Di langit fajar, hiduplah Eos, dewi yang setiap pagi membuka gerbang matahari dengan cahaya merah muda.Ia dikenal cantik, anggun, namun hatinya kesepian—karena sebagai dewi, ia abadi… sementara semua yang ia lihat di dunia fana akan menua dan mati.
Suatu hari, saat menyapu langit dengan cahaya pertama, Eos melihat seorang pria manusia berdiri di puncak bukit, menatap matahari terbit dengan penuh kekaguman.Ia adalah Tithonus, seorang pangeran tampan dengan hati yang lembut.
Sejak saat itu, Eos jatuh cinta.
Setiap pagi, ia turun ke bumi, menyamar sebagai wanita biasa, dan berbincang dengan Tithonus.Mereka tertawa, berbagi cerita, dan saling jatuh cinta tanpa batas.
Namun ada satu hal yang menghantui Eos—Tithonus adalah manusia.
“Aku tidak ingin kehilanganmu,” bisik Eos suatu pagi.
“Aku pun tidak ingin meninggalkanmu,” jawab Tithonus, menggenggam tangannya.
Karena takut kehilangan, Eos memohon kepada Zeus, raja para dewa, agar memberikan keabadian kepada Tithonus.
“Jadikan dia abadi… agar kami bisa bersama selamanya.”
Zeus mengabulkan permintaan itu.
Namun dalam kebahagiaannya… Eos lupa satu hal penting.
Ia tidak meminta keabadian masa muda.
Waktu berlalu.
Tithonus tidak mati… tetapi ia terus menua.
Rambutnya memutih, kulitnya keriput, tubuhnya melemah.Sementara Eos tetap cantik seperti fajar yang tak berubah.
“Tolong… akhiri hidupku…” bisik Tithonus suatu hari, suaranya hampir tak terdengar.
Namun Eos hanya bisa menangis.
Ia telah membuat pria yang dicintainya hidup selamanya… dalam penderitaan.
Hari demi hari, tubuh Tithonus semakin rapuh hingga ia tak mampu bergerak.Ia hanya bisa berbaring, mengulang kata-kata yang sama dengan suara serak.
Dalam keputusasaan, Eos memohon lagi kepada Zeus.
“Jika aku tak bisa menyelamatkannya… setidaknya bebaskan dia dari penderitaan ini.”
Zeus pun tersentuh.
Ia mengubah Tithonus menjadi seekor jangkrik kecil—makhluk yang hidup lama, bernyanyi tanpa henti, namun bebas dari tubuh rapuhnya.
Sejak saat itu, setiap fajar, Eos tetap membuka langit dengan cahaya merahnya.Namun kini, di antara suara pagi yang sunyi, terdengar nyanyian lirih seekor jangkrik.
Itulah Tithonus.
Cinta mereka tidak pernah berakhir… tetapi juga tidak pernah benar-benar bahagia.
Cinta yang tulus membutuhkan kebijaksanaan.Keinginan untuk memiliki selamanya bisa menjadi kutukan jika tidak disertai pemahaman tentang kehidupan itu sendiri.
Tamat.