Rina masih ingat betul janji manis Ardi sebelum mereka menikah. “Aku akan selalu cukupkan kebutuhan kita,” katanya dulu, sambil menggenggam tangan Rina dengan hangat. Saat itu, Rina percaya sepenuh hati.
Namun, setelah dua tahun menikah, Rina mulai menyadari bahwa arti “cukup” bagi Ardi ternyata sangat berbeda.
Ardi bukan orang yang tidak punya uang. Ia bekerja di perusahaan yang cukup mapan, gajinya stabil, bahkan sering mendapat bonus. Tapi setiap kali Rina
membicarakan kebutuhan rumah tangga, Ardi selalu mengernyit.
“Buat apa beli yang mahal? Yang murah juga bisa,” katanya setiap kali Rina ingin mengganti peralatan dapur yang sudah rusak.
Awalnya, Rina mencoba mengerti. Ia pikir Ardi hanya hemat. Tapi lama-lama, rasa itu berubah menjadi sesak.
Suatu sore, Rina berdiri di dapur dengan kompor yang apinya kecil dan sering mati sendiri. Ia menghela napas, lalu memberanikan diri bicara.
“Mas, kompor kita sudah bahaya. Tadi hampir meledak kecil,” ucapnya pelan.
Ardi yang sedang bermain ponsel hanya melirik sekilas. “Masih bisa dipakai kan? Jangan boros, Rin.”
Kata “boros” itu seperti pisau yang pelan-pelan mengiris hati Rina.
Ia bukan ingin hidup mewah. Ia hanya ingin hidup layak.
Hari demi hari, Rina mulai merasa seperti hidup sendirian dalam pernikahannya. Ia harus menghitung setiap rupiah untuk kebutuhan rumah, bahkan untuk membeli sabun atau beras. Sementara Ardi… selalu punya uang untuk hal yang ia anggap penting—hobinya, koleksi barang elektronik, dan tabungan pribadinya yang tak pernah ia jelaskan.
Suatu malam, Rina menemukan bukti yang membuat hatinya runtuh.
Tanpa sengaja, ia melihat mutasi rekening Ardi yang terbuka di laptop. Saldo yang tersimpan sangat besar—jauh lebih dari yang ia bayangkan.
Rina terdiam lama. Tangannya gemetar.
“Jadi… selama ini bukan tidak ada uang,” bisiknya lirih.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Rina menangis bukan karena lelah… tapi karena merasa tidak dihargai.
Keesokan harinya, Rina duduk di depan Ardi dengan wajah tenang, meski hatinya penuh gejolak.
“Mas, aku mau tanya jujur. Kita ini sebenarnya kekurangan atau kamu yang tidak mau berbagi?”
Ardi terkejut. “Maksud kamu apa?”
“Aku lihat rekening kamu,” kata Rina pelan. “Kita punya cukup uang. Tapi kenapa aku selalu harus merasa seperti minta-minta di rumah sendiri?”
Ruangan itu hening.
Ardi tidak langsung menjawab. Wajahnya berubah kaku.
“Aku cuma ingin kita aman secara finansial,” katanya akhirnya.
Rina tersenyum pahit. “Aman untuk siapa, Mas? Kamu? Atau kita?”
Pertanyaan itu menggantung.
Rina melanjutkan, suaranya mulai bergetar, “Aku tidak butuh hidup mewah. Aku cuma butuh suami yang peduli. Yang tidak membuat istrinya merasa seperti beban.”
Ardi menunduk. Untuk pertama kalinya, ia terlihat kehabisan kata.
Hari itu menjadi titik balik.
Tidak langsung berubah. Tidak langsung sempurna.
Tapi Ardi mulai belajar—bahwa pelit bukan soal uang, tapi soal hati. Dan Rina pun mulai belajar—bahwa diam terlalu lama hanya akan membuat luka semakin dalam.
Pernikahan mereka tidak runtuh… tapi juga tidak lagi sama.
Karena kadang, yang paling menyakitkan bukan kekurangan uang—
melainkan merasa tidak dianggap dalam rumah sendiri.