Sore itu datang seperti biasa—langit jingga, angin yang pelan, dan suara kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti. Tapi bagi Alya, sore hari selalu punya arti lain. Ia adalah waktu di mana kenangan paling sering kembali tanpa permisi.
Alya duduk di bangku halte yang sudah terlalu ia kenal. Catnya mulai mengelupas, dan tiang besinya sedikit berkarat. Namun tempat itu menyimpan terlalu banyak cerita untuk sekadar dilupakan.
Di sinilah semuanya pernah terasa sederhana.
Tangannya menggenggam ponsel, membuka layar, lalu menguncinya lagi. Tidak ada pesan baru. Tidak ada nama yang muncul. Tidak ada Raka.
Sudah tujuh hari.
Tujuh hari tanpa kabar dari seseorang yang dulu hampir setiap jam mengirim pesan. Dari hal kecil seperti “udah makan?” sampai kalimat panjang yang kadang tak penting tapi selalu ia tunggu.
Alya tersenyum pahit.
“Lucu ya… yang dulu nggak pernah diam, sekarang malah hilang.”
Ia menatap jalanan di depannya. Orang-orang datang dan pergi. Beberapa tertawa, beberapa sibuk sendiri. Semua terlihat punya tujuan.
Berbeda dengannya.
Ia masih di tempat yang sama, dengan perasaan yang belum ke mana-mana.
Pikirannya melayang ke beberapa bulan lalu—ke hari pertama mereka bertemu. Raka datang dengan cara yang tidak istimewa, hanya duduk di sampingnya dan bertanya, “Bus ke arah pusat kota lewat sini, kan?”
Dari pertanyaan sederhana itu, semuanya berubah.
Raka bukan tipe yang terlalu serius. Ia santai, kadang menyebalkan, tapi selalu tahu cara membuat Alya tertawa. Dan tanpa sadar, kehadirannya menjadi sesuatu yang sulit digantikan.
“Kalau suatu hari kamu capek sama dunia,” kata Raka waktu itu, “duduk aja di sebelah aku. Nanti aku temenin.”
Janji sederhana yang kini terasa seperti ironi.
Karena sekarang, justru Raka yang tidak ada.
Alya menghela napas panjang. Ia menunduk, menatap sepatu putihnya yang sedikit kotor. Hatinya lelah menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Mungkin memang sudah selesai.
Mungkin ini cara semesta mengajarkan bahwa tidak semua yang indah harus dimiliki selamanya.
“Alya?”
Suara itu menghentikan segalanya.
Pelan-pelan, Alya mengangkat wajahnya. Dan di sana—berdiri tidak jauh darinya—seseorang yang selama ini hanya berani ia temui dalam ingatan.
Raka.
Dengan wajah yang sama, tapi sorot mata yang berbeda.
Dan di detik itu, Alya sadar…
Sore ini tidak akan biasa saja.