Melody selalu dibilang anak paling beruntung di keluarganya.
Anak bungsu. Perempuan satu-satunya. Hidup serba cukup, bahkan lebih. Rumah besar, mobil lebih dari satu, sekolah terbaik, apa pun yang dia minta hampir selalu ada.
Tapi tak ada yang benar-benar tahu… betapa sesaknya hidup Melody di balik semua kemewahan itu.
“Melody, pulang jam berapa?”
Suara papanya terdengar tegas dari ruang tamu.
“Jam empat, Pa…” jawab Melody pelan sambil menunduk, meski sebenarnya ia ingin pulang lebih lama bersama teman-temannya.
“Jangan lewat. Anak perempuan gak boleh keluyuran.”
“Iya, Pa…”
Itu selalu jawabannya. Selalu “iya”. Selalu menurut.
Di rumah, Melody punya tiga kakak laki-laki. Semuanya sudah dewasa. Semuanya protektif… atau lebih tepatnya, terlalu mengatur.
“Mel, jangan pakai baju kayak gitu. Pendek.”
“Tapi ini cuma rok biasa, Kak…”
“Ganti. Gak usah debat.”
Melody kembali masuk kamar tanpa suara. Ia menatap dirinya di cermin. Rok selutut yang ia pakai sebenarnya masih sopan, tapi di mata kakaknya, itu sudah “terlalu”.
Kadang Melody bertanya dalam hati…
Apa aku ini anak kecil atau tahanan?
Di sekolah, Melody berbeda.
Ia tertawa lepas bersama teman-temannya. Ia suka bercanda. Ia bahkan diam-diam suka ikut kegiatan yang tidak pernah ia ceritakan di rumah.
Seperti hari itu…
“Mel, ikut nonton bareng, ya!” ajak Rina.
Melody ragu. “Aku harus izin dulu…”
“Ya izin aja bilang belajar kelompok.”
Melody terdiam. Hatinya berdebar.
Bohong.
Ia tidak pernah terbiasa bohong. Tapi ia juga lelah… selalu dikekang.
Akhirnya, untuk pertama kalinya, Melody mengangguk.
“Iya… aku ikut.”
Hari itu, untuk pertama kalinya Melody merasa… bebas.
Ia tertawa di bioskop, makan junk food, bahkan pulang sedikit lebih sore dari biasanya.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Begitu pintu rumah terbuka—
“Dari mana kamu?”
Suara papanya dingin. Tajam.
Melody langsung kaku.
“Dari… belajar kelompok, Pa…”
“Belajar kelompok di mall?”
Dunia Melody seperti runtuh seketika.
Kakak laki-lakinya berdiri di belakang papa, menatapnya dengan wajah kecewa.
“Kami lihat kamu tadi,” kata salah satu kakaknya.
Jantung Melody berdegup kencang.
“Melody…” suara papanya berubah lebih keras, “kamu mulai berani bohong sekarang?”
Air mata Melody langsung jatuh.
“Maaf, Pa…”
“Mulai besok, gak ada lagi keluar rumah selain sekolah. Paham?”
Melody ingin menjawab… tapi suaranya tertahan di tenggorokan.
Ia hanya mengangguk.
Dan malam itu, ia menangis diam-diam di kamar.
Sejak kejadian itu, hidup Melody semakin sempit.
Tak ada lagi izin keluar. Tak ada lagi jalan dengan teman. Bahkan ponselnya sering diperiksa.
“Ini demi kebaikan kamu,” kata papanya.
“Kamu anak perempuan. Dunia itu gak aman.”
Kata-kata itu terus diulang. Seolah Melody tidak punya hak untuk memilih hidupnya sendiri.
Ia mulai merasa… sesak.
Bukan karena kekurangan.
Tapi karena terlalu banyak larangan.
Suatu malam, Melody duduk di depan jendela kamarnya. Ia melihat lampu-lampu kota dari kejauhan.
Indah… tapi terasa jauh.
Seperti kebebasan yang ia inginkan.
Ia membuka buku diary kecilnya dan mulai menulis:
“Aku bersyukur punya keluarga yang mencintaiku…
Tapi kenapa cinta mereka terasa seperti penjara?”
Air matanya jatuh di atas kertas.
“Aku bukan anak kecil lagi…
Aku cuma ingin dipercaya.”
Hari demi hari berlalu.
Melody semakin pendiam di rumah. Ia tidak lagi banyak bicara. Tidak lagi membantah.
Tapi di dalam hatinya… ia perlahan berubah.
Ia mulai merasa asing dengan keluarganya sendiri.
Sampai suatu hari—
“Melody, kenapa kamu akhir-akhir ini diam saja?”
Papanya bertanya saat makan malam.
Melody mengangkat wajahnya. Matanya sedikit sembab.
“Karena aku capek, Pa…”
Semua orang di meja makan langsung diam.
“Capek apa?” tanya kakaknya.
Melody menelan ludah. Tangannya gemetar.
“Capek… jadi anak yang selalu salah kalau mau punya keinginan sendiri.”
Sunyi.
“Capek harus selalu takut… bahkan untuk hal kecil.”
Papanya menghela napas panjang.
“Kami cuma melindungi kamu—”
“Tapi aku merasa dikurung, Pa!”
Suara Melody pecah.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Aku tahu Papa sayang aku… Kakak juga. Tapi aku juga manusia… aku pengen hidup… pengen dipercaya…”
Suasana menjadi tegang.
Untuk pertama kalinya, Melody berani bicara seperti itu.
“Kalian bilang dunia luar berbahaya… tapi rumah ini juga bikin aku sesak…”
Kalimat itu menggantung di udara.
Dan setelah itu… hening.
Malam itu tidak ada yang langsung menjawab Melody.
Ia masuk kamar dengan hati campur aduk. Takut… tapi juga lega.
Setidaknya, ia sudah jujur.
Keesokan harinya, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Papanya mengetuk pintu kamar Melody.
“Mel…”
“Iya, Pa…”
“Boleh Papa masuk?”
Melody mengangguk pelan.
Papanya duduk di tepi tempat tidur.
“Papa… mungkin terlalu keras sama kamu.”
Melody terkejut. Itu bukan kalimat yang biasa ia dengar.
“Papa kehilangan Mama kamu terlalu cepat… dan Papa takut kehilangan kamu juga.”
Hati Melody langsung mencelos.
“Jadi Papa… terlalu menjaga. Sampai lupa… kamu juga butuh ruang.”
Air mata Melody kembali jatuh.
“Maaf, ya…”
Melody menggeleng sambil menangis.
“Melody juga minta maaf, Pa…”
Untuk pertama kalinya, mereka saling memahami… bukan saling mengatur.
Sejak hari itu, tidak semua berubah drastis.
Melody masih punya aturan.
Tapi sekarang… ada kepercayaan.
Ada ruang untuk bicara.
Ada kesempatan untuk memilih.
Dan yang paling penting—
Ada cinta… yang tidak lagi terasa seperti penjara.
Melody masih anak bungsu.
Masih hidup nyaman.
Tapi kini… ia juga punya satu hal yang selama ini ia rindukan—
Kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.
Selesai