Di sebuah kota yang selalu ramai dengan notifikasi dan koneksi WiFi, hiduplah seorang anak Gen Z bernama Raka.
Raka bukan tipe yang bisa lepas dari ponselnya. Bangun tidur, hal pertama yang dia lakukan bukan cuci muka, tapi cek notifikasi. Dari grup sekolah, media sosial, sampai berita viral—semuanya terasa penting. Tapi anehnya, semakin banyak yang dia lihat, semakin dia merasa kosong.
Suatu hari, Raka duduk di kafe sendirian. Di sekelilingnya, semua orang juga sibuk dengan layar masing-masing. Ada yang tertawa sendiri, ada yang scrolling tanpa henti, ada yang foto kopi tapi kopinya malah dingin.
Raka bergumam pelan,
“Kenapa ya… kita semua keliatan sibuk, tapi kayaknya nggak benar-benar hidup?”
Di tengah kebingungannya, datang sahabatnya, Naya. Berbeda dengan Raka, Naya justru sering “hilang” dari dunia online. Dia lebih suka jalan sore, baca buku fisik, atau sekadar duduk tanpa musik.
“Lo kenapa bengong?” tanya Naya.
Raka cerita semuanya—tentang rasa capek, tentang overthinking karena media sosial, tentang tekanan harus selalu terlihat “baik-baik saja”.
Naya cuma tersenyum kecil.
“Lo tahu nggak, Ka… kita ini generasi yang paling terkoneksi, tapi juga paling gampang ngerasa sendirian.”
Kalimat itu kena banget di hati Raka.
Sejak hari itu, Raka mulai berubah. Bukan berarti dia berhenti jadi anak Gen Z—dia tetap pakai teknologi, tetap update tren. Tapi dia mulai kasih batas.
Dia belajar:
Nggak semua hal harus diposting
Nggak semua opini harus ditanggapi
Dan nggak semua orang di internet benar-benar peduli
Dia mulai lebih sering ngobrol langsung, bukan cuma chat. Lebih sering menikmati momen tanpa kamera. Lebih sering diam tanpa takut ketinggalan.
Dan untuk pertama kalinya, Raka merasa… cukup.
Di dunia Gen Z yang serba cepat, Raka akhirnya menemukan satu hal yang jarang dimiliki: keseimbangan.
Karena ternyata, jadi Gen Z bukan tentang seberapa update kamu—
tapi seberapa kamu mengenal diri sendiri di tengah semua kebisingan itu.