Di sebuah rumah tua di pinggiran kota, jendela kayu yang menatap ke arah taman liar itu menjadi saksi bisu rutinitas tiga sahabat: Aruna, Elin, dan Maya.
Sore itu, cahaya matahari yang hangat menyusup masuk, menerangi sebuah vas keramik berisi buket bunga liar yang baru saja mereka petik. Ada mawar pucat yang mulai mekar, lili putih, dan semburat ungu lavender yang mengharumkan ruangan.
"Bunga-bunga ini persis seperti kita," celetuk Maya sambil menyentuh kelopak mawar yang lembut.
"Berbeda-beda, tapi cantik saat disatukan."
Aruna tersenyum, namun matanya menatap jauh ke luar jendela.
"Tapi mawar punya duri, Maya. Dan lavender... ia harus dikeringkan untuk tetap abadi. Tidak semua yang cantik bisa bertahan selamanya dalam bentuk yang sama."
Elin yang sedari tadi asyik menggambar di sudut meja, mendongak. Ia meletakkan pensilnya tepat di samping sebuah buku tua bertajuk Petals & Dreams.
"Aku baru saja mendapat email konfirmasi. Beasiswa ke Berlin itu... aku harus berangkat minggu depan."
Keheningan seketika menyergap. Maya terdiam, tangannya masih tertahan di vas bunga. Aruna menarik napas panjang, aroma bunga yang tadi terasa menenangkan kini mendadak terasa menyesakkan.
"Kita sudah berjanji akan merawat taman ini bersama sampai musim gugur nanti, El," suara Maya bergetar.
"Aku tahu," jawab Elin pelan.
"Tapi kesempatan ini tidak datang dua kali."
Aruna bangkit berdiri, merapikan tirai linen yang tertiup angin. Ia menoleh ke arah vas bunga, menyadari ada satu kuntum lili yang mulai merunduk layu, jatuh di atas meja kayu.
"Jadi, apa ini akhirnya?" tanya Aruna tanpa menoleh.
Elin tidak menjawab. Maya hanya menatap buket bunga itu dengan mata berkaca-kaca. Di atas meja, buku Petals & Dreams tetap tertutup rapat, menyimpan rahasia tentang masa depan yang tidak lagi mereka bicarakan.
Angin sore kembali berembus, menjatuhkan sehelai kelopak bunga lagi ke lantai. Tak ada yang bergerak untuk memungutnya.