Di sebuah desa terpencil di kaki pegunungan di Sumatra Barat, hiduplah seorang gadis yatim piatu bernama Lestari.Ia dikenal sebagai gadis yang rajin, lembut, dan selalu membantu siapa saja, meskipun hidupnya serba kekurangan.
Suatu hari, saat mengambil air di hutan, Lestari mendengar suara tangisan yang sangat merdu, seperti nyanyian.Ia mengikuti suara itu hingga menemukan sebuah kolam kecil yang jernih.
Di tepi kolam itu, berdirilah seorang wanita yang sangat cantik dengan pakaian berkilau seperti cahaya bulan.Ia adalah seorang bidadari dari kahyangan.
“Aku kehilangan selendangku… tanpa itu, aku tak bisa kembali ke langit,” ucap bidadari itu dengan suara lirih.
Lestari merasa iba.Ia pun membantu mencari selendang itu hingga ke dalam semak-semak dan bebatuan.Setelah lama mencari, akhirnya ia menemukannya tersangkut di ranting pohon.
Bidadari itu tersenyum haru.“Sebagai balasan, aku akan memberimu sebuah anugerah.”
Namun Lestari menggeleng.“Aku tidak mengharapkan apa pun. Aku hanya ingin membantu.”
Bidadari itu terdiam, lalu meneteskan air mata.Ajaibnya, setiap air mata yang jatuh berubah menjadi butiran air jernih yang memancarkan cahaya.
“Baiklah… jika suatu saat kau membutuhkan pertolongan, panggillah aku di tempat ini,” katanya sebelum menghilang ke langit.
Hari demi hari berlalu.Desa Lestari mengalami kemarau panjang.Sawah mengering, sumur-sumur kosong, dan warga mulai putus asa.
Lestari teringat akan bidadari itu.Ia pun berlari ke kolam di hutan dan berdoa dengan penuh harap.
“Jika kau mendengarku… tolonglah desaku…”
Langit tiba-tiba mendung.Angin berhembus lembut.Bidadari itu muncul kembali, namun wajahnya sedih.
“Aku bisa menolong… tapi ada harga yang harus dibayar,” katanya.
“Apa pun akan kulakukan,” jawab Lestari tanpa ragu.
“Air mata bidadari hanya bisa mengalir jika hati manusia yang tulus bersedia menjadi pengorbanan.”
Lestari terdiam sejenak… lalu tersenyum.“Jika itu bisa menyelamatkan banyak orang… aku siap.”
Bidadari itu menangis.Air matanya jatuh ke kolam, dan air itu mulai meluap, mengalir deras menjadi sungai yang menuju desa.
Namun perlahan… tubuh Lestari berubah menjadi cahaya dan menghilang bersama air tersebut.
Sejak saat itu, desa tersebut kembali subur.Di tempat kolam itu, terbentuklah sebuah danau yang tak pernah kering, bahkan saat kemarau panjang.
Warga menamainya Danau Air Mata Bidadari.
Konon, saat bulan purnama, terlihat bayangan seorang gadis tersenyum di permukaan air—Lestari, yang telah menjadi bagian dari kehidupan desa selamanya.
Kebaikan yang tulus tidak pernah sia-sia. Pengorbanan yang dilakukan dengan hati ikhlas akan membawa kebaikan bagi banyak orang, bahkan jika kita harus kehilangan sesuatu yang berharga.
Tamat.