Di Desa Ngrobyong, Garum, Blitar—tepat di sebelah timur lampu merah—ada sebuah jalan yang begitu terkenal, begitu legendaris, begitu konsisten dalam penderitaannya, sampai-sampai warga sekitar tidak lagi menyebutnya “jalan rusak”.
Mereka menyebutnya dengan penuh hormat:
“Rawan.”
Bukan tanpa alasan. Jalan itu tidak seperti jalan biasa yang hanya bertugas menghubungkan titik A ke titik B. Tidak. Jalan itu punya visi. Punya karakter. Punya idealisme. Ia menolak tunduk pada standar aspal nasional. Ia menolak mulus. Ia menolak rata. Ia menolak harapan. (Jalannya yang menolak!)
Kalau jalan lain bercita-cita menjadi halus, rapi, dan nyaman, jalan di timur lampu merah Ngrobyong ini justru memilih jalan sunyi seorang filsuf: tetap rusak, apa pun yang terjadi.
Bahkan kalau hujan turun deras tiga hari tiga malam, ia rusak.
Kalau panas terik menyengat sampai ayam berpikir untuk resign dari profesinya, ia tetap rusak.
Kalau ada pejabat lewat, ia rusak tapi dengan tata krama.
Kalau ada kabar mau diperbaiki, ia mendadak lebih rusak lagi, seolah ingin berkata, “Jangan janji kalau tak siap menepati!”
Yang paling aneh bukan rusaknya. Warga sudah berdamai dengan itu. Yang paling aneh adalah: jalan itu selalu dijaga.
Pagi ada yang jaga.
Siang ada yang jaga.
Malam ada yang jaga.
Bahkan jam-jam ketika orang waras memilih tidur, jalan itu tetap ada penjaganya. Selalu berdiri di pinggir, membawa kardus, menatap setiap kendaraan yang datang dengan ekspresi campuran antara petugas parkir, pahlawan kemanusiaan, dan sales promo minimarket.
Seolah-olah jalan itu bukan akses umum, melainkan pintu masuk menuju tempat wisata eksklusif.
Seolah-olah di ujung sana ada air terjun tujuh warna, kebun stroberi, atau minimal spot selfie berbentuk hati.
Padahal yang ada cuma kubangan, bebatuan, motor oleng, dan pengendara yang seketika menjadi ahli zig-zag tingkat nasional.
Aku tahu semua itu karena aku, sebagai warga yang terlalu sering lewat sana, telah berulang kali menjadi korban sekaligus saksi sejarah.
Namaku Saman. Profesi: serabutan. Hobi: menghindari lubang. Keahlian khusus: bisa menebak kedalaman kubangan dari warna airnya.
Suatu pagi, saat matahari baru naik dan ayam tetangga baru selesai rapat subuh, aku melintas di jalan itu dengan motor tuaku. Dari kejauhan sudah terlihat satu sosok pria berdiri tegak di tepi jalan. Di tangannya ada kardus mie instan bekas. Wajahnya serius. Tatapannya tajam. Auranya seperti petugas keamanan negara, padahal kausnya bertuliskan “Panitia Jalan Sehat 2017”.
Begitu aku mendekat, ia melambaikan tangan.
“Pelan-pelan, Mas! Lubangnya semangat semua ini!” katanya.
Aku memperlambat motor. Di depanku ada tiga lubang besar, dua kecil, dan satu yang bentuknya ambigu. Entah lubang, entah pintu masuk ke mana saja.
Aku berhasil lolos.
Saat hendak tancap gas, pria itu mendekat sambil menyodorkan kardus.
“Seikhlasnya, Mas.”
Aku menatap kardus, lalu menatap dia, lalu menatap jalan, lalu menatap masa depan yang terasa buram.
“Ini buat apa, Pak?” tanyaku.
“Buat jaga jalan.”
“Jalannya punya masalah kesehatan?”
“Bukan. Biar orang tahu mana yang lubang.”
Aku mengangguk pelan.
Logis. Sangat logis. Begitu logis sampai membuatku ingin pulang dan memikirkan ulang makna pembangunan.
Aku masukkan dua ribu rupiah. Bapak itu tersenyum hangat seperti penjaga loket wisata yang baru saja menerima rombongan pertama.
“Terima kasih, Mas. Selamat menikmati perjalanan.”
Menikmati perjalanan.
Kalimat itu menancap di kepalaku.
Menikmati?
Perjalanan lewat jalan rusak ini ternyata bukan sekadar lewat. Ini pengalaman. Ini petualangan. Ini mungkin memang objek wisata yang belum diresmikan.
Sejak saat itu, rasa penasaranku tumbuh.
Aku mulai memperhatikan lebih serius. Setiap kali lewat, selalu ada orang berbeda. Kadang dua orang. Kadang tiga. Kadang yang jaga bapak-bapak. Kadang pemuda. Kadang ibu-ibu juga ada, meski lebih sering bagian logistik dan pengawasan moral.
Yang aneh, sistem jaga mereka rapi. Bergantian. Punya kardus. Punya posisi. Punya semangat pelayanan.
Seolah mereka menjalankan organisasi resmi yang belum terdaftar di kementerian mana pun.
Puncak rasa ingin tahuku meledak pada suatu malam ketika aku pulang dari hajatan. Jam sebelas. Jalanan lengang. Udara dingin. Lampu kendaraan memantul di genangan-genangan seperti refleksi nasib rakyat jelata.
Dan, seperti biasa, ada orang jaga.
Aku menghentikan motor.
Penjaganya malam itu seorang pemuda kurus, pakai jaket hitam, celana training, dan sandal jepit yang tampaknya sudah mengerti pahitnya hidup. Di tangannya, kardus air mineral.
“Mas,” kataku hati-hati, “sampean ini shift malam?”
Ia mengangguk bangga. “Iya. Saya bagian malam.”
“Memang ada shift?”
“Ada, Mas. Pagi, siang, sore, malam. Nanti kalau mendekati Lebaran kadang lembur.”
Aku terdiam.
Jalan ini ternyata bukan sekadar rusak. Ia memiliki manajemen operasional.
“Sampean ini dibayar?” tanyaku.
Ia menggaruk kepala. “Ya enggak pasti sih. Kadang dapat, kadang enggak. Tergantung kendaraan yang lewat, dan seberapa meyakinkan tampang saya malam ini.”
“Lho, kenapa dijaga terus?”
Ia tertawa kecil, pahit tapi profesional.
“Kalau enggak dijaga, banyak yang jatuh, Mas. Kalau banyak yang jatuh, ramai. Kalau ramai, warga keluar. Kalau warga keluar, yang disalahkan ya kita semua. Padahal yang bikin jalan kayak kolam lele bukan kita.”
Aku mengangguk. Pemuda itu benar. Jalan ini sudah bukan infrastruktur. Ini kolam.
Sejak malam itu, aku resmi terobsesi. Aku mulai melakukan investigasi kecil-kecilan, seperti wartawan kampung yang kehilangan proyek liputan.
Aku tanya-tanya warga.
Versi pertama dari Pak Rijanto, pensiunan yang hobinya mengamati segala sesuatu dari kursi bambu depan rumah.
“Jalan itu punya kutukan,” katanya sambil menyeruput kopi. “Dulu katanya mau dibaguskan. Tapi tiap kali mau diperbaiki, entah alatnya enggak jadi datang, entah bahannya hilang, entah dananya muter-muter seperti layangan putus.”
Versi kedua dari Bu Rini, pemilik warung.
“Bukan kutukan. Itu strategi ekonomi. Kalau jalannya rusak, orang jalan pelan. Kalau jalan pelan, bisa lihat warung saya. Kalau bisa lihat warung saya, mungkin beli kopi.”
Aku memandang Bu Rini dengan hormat. Ternyata kapitalisme lokal tumbuh subur di antara lubang-lubang.
Versi ketiga dari Beky, tukang tambal ban.
“Menurutku sengaja dibiarkan. Biar kami tetap punya kerjaan.”
“Aku pikir yang untung cuma bengkel,” kataku.
“Bengkel, tambal ban, penjual kopi, penjual gorengan, penjaga jalan, semua bergerak, Man. Ini namanya ekonomi lubang.”
Ekonomi lubang.
Kalau Adam Smith lahir di Ngrobyong, mungkin teorinya akan beda.
Bukan “invisible hand”.
Tapi “invisible hole”.
Lubang tak terlihat yang justru menggerakkan perputaran uang rakyat.
Suatu hari, desas-desus menyebar: akan ada pejabat lewat meninjau jalan itu.
Warga gempar. Penjaga jalan rapat mendadak. Kardus-kardus disiapkan. Lubang-lubang diamati dengan saksama. Ada suasana seperti mau menyambut tamu agung.
Aku sengaja datang lebih awal untuk menonton.
Benar saja. Sekitar pukul sembilan pagi, rombongan mobil datang. Mengilap. Bersih. Ban-bannya kelihatan belum pernah merasakan trauma.
Seorang pejabat turun, pakai kemeja rapi dan senyum yang sudah terlatih untuk segala cuaca.
Beliau memandang jalan itu dengan wajah prihatin yang kalau dilihat sekilas menyentuh, tapi kalau diperhatikan lebih lama terasa seperti ekspresi orang yang belum sarapan.
“Ini sangat memprihatinkan,” katanya.
Warga mengangguk.
“Harus segera ditindaklanjuti,” katanya lagi.
Warga mengangguk lebih semangat.
“Sudah masuk perencanaan.”
Warga mulai saling pandang.
Masuk perencanaan adalah kalimat yang di kampung kami kedudukannya setara dengan “nanti kita lihat” dalam hubungan percintaan: terdengar sopan, tapi tidak menjamin apa-apa.
Seorang penjaga jalan maju. Namanya Bejo. Veteran lapangan. Sudah bertahun-tahun mengabdi di divisi kardus dan penunjuk arah kubangan.
“Pak,” katanya sopan, “kalau boleh usul, sebelum ditindaklanjuti, setidaknya dipasang papan nama dulu.”
Pejabat itu bingung. “Papan nama apa?”
Bejo menatap jalan itu dengan mata berbinar.
“Biar resmi, Pak. Soalnya ini sudah kayak tempat wisata. Orang lewat pelan, foto-foto, komentar, kadang hampir jatuh. Tinggal loket sama toilet umum.”
Beberapa warga tertawa. Beberapa lainnya manggut-manggut, merasa itu usulan paling realistis yang pernah muncul.
Pejabat itu ikut tertawa tipis. Tawa pejabat biasanya seperti itu: cukup terdengar, tapi tidak cukup berkomitmen.
Namun entah kenapa, mungkin karena suasana, mungkin karena beliau sedang ingin terlihat membumi, beliau berkata, “Hehe, bisa juga itu.”
Kalimat itu adalah awal bencana.
Dalam dua hari, warga membuat papan dari triplek bekas.
Tulisan besarnya:
SELAMAT DATANG DI KAWASAN WISATA KOLAM LELE
Destinasi unggulan timur lampu merah Ngrobyong
Di bawahnya ada tambahan kecil:
Buka 24 jam. Tiket seikhlasnya. Wahana utama: goyang suspensi, tebak kedalaman, dan refleksi kehidupan.
Aku hampir jatuh dari motor saat pertama kali membacanya.
Tapi yang lebih mengejutkan, papan itu justru menarik perhatian.
Orang-orang mulai sengaja berhenti. Ada yang foto. Ada yang bikin video. Ada yang tertawa. Ada yang mengunggah ke media sosial. Ada yang berkomentar, “Ini satire level kecamatan.”
Dalam waktu singkat, jalan itu benar-benar jadi terkenal.
Penjaga jalan kini bekerja dengan penuh kebanggaan. Mereka tak lagi sekadar melambaikan tangan. Mereka mulai memberi narasi.
“Silakan masuk, Bapak-Ibu, hati-hati di kejebur kolam lele!”
“Untuk kendaraan rendah, kami sarankan jalur kiri, sensasi sedang.”
“Untuk yang ingin pengalaman premium, silakan ambil jalan tengah!”
Satu kali aku bahkan mendengar seorang penjaga berkata kepada pengendara:
“Kalau beruntung, Pak, panjenengan bisa lihat dasar kolam. Tapi sejauh ini belum ada yang berhasil.”
Lucunya, warga luar desa mulai berdatangan cuma untuk memastikan cerita itu benar. Ada yang penasaran. Ada yang iseng. Ada yang sengaja ngajak temannya lewat situ biar merasakan “uji nyali administratif”.
Warung Bu Rini laris.
Tambal ban Beky antre.
Penjaga jalan dapat lebih banyak uang.
Anak-anak kecil mulai menjual es.
Sementara jalannya?
Tetap rusak.
Ia tetap setia pada jati dirinya.
Seorang mahasiswa dari kota bahkan datang untuk membuat konten dokumenter. Judulnya: “Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Infrastruktur yang Gagal.”
Warga bangga.
“Lihat,” kata Pak Rijanto, “akhirnya desa kita masuk dunia akademik.”
***
Tetapi seperti semua kisah besar, kejayaan itu tak berlangsung selamanya.
Suatu pagi, tanpa aba-aba, datanglah alat berat.
Truk. Batu. Aspal. Pekerja.
Warga berkerumun. Penjaga jalan berdiri terpaku dengan kardus di tangan, seperti pasukan kerajaan yang mendadak tahu istananya akan direnovasi—bukan untuk diperbaiki, tapi untuk difoto sebelum rusak lagi.
“Ini beneran diperbaiki?” tanyaku pada Bejo.
Ia mengangguk pelan. Tidak lemah. Lebih tepatnya… realistis.
Hari itu jalan mulai dikerjakan.
Lubang-lubang ditimbun—tidak semua. Kubangan ditutup—sebagian. Batu diratakan—yang terlihat saja. Aspal digelar—tipis, seperti janji yang disampaikan saat kampanye tapi lupa dibawa pulang.
Selama tiga hari, jalan itu tampak seperti harapan yang sedang dicoba untuk diseriusi.
Hari keempat, alat berat pergi.
Hari kelima, warga mulai saling pandang.
Hari keenam, kenyataan mulai terasa.
Jalan itu… tidak lagi sepenuhnya rusak.
Tapi juga jauh dari kata baik.
Ia kini berada di fase yang lebih berbahaya: setengah diperbaiki.
Lubang besar memang hilang. Tapi lubang kecil bermunculan, seperti anak-anaknya yang tumbuh mandiri.
Permukaan jalan tampak halus dari jauh, tapi bergelombang seperti emosi orang yang habis baca komentar netizen.
Genangan air tidak lagi luas, tapi cukup dalam untuk menguji iman.
Pengendara mulai bingung.
Kalau pelan, dianggap lebay.
Kalau cepat, berpotensi tobat.
Warung Bu Rini tidak sepenuhnya sepi.
Beky tidak sepenuhnya kehilangan pekerjaan.
Penjaga jalan… tidak bubar.
Mereka hanya rebranding.
Papan “Kawasan Wisata Kolam Lele” tidak dicopot.
Ia justru diperbarui.
Ditambah tulisan kecil di bawahnya:
“Wahana telah di-upgrade. Sekarang tersedia paket ‘Semi Premium Experience’.”
Bejo kini berdiri lagi di pinggir jalan, tapi dengan gaya lebih profesional. Kardusnya diganti plastik bening. Branding meningkat.
“Pelan-pelan, Mas,” katanya. “Sekarang lubangnya lebih variatif.”
Aku mencoba melewati jalan itu.
Benar saja.
Tidak ekstrem seperti dulu.
Tapi lebih licik.
Kalau dulu lubangnya jujur—terlihat, menganga, terang-terangan menantang.
Sekarang lubangnya berkamuflase.
Tipis.
Tersembunyi.
Muncul tiba-tiba seperti masalah hidup yang datang saat gajian belum turun.
Aku hampir oleng.
Bejo tersenyum.
“Yang sekarang bukan soal dalam, Mas,” katanya bijak. “Tapi soal timing.”
Aku mengangguk.
Ini bukan lagi jalan rusak biasa.
Ini sudah naik level menjadi simulasi kehidupan.
Dari kejauhan, Rijanto duduk di kursi bambunya, menatap jalan itu dengan penuh perenungan.
“Lebih berbahaya yang setengah baik,” katanya pelan. “Kalau rusak sekalian, orang waspada. Kalau bagus sekalian, orang nyaman. Tapi kalau begini…”
Ia menghela napas.
“…orang percaya. Itu yang bahaya.”
Beky, di samping warung, sedang menambal ban sambil bersiul santai.
“Rezeki tetap ngalir,” katanya. “Cuma sekarang lebih elegan.”
Bu Rini bahkan mulai jual paket hemat:
“Kopi + gorengan + nunggu shock depan bunyi.”
Laris.
Sore harinya, aku duduk di pinggir jalan itu.
Melihat kendaraan lewat.
Melihat orang-orang masih memperlambat laju.
Masih melirik.
Masih berhati-hati.
Masih… butuh penjaga.
Dan di situlah aku sadar:
Jalan ini tidak pernah benar-benar diperbaiki.
Ia hanya diubah bentuk rusaknya.
Dari yang terang-terangan… menjadi yang sopan.
Dari yang kasar… menjadi yang halus tapi menyakitkan.
Dari yang membuat orang mengumpat… menjadi yang membuat orang berpikir, “Ah, masih mending.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tapi karena terlalu akrab.
Karena di negeri ini, kerusakan jarang benar-benar hilang.
Ia hanya berganti wajah.
Lebih rapi.
Lebih bisa diterima.
Lebih susah diprotes.
Dan di Desa Ngrobyong, timur lampu merah itu, selama ada yang setengah dikerjakan dan setengah ditinggalkan, akan selalu ada orang-orang yang berdiri di pinggir jalan…
membawa kardus,
menawarkan bantuan,
sekaligus menjadi saksi bahwa sesuatu yang seharusnya selesai, sering kali justru dibuat cukup—supaya tidak pernah benar-benar beres.
Maka berdirilah mereka di sana:
pagi, siang, malam,
bukan lagi menjaga lubang yang besar…
tapi menjaga kemungkinan orang jatuh pada lubang yang terlihat baik-baik saja.
Dan setiap kendaraan yang melintas, sesungguhnya tidak sedang melewati jalan.
Mereka sedang melewati satu pelajaran penting:
bahwa yang paling berbahaya bukanlah kerusakan yang jelas terlihat—
melainkan perbaikan yang membuat kita berhenti curiga.
Selesai