Saat itu, hujan baru saja reda, menyisakan bau tanah basah dan langit kelabu. Timela duduk di bangku taman yang biasa mereka kunjungi. Dovin datang terlambat, seperti biasa, dengan tatapan lelah yang sudah sering Timela lihat.
"Maaf," kata Dovin, suaranya pelan dan berat.
"Aku rasa... ini tidak bisa diteruskan."
Timela tidak terkejut. Ada jeda yang panjang, hanya suara rintik air dari dedaunan yang terdengar.
"Aku tahu," jawab Timela, tanpa menatap Dovin.
Matanya menatap genangan air di depannya, di mana pantulan langit kelabu tampak pecah.
"Aku sudah merasakannya sejak lama, Vin."
Dovin menghela napas, lega sekaligus bersalah.
"Aku... aku harap kamu bisa mengerti."
Timela akhirnya menoleh, menatap Dovin lurus di mata, tanpa emosi yang meluap-luap, hanya ketenangan.
"Aku mengerti, Dovin. Dan aku harap kamu juga mengerti. Kita terlalu sibuk mencoba mengubah satu sama lain, sampai lupa bagaimana rasanya menjadi diri sendiri."
"Kita... kita tidak cocok, ya?" tanya Dovin, suaranya seperti pertanyaan retoris.
Timela tersenyum tipis, senyum yang tidak lagi pahit.
"Mungkin. Atau mungkin, kita hanya tidak cocok untuk saat ini. Aku tidak lagi ingin mengejar bayangan. Aku ingin membangun sesuatu yang nyata, dengan atau tanpamu."
Dovin terdiam. Ada penyesalan di matanya, tapi juga semacam pengakuan akan kebenaran.
"Aku harap kamu menemukan kebahagiaanmu, Tim. Kamu pantas mendapatkannya."
"Kamu juga, Dovin," balas Timela.
"Terima kasih... untuk pelajarannya."
Ia bangkit dari bangku, tanpa menoleh lagi. Setiap langkahnya terasa ringan, seolah beban bertahun-tahun terlepas dari bahunya. Dovin hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh, di bawah langit yang perlahan mulai menampakkan bias jingga.
...
Setahun kemudian, di sela riuhnya kafe yang aromanya menyeruak, Timela Sahari sesekali menyentuh arloji di pergelangan tangannya. Di dunia yang mengagungkan "waktu adalah uang", ia kini memilih mata uang yang berbeda: kedamaian batin. Baginya, setiap detik yang ia habiskan untuk menyesap latte dalam tenang adalah keuntungan yang tak ternilai, sebuah bentuk investasi terbaik yang pernah ia lakukan. Mencintai diri sendiri, ia menyadari, bukanlah egoisme, melainkan fondasi utama untuk kebahagiaan.
Masa lalunya bersama Dovin adalah bab yang penuh dengan lika-liku. Dovin adalah guru paling keras yang pernah ia temui, dan bersamanya, Timela belajar bahwa tidak semua kehadiran dalam hidup datang untuk menetap; beberapa hadir hanya sebagai pelajaran pahit tentang komitmen dan harga diri. Ia teringat bagaimana dulu ia selalu mencoba mencocokkan langkahnya dengan kecepatan Dovin, hingga ia kehilangan iramanya sendiri. Dovin memberinya pelajaran mahal: bahwa hubungan yang dipaksakan hanya akan menghabiskan waktu, tanpa pernah menghasilkan kebahagiaan, dan bahwa cinta tidak seharusnya terasa seperti pekerjaan yang melelahkan atau transaksi yang merugikan.
Kini, Timela melangkah dengan lebih ringan, tak lagi terburu-buru mengejar detik. Ia telah menutup buku lama itu dan mulai menulis bab baru tentang kemandirian. Ia percaya bahwa jodoh yang sesungguhnya sedang berjalan menuju ke arahnya di waktu yang tepat, seseorang yang tidak akan memintanya berlari hingga lelah, melainkan akan berjalan beriringan sambil menikmati waktu yang ada. Sembari menunggu, ia memilih untuk menikmati kesibukannya, memanjakan mimpinya, dan memastikan bahwa saat orang itu datang nanti, Timela sudah menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Menunggu bukanlah tentang kekosongan, melainkan persiapan.