Apakah kau pernah berpikir tentang bereinkarnasi setelah kematian? Mungkin bagi semua orang itu hanya takhayul yang tak nyata, tapi bagiku... Itu nyata dan benar benar terjadi.
---------------
“Jika kehidupan setelah kematian itu ada, maka aku akan memohon tuk tak pernah bertemu denganmu“
—Reynard Cardian
--------------
Di sebuah paviliun tua yang dikelilingi pohon-pohon pinus yang meranggas, Reynard Cardian duduk mematung. Di hadapannya, Claurent Cyan sedang menyesap teh dengan tenang, membiarkan uap panas menyentuh ujung hidungnya. Pemandangan itu begitu indah, begitu damai, namun bagi Reynard, itu adalah siksaan yang paling kejam.
Reynard adalah pria yang dikutuk dengan ingatan. Ia ingat bagaimana ia mencintai Claurent di abad ke-18, lalu kehilangan wanita itu karena wabah. Ia ingat mereka bertemu lagi di tengah kecamuk perang dunia, hanya untuk melihat Claurent mati di pelukannya. Dan kini, di kehidupan ini, semesta kembali mempermainkan mereka.
Lagu Sampai Jadi Debu mengalun pelan dari piringan hitam di pojok ruangan.
“Badai tuan telah berlalu, salahkah ku menuntut mesra?”
Claurent menatap Reynard, matanya berbinar penuh kasih yang tulus—kasih yang sama yang selalu ia berikan di setiap kehidupan. "Reynard, kenapa kau menatapku seolah-olah kita akan berpisah besok?" tanya Claurent lembut, jemarinya mencoba meraih tangan Reynard yang dingin.
Reynard menarik tangannya. Ia tidak tahan lagi. Baginya, mencintai Claurent berarti membunuh Claurent. Setiap kali mereka bersama, maut selalu menemukan cara untuk menjemput Claurent dengan cara yang tragis. Cinta mereka adalah magnet bagi bencana.
"Claurent," suara Reynard bergetar, berat oleh beban ribuan tahun. "Hentikan ini. Jangan mencintaiku lagi."
Claurent tersenyum tipis, sebuah senyum yang merobek hati Reynard. "Aku tidak bisa. Bukankah kita sudah berjanji? Menjadi satu di liang yang sama? Selamanya?"
Reynard berdiri, membelakangi wanita itu agar ia tak perlu melihat wajah yang telah ia puja selama berabad-abad. Ia teringat lirik lagu itu—tentang dua orang yang menua bersama hingga tubuh mereka melebur menjadi debu. Namun bagi Reynard, debu itu adalah abu dari kehancuran yang berulang.
"Cukup," bisik Reynard. "Aku tidak ingin 'selamanya' denganmu jika itu artinya melihatmu menderita lagi dan lagi."
Ia berbalik, menatap Claurent dengan mata yang merah karena menahan tangis. Dengan suara yang dingin namun penuh luka, Reynard mengucapkan sumpah terakhirnya—sumpah yang ia harap akan didengar oleh Tuhan dan semesta yang kejam.
"Jika kehidupan setelah kematian itu ada, maka aku akan memohon tuk tak pernah bertemu denganmu lagi, Claurent Cyan."
Claurent terpaku. Cangkir teh di tangannya retak."Aku akan memohon agar benang merah ini diputus," lanjut Reynard, suaranya naik satu oktav. "Aku lebih baik tidak mengenalmu sama sekali, lebih baik jiwaku mengembara sendirian di kegelapan abadi, daripada harus melihatmu mati sekali lagi karena namaku. Biarlah di kehidupan selanjutnya, kau menjadi orang asing yang bahagia, tanpa bayang-bayang diriku."
Reynard mencengkeram bahu Claurent, memaksanya menatap mata yang kini hanya berisi kegelapan. Saat Claurent berbisik dengan suara pecah, “Badai tuan telah berlalu, salahkah ku menuntut mesra?”, Reynard justru tertawa remeh, sebuah tawa yang lebih tajam dari sembilu.
"Kau menuntut mesra?" suara Reynard merendah, dingin dan mematikan. "Mesra dariku adalah racun yang kau telan dengan sukarela, Claurent. Dan aku sudah muak menyuapinya padamu."
Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Claurent, membisikkan sumpah yang akan bergema melintasi ruang dan waktu:
"Dengarkan sumpahku, Claurent Cyan—Di hadapan maut yang sebentar lagi menjemput, aku tidak akan meminta ampunan atas dosaku. Aku akan bersujud di hadapan Tuhan hanya untuk satu hal: agar Ia mencabut setiap ingatan tentangmu dari jiwaku. Aku bersumpah, jika pun kita terlahir kembali di bawah langit yang sama, aku akan menjadi orang pertama yang memalingkan wajah karena merasa jijik pada keberadaanmu. Jangan cari aku lagi, karena di kehidupan mana pun setelah ini, kaulah satu-satunya neraka yang ingin kuhindari selamanya."
Reynard melepaskan cengkeramannya, membiarkan Claurent luruh ke lantai, hancur berkeping-keping tepat saat napas terakhir pria itu terlepas—meninggalkan Claurent dalam keabadian yang kini terasa seperti kutukan.
Malam itu, di bawah iringan melodi yang menjanjikan pengabdian hingga menjadi debu, Reynard memilih untuk mengkhianati cinta demi keselamatan kekasihnya. Ia pergi meninggalkan paviliun itu, meninggalkan Claurent yang menangis sendirian, membawa luka yang ia harap akan menjadi akhir dari segalanya.
Sebab bagi Reynard Cardian, bentuk cinta tertinggi bukanlah memiliki, melainkan memastikan bahwa di kehidupan berikutnya, orang yang ia cintai tidak akan pernah lagi mengenali namanya.
------------------------------
Tbc!!!
Jangan lupaa like nyaa yaww!!!