Dulu, hidup terasa sederhana… tapi hangat.
Pagi-pagi, suara ibu memanggil dari dapur, aroma nasi dan kopi mengisi rumah kecil kami. Aku berlari tanpa beban, tertawa tanpa alasan. Dunia terasa begitu luas, seolah semua mimpi bisa kugapai hanya dengan berani bermimpi.
Tapi itu dulu.
Sekarang, aku duduk sendiri di sudut kamar yang sunyi. Tak ada lagi suara ibu, tak ada lagi tawa yang dulu memenuhi hari. Yang tersisa hanya kenangan… dan rasa rindu yang tak pernah benar-benar pergi.
Sejak ayah pergi tanpa kabar, semuanya berubah. Ibu yang dulu kuat, perlahan jatuh sakit. Aku yang dulu bebas, kini harus belajar menjadi dewasa terlalu cepat. Hidup tak lagi tentang mimpi, tapi tentang bertahan.
Aku pernah bertanya pada diri sendiri, “Kenapa hidup berubah sekejam ini?”
Namun waktu tak pernah memberi jawaban.
Hari demi hari berlalu, aku bekerja apa saja yang bisa kulakukan. Kadang lelah, kadang ingin menyerah. Tapi setiap kali aku hampir jatuh, bayangan ibu tersenyum selalu muncul di pikiranku.
Seolah berkata, “Kamu harus kuat.”
Dan aku bertahan… meski hati sering retak.
Suatu malam, aku duduk di luar rumah, menatap langit. Bintang-bintang masih sama seperti dulu. Indah… tapi kini terasa jauh.
Aku tersenyum kecil.
Mungkin hidup memang tak seindah dulu.
Tapi bukan berarti keindahan itu hilang.
Ia hanya berubah bentuk… menjadi kekuatan yang membuatku tetap berjalan.
Dan di antara luka yang tak terlihat, aku belajar satu hal:
Bahwa bertahan… juga sebuah keberanian.