Di sebuah desa sunyi di tanah Jawa, hiduplah seorang janda tua bernama Mbok Srini.Hari-harinya dipenuhi kesepian.Setiap pagi, ia hanya ditemani suara angin dan dedaunan yang bergesekan.
“Seandainya aku punya anak…” gumamnya lirih suatu sore.
Suatu hari, saat ia sedang berdoa di ladang, tiba-tiba muncul sosok raksasa besar berkulit hijau.Namanya Buto Ijo.
“Aku bisa memberimu anak,” katanya dengan suara menggelegar.“Tapi dengan satu syarat… saat anak itu berusia 17 tahun, kau harus menyerahkannya padaku.”
Mbok Srini terkejut.Hatinya ragu, tetapi keinginannya untuk memiliki anak begitu besar.Akhirnya, ia mengangguk.
Buto Ijo lalu memberinya sebuah biji mentimun.
“Tanam ini,” ujarnya, lalu menghilang.
Beberapa hari kemudian, tumbuhlah sebuah tanaman mentimun yang sangat besar.Salah satu buahnya berwarna keemasan dan bercahaya.Dengan hati berdebar, Mbok Srini membelah mentimun itu.
Betapa terkejutnya ia… di dalamnya terdapat seorang bayi perempuan yang cantik.
“Anakku… aku akan memanggilmu Timun Mas,” katanya sambil memeluk bayi itu dengan air mata haru.
Tahun demi tahun berlalu.Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang baik hati, rajin, dan cantik.Mbok Srini sangat menyayanginya.Namun, di balik kebahagiaan itu, ia tak pernah melupakan janji kepada Buto Ijo.
Hingga suatu hari… suara langkah berat mengguncang tanah.
“Mbok Srini! Aku datang menagih janjimu!” teriak Buto Ijo.
Dengan hati gemetar, Mbok Srini menyembunyikan Timun Mas.Malam itu, ia berdoa memohon pertolongan.Dalam mimpinya, ia mendapat petunjuk untuk menemui seorang pertapa di gunung.
Keesokan harinya, Mbok Srini pergi dan kembali dengan empat bungkusan kecil biji mentimun, jarum, garam, dan terasi.
“Jika Buto Ijo mengejarmu, gunakan ini satu per satu,” pesan Mbok Srini kepada Timun Mas.
Pagi berikutnya, Timun Mas melarikan diri ke hutan.Tak lama, Buto Ijo menyadari dan mengejarnya dengan langkah besar.
Timun Mas berlari sekuat tenaga.
Saat Buto Ijo semakin dekat, ia melemparkan biji mentimun.
Seketika, tumbuhlah ladang mentimun lebat yang menghalangi jalan Buto Ijo.Namun, raksasa itu dengan mudah menghancurkannya.
Timun Mas terus berlari.
Ia melemparkan jarum.
Hutan bambu runcing tiba-tiba tumbuh, menusuk kaki Buto Ijo.Raksasa itu meraung kesakitan, tapi tetap mengejar.
Dengan napas tersengal, Timun Mas melemparkan garam.
Sekejap, lautan luas muncul.Buto Ijo harus berenang dengan susah payah untuk melewatinya.
Namun… ia masih belum menyerah.
Terakhir, Timun Mas melemparkan terasi.
Tanah berubah menjadi lumpur panas yang mendidih.Buto Ijo terperangkap di dalamnya.
“Aaaaargh!” teriaknya sebelum akhirnya tenggelam untuk selamanya.
Timun Mas berhenti berlari.Ia menoleh ke belakang.Buto Ijo telah hilang.
Dengan air mata bahagia, ia kembali ke rumah dan memeluk Mbok Srini erat.
Sejak saat itu, mereka hidup tenang dan bahagia tanpa rasa takut lagi.
Janji harus dipikirkan dengan matang sebelum diucapkan
Cinta seorang ibu mampu melindungi anaknya dengan segala cara
Keberanian dan kecerdikan bisa mengalahkan kekuatan besar
Tamat.