"Ha!"
Seorang laki-laki terbangun ditemani bau desinfektan yang menusuk hidung dan cahaya lampu yang menyakiti mata.
"Uh," tenggorokannya terasa sangat kering sekarang.
Perhatiannya lalu teralih pada suara benturan di sisi kanannya. Laki-laki memalingkan wajahnya untuk melihat orang dengan pergelangan tangannya telah diikat dengan tali ke sisi ranjang. Setiap tangannya ingin bergerak suara keras dari sisi ranjang yang goyah mengikutinya. Dia kemudian melihat wajah orang itu, kedua matanya sepenuhnya ditutup dengan perban yang memiliki bercak dan bau darah yang menyengat.
Tidak tahan melihat hal mengerikan itu dia memalingkan wajahnya ke sisi lain. Hanya ada dinding dari kain di sisi ini. Tapi dia menyadari bahwa penglihatannya tidaklah sempurna. Tangan yang masih terasa lemas dipaksakannya untuk meraba sisi kiri wajahnya. Jari-jarinya meraba perban tebal yang melilit hingga ke telinganya.
Akhirnya dia membiarkan tangannya yang lemah terkulai di depan wajahnya. Bekas luka bakar yang telah mengering menutupi seluruh telapak tangannya itu. Lalu muncul suara langkah kaki yang mendekat, laki-laki itu mengabaikannya. Langkah itu berhenti di sisi belakang punggungnya dan suara seorang wanita memanggil dirinya dengan penuh kesedihan, "Will!"
Mata laki-laki terbuka lebar saat mendengarnya. Dengan susah payah dia mendorong seluruh tubuhnya hingga bisa melihat wanita itu.
"Aku senang kamu selamat, hiks," air mata wanita itu jatuh ke pipinya yang terlihat lembut. Tangan laki-laki itu ingin mengusapnya tapi tidak ada daya yang mampu dia lakukan.
"Ayo kita pulang," suara wanita itu kali ini menjadi lebih lemah. Dia lalu memegang erat telapak tangan laki-laki yang tidak berdaya ini. Dengan setengah berbisik wanita itu berbicara, "Suamiku."
Laki-laki berusaha keras membuka mulutnya. Tenggorokannya telah cukup terbasahi. Dengan mata yang berat berusaha menatap wanita itu, dia berkata, "Siapa kamu?"
Wajah wanita itu sangat syok mendengarnya. Tangannya sampai meremas jari laki-laki itu dengan lebih kuat. Mulutnya mau mengucap tapi dia tiba-tiba menutupnya. Air matanya kembali mengalir hingga tetesannya jatuh ke kulit tangan laki-laki itu.
"Maaf," suara wanita itu sesenggukan. Tapi akhirnya dia bisa menahan dirinya. Genggamannya melonggar tapi matanya menatap lebih tajam. "Apa kamu masih mengingat namamu?"
"Ti-tidak," laki-laki itu menjawab dengan beban yang terasa berat di hatinya.
"Baiklah," senyum wanita itu terasa begitu lembut sehinga membuat hati laki-laki itu lebih hancur. Dirinya tidak mau melihat wajah seperti itu dari wanita yang ada didepannya saat ini.
Wanita itu menarik tangannya melepaskan tangan si laki-laki. Tangannya menekan dadanya sendiri. Sambil menatapnya dia berkata, "Aku akan memanggil dokter." Matanya berusaha tegar untuk tetap menatap lurus, "Jangan khawatir, apapun yang terjadi dirimu akan selalu menjadi dirimu."
Jari laki-laki itu terentang berusaha menahan meraihnya tapi tidak ada yang bisa dia raih.
"Cukup denganmu pulang saja aku sudah senang."
Laki-laki sama sekali tidak mengenalinya tapi hatinya terus berteriak untuk jangan melepaskannya.
"Setidaknya aku harus mengatakan ini."
Pada akhirnya tangannya hanya bisa meremas kain sprei di bawahnya.
"Aku mencintaimu Will."