapi sempurna dengan caranya sendiri.
Karena kesempurnaan bukan tentang memiliki semuanya.
Kadang, kesempurnaan adalah rasa syukur… saat menyadari bahwa hidup yang tenang, hati yang damai, dan diri yang utuh—sudah lebih dari cukup.
Dan malam itu, aku tahu satu hal:
Aku tidak sedang menunggu hidupku dimulai.
Aku sudah sedang menjalaninya… dengan bahagia.
Selesai