Malam itu, langit terlalu sunyi untuk ukuran hati yang sedang patah.
Dina duduk di bangku taman, menatap layar ponselnya yang masih menampilkan chat terakhir dari Arga.
“Jangan terlalu berharap sama aku, ya.”
Lucu.
Karena justru Arga yang dulu datang membawa harapan.
Semua berawal dari pesan sederhana. Dari perhatian kecil. Dari “udah makan?” yang berubah jadi “aku di sini ya, buat kamu.”
Dina yang awalnya biasa saja… perlahan jatuh.
Arga selalu ada. Menjadi tempat pulang saat dunia terasa lelah. Membuat Dina percaya—ini bukan sekadar singgah.
“Kalau suatu hari aku pergi, kamu bakal gimana?” tanya Arga waktu itu.
Dina tertawa. “Kamu kan nggak akan pergi.”
Arga diam.
Dan Dina terlalu bahagia untuk menyadari… diam itu adalah jawaban.
Hari-hari mereka terasa seperti mimpi. Tanpa status, tapi penuh rasa. Tanpa janji, tapi seperti saling memiliki.
Sampai akhirnya, kenyataan datang tanpa permisi.
Dina melihat foto itu.
Arga… bersama perempuan lain.
Dengan caption sederhana: “Akhirnya, yang aku tunggu.”
Hati Dina runtuh saat itu juga.
Ia mencoba menghubungi Arga. Berkali-kali.
Hingga akhirnya dibalas.
“Aku kan dari awal udah bilang… jangan berharap.”
Air mata Dina jatuh satu per satu.
“Terus semua ini apa?” ketiknya gemetar.
Balasan Arga datang cepat.
“Cuma singgah.”
Cuma.
Satu kata yang menghancurkan segalanya.
Dina tertawa kecil di tengah tangisnya.
Ternyata benar…
Yang paling menyakitkan bukan saat dia pergi.
Tapi saat kamu sadar—selama ini kamu rumah… bagi seseorang yang hanya ingin berteduh sementara.
Malam makin larut.
Dina menghapus semua chat, semua foto, semua kenangan.
Bukan karena ia sudah lupa.
Tapi karena ia akhirnya mengerti—
Tidak semua yang datang dengan hangat… berniat untuk menetap.