Angin musim gugur di Zurich berembus kencang, menusuk hingga ke tulang, namun rasa dingin itu tak ada apa-apanya dibandingkan kekosongan yang mendadak melubangi dadaku saat itu. Di apartemen mewah yang menghadap ke pegunungan Alpen, aku berdiri mematung di depan koper kulit cokelat yang kubawa dari Indonesia. Di sela-sela lipatan kain furing bagian dalam yang robek sedikit, aku menemukan sebuah bungkusan kecil. Kain mori kusam yang diikat benang tiga warna: merah, hitam, dan putih. Di dalamnya ada segumpal rambut, potongan kuku, dan foto pernikahanku dengan Mark yang telah ditusuk jarum tepat di bagian wajahku.
Seketika, duniaku runtuh. Bukan karena takut pada sihirnya, tapi karena aku tahu persis siapa yang terakhir kali menyentuh koper ini sebelum aku berangkat ke bandara. Ibu.
Aku adalah anak tunggal. Tumbuh besar dengan kasih sayang Ayah yang luar biasa sabar, meski ia harus menyaksikan istrinya pelan-pelan berubah menjadi sosok yang asing. Ibu tidak pernah merasa cukup. Keberhasilanku menyelesaikan kuliah dengan beasiswa dan akhirnya bekerja di perusahaan multinasional seolah menjadi kompetisi baginya. Puncaknya adalah ketika aku bertemu Mark, pria asal Swiss yang tulus mencintaiku. Saat Mark melamarku dan membawaku pindah ke Eropa, aku melihat ada kilatan yang bukan merupakan kebahagiaan di mata Ibu. Itu adalah dengki yang membara.
Hubungan orang tuaku hancur bukan karena kemiskinan. Ayahku adalah pria bersahaja yang memberikan seluruh gajinya untuk Ibu. Namun, Ibu terjebak dalam perselingkuhan dengan pria yang jauh lebih muda, seorang lelaki parasit yang hanya ingin menguras harta Ibu—harta yang sebenarnya berasal dari kiriman uang bulanku. Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Ayah memilih mundur dengan martabat yang masih terjaga. Ia tidak mencaci, ia hanya pergi. Ibu, yang merasa menang, justru ditinggalkan oleh selingkuhannya saat uangnya habis. Lelaki 'mokondo' itu lari entah ke mana, meninggalkan Ibu dalam depresi, kemarahan, dan akhirnya, kegilaan yang terencana.
Selama di Swiss, kesehatanku menurun drastis. Aku sering bermimpi buruk melihat diriku sendiri tenggelam di lumpur hitam. Hubunganku dengan Mark yang awalnya sangat harmonis tiba-tiba dipenuhi cekcok tak berdasar. Mark sering merasa melihat bayangan hitam di sudut kamar kami, sementara aku merasa leherku dicekik setiap kali ingin salat. Padahal, setiap bulan aku tak pernah absen mengirimkan uang dalam jumlah besar ke rekening Ibu, membelikannya barang-barang bermerek agar dia bahagia di masa tuanya, berharap materi bisa mengobati lukanya setelah ditinggal lelaki bajingan itu. Ternyata, uang itu justru dipakainya untuk mendatangi dukun demi mencelakai darah dagingnya sendiri.
Hari itu, setelah menemukan buhul di koper, aku segera menelepon Ayah di tanah air. Suara Ayah terdengar bergetar. Ia bercerita bahwa Ibu sudah kabur dari rumah, hidup berpindah-pindah dalam kondisi mental yang tidak stabil, menolak dibantu, dan terus meracau tentang "kejatuhan" pribadiku. Ayah tidak menikah lagi; ia menghabiskan waktunya di masjid, mendoakanku setiap sujudnya. Mungkin doa Ayah pulalah yang menuntun tanganku menemukan bungkusan terkutuk itu.
Atas saran Ayah, aku menghubungi seorang Ustaz yang dikenal ahli dalam pengobatan ruqyah syar'iyyah. Melalui sambungan video jarak jauh, proses penghancuran buhul itu dilakukan. Ustaz memintaku menyediakan air yang sudah dicampur garam dan sidr. Dengan tangan gemetar dan air mata yang tak berhenti mengalir, aku membuka ikatan benang tiga warna itu. Setiap kali ayat kursi dan surat Al-Falaq dibacakan, jantungku berdegup kencang seolah ingin melompat keluar. Saat kain itu kubakar dan abunya dilarutkan dalam air, aku merasakan sebuah beban yang sangat berat terangkat dari pundakku. Detik itu juga, napasku terasa ringan, seolah oksigen baru saja kembali ditemukan oleh paru-paruku setelah bertahun-tahun tersumbat.
Tangisku pecah malam itu. Aku menangis bukan karena dendam, tapi karena kasihan. Bagaimana mungkin seorang ibu, tempat surga berada di bawah telapak kakinya, justru menjadi orang yang paling menginginkan kehancuran anaknya? Rasa sakitnya lebih tajam dari jarum yang menusuk fotoku. Aku selalu menganggap kiriman uangku adalah bakti, ternyata bagi Ibu, itu hanyalah bahan bakar untuk api kecemburuannya. Ia iri karena aku memiliki hidup yang ia impikan: suami yang setia dan kesuksesan yang jujur.
Namun, setelah badai itu berlalu, fajar yang baru menyingsing di Zurich terasa berbeda. Mark masuk ke kamar, memelukku erat, dan berkata bahwa suasana rumah terasa "terang" kembali. Hubungan kami pulih, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Ayah di Indonesia juga mengabarkan bahwa ia merasa jauh lebih tenang sekarang. Meskipun kami tidak tahu di mana keberadaan Ibu sekarang setelah ia memilih jalan kesesatan dan kabur dalam kegelapannya sendiri, aku telah belajar untuk melepaskan. Aku memaafkannya, bukan karena dia layak dimaafkan, tapi karena jiwaku layak untuk damai.
Kini, aku berdiri di balkon, menatap pegunungan yang tertutup salju. Aku sadar bahwa cinta sejati tidak bisa dibeli dengan uang, dan kebencian sehebat apa pun tidak akan pernah menang melawan tulusnya doa seorang ayah dan perlindungan Tuhan. Buhul itu sudah hancur, begitu pula belenggu masa laluku. Kami hidup tenang, dalam syukur yang tak putus-putus, sementara Ibu biarlah menjadi urusan Sang Pencipta. Aku sudah cukup memberikan segalanya, kini saatnya aku memberikan kedamaian bagi diriku sendiri. Di bawah langit Eropa yang luas, aku akhirnya merasa benar-benar pulang.