Hangat saat mengingat indahnya kala itu. Masa dimana aku tergesa gesa saat pulang sekolah pukul 3 sore, waktu dimana adzan ashar berkumandang melantunkan syahadat dan seruan untuk melaksanakan shalat. Ada dua jalan yang dapat aku pilih, ojek online atau jalan kaki. dan ya kalian salah. Di waktu yang singkat, aku justru memilih jalan kaki dan berlari agar sampai ke masjid tepat sebelum adzan berseru.
Dan benar saja, aku lebih dulu menginjakkan kaki ke ubin masjid itu dari lainnya.
Tak di pungkiri, aku melakukannya semata mata karna ingin beribadah dan ... menguntit dirinya.
Hamba Allah itulah yang aku cintai dengan sepenuh hati dengan jiwa yang bersih dengan hati yang tulus akan ridho dariNya.
Sosok itulah yang dapat mengubah hidupku walau hanya sebentar, dialah yang membawa hidupku kearah yang lebih baik. Kata demi kata, menjadi sebuah puisi, doa demi doa menjadi sebuah cinta untuk mendapatkan cinta Allah dan cinta laki laki itu.
Hari hari berganti dengan rutinitas yang sama dan jam yang sama, jika tidak ada jadwal ke sekolah, aku akan menunggunya di samping rumah dan mengintipnya atau bahkan memotret dirinya di sebuah ponsel.
Hal yang paling aku tunggu ialah ceramah malam di masjid, waktu yang pas dimana pembatas shaf antara pria dan wanita di buka dan aku dapat melihat nya dengan mata yang berbinar binar.
Tapi, mungkin ia merasa tak nyaman, aku membatasi hal tersebut dengannya saat aku sadar hal tersebut tidaklah layak, ia berhak mendapatkan kenyamanan dan kebebasan dalam berkehidupan, ia berhak mendapatkan privasi nya.
Aku berhenti mengejarnya, aku berhenti menunggunya, aku berhenti mengharapkannya. Aku berhenti mendoakan dirinya, padahal aku belum mengenalnya, aku belum mengetahui dirinya, namanya, umurnya, rumahnya, atau mungkin apakah ia mempunyai kekasih hati?
*
Cinta ini tak dapat menyembunyikan segalanya, saat raga ini tidak sengaja berjalan kearah berlawanan dengannya, Senyum pun tak dapat tertahan. Salah tingkah, hanya itu.
Tak ada aroma khas, tak ada tatapan khas, semua terjadi begitu saja. sampai akhirnya cinta lama kembali bersemi, cinta yang sudah seharusnya kepada seorang hamba taat dan sudah pastinya seorang laki laki.
Malam ini, 22 Februari 2026, tepat saat pulang dari shalat tarawih sunnah muakkad, aku melipat sajadah berdiri, belum sempat lirikan mata berjalan, sorotan tajam dari pria itu sudah lebih dulu menukik lensa mata.
Salah tingkah? tentu saja. Aku langsung membalikkan badan dan bersalam salaman dengan yang lainnya. Bergegas menaruh mushaf Alquran dan berjalan keluar.
Wallah, Allah menginginkan hamba nya yang terbaik, Allah kembali mempertemukan aku dengannya.
Jalan pulang kami hampir sama namun berbeda kanan dan kiri saja.
Dia menunggu ibu ibu yang juga ingin lewat di jalan kecil itu, ia mendahulukan wanita, mungkin pria itu memegang prinsip Ladies First.
Yang mau tak mau aku juga berjalan mendahuluinya, padahal aku ingin berjalan pelan dibelakangnya, namun tidak apa apa. Bahagia tetap ada walau menatapnya pun aku segan.
Hal ini yang membuat iman terus bertambah untuk terus mendoakan dirinya yang terbaik, mengharapkannya kembali, menatap wajah nya atau mungkin untuk mengenalnya lebih jauh dari sekedar tahu.
Wallah, ana uhibbukka fillah, kak
(Pesan author, kejar ia di langit dan di bumi selagi masih ada kesempatan, Allah will help you if you want to try)