Dalam lipatan memoriku yang paling dalam, tersimpan sebuah fragmen tentang seorang anak lelaki yang punya cara "pendekatan" yang sangat unik—mungkin jika ia melakukannya sekarang, ia bisa dengan mudah memenangkan hati siapa pun. Aku tidak tahu pasti kapan tepatnya ia mulai memperhatikanku. Kedekatannya dengan adikku membuat kehadirannya di sekitar rumah terasa seperti bagian dari dekorasi harian yang biasa.
Namun, ada satu sore yang tidak akan pernah kulupa. Saat itu aku sedang sibuk mencuci piring di luar rumah, tangan penuh sabun dan pikiran yang melantur, tiba-tiba ia muncul. Dengan senyum lebar yang jahil, ia bertanya apakah hari itu aku bisa bermain.
Sebagai anak kelas lima yang mulai mengerti rasa takut akan omelan orang tua, aku menolak. "Nggak bisa," jawabku ketus. Namun, ia memasang wajah yang begitu sedih—begitu hancur seolah dunianya runtuh detik itu juga—hingga pertahananku goyah. Akhirnya, aku luluh dan mengiyakan. Ironisnya, saat waktu bermain tiba, justru ia yang tidak muncul. Ada rasa kecewa yang menusuk pelan di dadaku. Kenapa kamu yang memulai, tapi kamu juga yang mematahkan? Namun, saat kami bertemu lagi dan aku melihat penyesalan yang begitu dalam di matanya, amarahku menguap begitu saja.
***
Momen yang benar-benar mengunci posisinya dalam ingatanku terjadi di sebuah malam dekat rumah kosong yang sunyi. Demi menutupi kegugupanku, aku berbohong padanya, "Aku takut kegelapan."
Aku tidak menyangka reaksinya akan se-totalitas itu. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan kotak korek api, menyulutnya satu per satu, dan menancapkannya di atas pot-pot bunga yang berjejer di sana. Barisan api kecil itu menari-nari, membelah pekatnya malam.
"Biar kamu nggak takut gelap lagi, makanya aku nyalakan ini," ucapnya santai. Sederhana, konyol, tapi luar biasa manis. Caranya menghiburku selalu punya tempat tersendiri di hatiku.
***
Kini, waktu telah menarik kami ke jalan yang berbeda. Ada masa-masa di mana kami menjadi sangat asing, seolah-olah barisan api di pot bunga itu tidak pernah menyala. Terkadang aku merindukan hubungan itu, merindukan bagaimana rasanya memiliki seseorang yang akan menyalakan korek api hanya untuk mengusir rasa takutku.
Tapi aku sadar, kita sudah berada di usia di mana "bermain" bukan lagi sebuah pilihan. Wajar jika jarak perlahan membentang seiring kedewasaan yang menjemput. Aku hanya berharap, di mana pun ia sekarang, ia tetap bahagia. Aku berharap sisi konyol dan tulusnya itu tidak akan pernah hilang, karena jujur saja, aku tidak bisa berbohong bahwa itulah versi dirinya yang paling aku sukai.
Semoga ia selalu mengingat, ia pernah menjadi cahaya kecil bagi seseorang di suatu malam yang sepi.