Layar ponsel pintar di tangan Thrisia berpijar, menampilkan deretan video singkat dengan musik ceria yang kontras dengan suasana hatinya. Di kolom komentar, ribuan orang mengetik kata yang sama: "Gwenchana, Thrisia-ya!", "Kamu kuat, tetap gwenchana!".
Thrisia, seorang kreator konten yang dikenal dengan persona "si paling positif", hanya bisa menatap kata-kata itu dengan nanar. Istilah gwenchana yang berarti "aku baik-baik saja" dalam bahasa Korea telah menjadi mantra sekaligus penjara baginya. Tahun 2026 ini, dunia seolah menuntut setiap orang untuk tetap tegak di tengah badai, membungkus luka dengan filter estetik, dan memastikan semua orang tahu bahwa mereka "baik-baik saja".
Padahal, di balik layar 6,7 inci itu, Thrisia sedang hancur.
Minggu ini dimulai dengan kabar bahwa riset yang ia kerjakan selama setahun ditolak oleh dewan akademik. Di hari yang sama, apartemen kecilnya mengalami kebocoran pipa yang merusak laptop dan tumpukan buku referensinya. Belum lagi tekanan dari pengikut media sosialnya yang menanti konten inspiratif harian. Thrisia merasa seperti sebuah mesin yang dipaksa bekerja saat baut-baut di dalamnya sudah longgar dan berkarat.
Malam itu, Thrisia duduk di balkon. Ia mencoba merekam video baru. Ia memaksakan senyum, mengatur pencahayaan agar wajah sembapnya tertutup bayangan.
"Halo semuanya! Hari ini ada sedikit kendala, tapi gwenchana! Hidup memang…."
Kalimatnya terhenti. Tenggorokannya tercekat. Ia menekan tombol berhenti dan melemparkan ponselnya ke kursi lipat. Ia lelah. Ia lelah berbohong pada algoritma, ia lelah berbohong pada dunia, dan yang paling parah, ia lelah berbohong pada dirinya sendiri.
Thrisia berjalan masuk dan mengambil sebuah buku catatan fisik…bukan tablet, bukan ponsel. Di halaman kosong itu, ia menulis dengan tinta hitam yang tebal: "HARI INI AKU TIDAK GWENCHANA."
Ia menuliskan semuanya. Ia menulis tentang rasa takutnya akan kegagalan, tentang betapa sedihnya ia kehilangan data risetnya, dan tentang betapa ia benci harus selalu terlihat kuat. Air matanya jatuh, membasahi kertas hingga tintanya sedikit melebar. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Thrisia tidak mencoba menghapus air mata itu demi kamera. Ia membiarkannya mengalir.
Keesokan harinya, Thrisia mengunggah sebuah gambar sederhana di akunnya. Bukan video dengan transisi halus atau musik yang sedang tren. Hanya sebuah foto kertas coretan tangannya dengan tulisan: "It’s okay to not gwenchana."
Di bawahnya, ia menulis takarir singkat: "Ternyata, mengakui bahwa kita sedang hancur adalah langkah pertama untuk menjadi utuh kembali. Aku tidak baik-baik saja hari ini, dan itu tidak apa-apa."
Unggahan itu meledak. Namun, kali ini bukan karena algoritma yang memujanya, melainkan karena kejujuran yang menyentuh sesama manusia. Ribuan orang mulai berbagi cerita tentang kelelahan mereka, tentang kegagalan yang mereka sembunyikan di balik filter, dan tentang betapa melegakannya melepaskan topeng "baik-baik saja".
Thrisia menyadari bahwa di dunia yang bergerak terlalu cepat dan menuntut kesempurnaan, kemanusiaan yang paling murni ditemukan saat kita berani menunjukkan retakan di dinding pertahanan kita. Ia tidak lagi mengejar status "gwenchana". Ia memilih untuk menjadi nyata. Karena pada akhirnya, kita bukan algoritma yang harus selalu berfungsi 100 persen; kita adalah manusia yang berhak untuk lelah, berhak untuk sedih, dan berhak untuk tidak baik-baik saja sampai kita benar-benar pulih.