Di sebuah rumah kecil di ujung desa, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Farel. Tangisnya pecah seperti bayi lainnya, tapi bukan senyum yang menyambutnya—melainkan diam yang berat.
Farel terlahir dengan bibir sumbing.
Ibunya menatapnya lama, lalu memalingkan wajah. Ayahnya hanya berdiri kaku, seolah tak siap menerima kenyataan. Sejak hari itu, Farel tumbuh dalam dunia yang terasa setengah—setengah kasih sayang, setengah penerimaan.
Ia jarang digendong. Jarang dipuji. Bahkan, sering disembunyikan saat tamu datang.
“Jangan keluar dulu,” kata ibunya pelan, tapi cukup untuk membuat hati kecil Farel retak.
Saat mulai sekolah, dunia terasa lebih kejam. Anak-anak lain menatapnya aneh. Ada yang menertawakan cara bicaranya, ada yang menirukan wajahnya.
“Mulut rusak!” teriak seseorang suatu hari.
Farel pulang dengan mata sembab, tapi tak pernah mengadu. Ia hanya duduk di sudut kamar, menggambar. Dalam gambarnya, semua anak terlihat sama—tersenyum lebar, tanpa cela.
Hari-hari berlalu. Farel tumbuh menjadi anak yang pendiam, tapi hatinya kuat. Ia belajar menerima dirinya, meski dunia belum menerimanya.
Suatu hari, seorang relawan datang ke sekolahnya. Ia memperkenalkan program operasi gratis untuk anak-anak dengan bibir sumbing.
Untuk pertama kalinya, mata Farel berbinar.
Namun, saat ia pulang dan menceritakannya, ibunya hanya diam.
“Kita tidak punya uang untuk itu,” katanya dingin.
“Gratis, Bu…” suara Farel lirih.
Ibunya terdiam lama. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya—rasa bersalah yang selama ini terkubur.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ibunya masuk ke kamar Farel. Ia melihat tumpukan gambar di lantai. Semua gambar itu… adalah wajah tersenyum.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil satu.
“Ini kamu?” tanyanya.
Farel mengangguk.
“Kenapa selalu tersenyum?”
Farel menatap ibunya, matanya jernih.
“Karena aku ingin terlihat seperti anak yang Ibu inginkan…”
Hati sang ibu runtuh seketika.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Beberapa minggu kemudian, Farel menjalani operasi. Prosesnya panjang dan tidak mudah. Tapi saat perban itu akhirnya dibuka…
Untuk pertama kalinya, Farel melihat dirinya di cermin—dan tersenyum.
Bukan karena wajahnya kini berbeda, tapi karena di belakangnya… ada ibunya, yang akhirnya memeluknya erat.
“Maafkan Ibu…” bisiknya.
Farel tidak menjawab. Ia hanya memeluk kembali, lebih kuat dari sebelumnya.
Karena bagi Farel, yang paling ia tunggu bukanlah wajah baru—
melainkan cinta yang akhirnya datang.