Caca berdiri di depan jendela kamar, menatap hujan yang turun pelan. Di tangannya, sebuah foto lama—dirinya dan Delon, tersenyum di bawah langit senja. Foto itu mulai kusam, sama seperti kenangan yang perlahan ingin ia hapus.
Sudah setahun sejak Delon pergi tanpa penjelasan. Hanya meninggalkan pesan singkat, “Maaf, aku harus pergi.” Sejak itu, Caca hidup dengan luka yang diam-diam tumbuh.
Hari itu, Caca memutuskan membersihkan kamar. Surat-surat Delon ia kumpulkan, hadiah kecil darinya dimasukkan ke kotak, bahkan lagu favorit mereka ia hapus dari daftar putar.
“Aku harus menghapus jejakmu,” bisik Caca.
Tapi setiap ingin melupakan, kenangan justru datang lebih kuat.
Sore menjelang malam, seseorang mengetuk pintu.
Saat Caca membuka, Delon berdiri di sana.
“Caca…”
Jantung Caca bergetar. “Untuk apa datang lagi?”
Delon menunduk. “Aku datang untuk minta maaf. Aku pergi dulu karena takut tak bisa membahagiakanmu.”
Caca tersenyum pahit. “Kau tahu? Aku berusaha menghapus jejakmu hari ini.”
Delon terdiam.
“Tapi ternyata,” lanjut Caca, matanya berkaca, “yang sulit dihapus bukan jejakmu… tapi rasa yang pernah tinggal.”
Hening.
Delon melangkah mundur. “Kalau begitu, biarkan aku jadi kenangan saja.”
Ia pergi sebelum Caca sempat menahan.
Caca memandangi punggung itu menghilang bersama hujan.
Malam itu, Caca membakar surat-surat lama. Abu beterbangan di udara.
Bukan karena ia membenci Delon.
Tapi karena ia sadar, mencintai tak selalu berarti memiliki.
Kadang, menghapus jejak seseorang… adalah cara paling sunyi untuk menyembuhkan diri.
Selesai