Cahaya sore menerobos jendela, menyentuh dedaunan Monstera yang menari pelan tertiup angin. Di sudut itu, Mirsa Yan menyesap teh hangatnya, membiarkan uapnya menyentuh wajah. Baginya, riuh rendah dunia luar hanyalah gema jauh yang tak bermakna.
Di hadapannya, tumpukan buku adalah teman bicara yang paling jujur. Ia tidak perlu berpura-pura ceria atau merangkai kata agar dianggap ada. Di antara rak kayu yang penuh sesak dan aroma kertas lama, Mirsa menemukan rumahnya yang paling tenang.
Satu per satu kalimat ia lahap dalam hening. Tidak ada notifikasi ponsel yang berisik, tidak ada ekspektasi orang lain yang menghimpit. Hanya ada dia, pikirannya, dan imajinasi yang membumbung tinggi.
Ketika matahari mulai terbenam dan bayangan rak buku memanjang di lantai kayu, Mirsa menutup bukunya. Ia menarik napas panjang, meresapi kesunyian yang menyelimuti ruangan. Di luar sana, orang mungkin mengasihaninya karena ia tampak kesepian. Namun, bagi Mirsa, kesendirian ini bukanlah sebuah kekurangan—itu adalah kemewahan yang ia pilih dengan sadar.
Lampu meja ia matikan. Mirsa Yan tetap di sana, memeluk keheningan, tetap sendiri, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa benar-benar utuh.