Di tengah hamparan putih Ice Village di Tomamu, Hokkaido, Januari kemarin terasa berbeda bagi Riku dan Usagi. Salju turun sangat lebat, membungkus dunia dalam keheningan yang magis. Setelah beberapa tahun disibukkan dengan popok dan tangisan bayi, akhirnya mereka memutuskan untuk mencuri waktu berdua—sebuah kencan singkat untuk merayakan tahun baru di bawah hujan salju.
"Anak kita pasti sedang asyik bermain dengan kakek-neneknya," gumam Riku sambil merapatkan syal abu-abunya. Ia melirik Usagi yang berdiri di sampingnya, tampak mungil dengan jaket cokelat dan topi rajut senada.
Usagi tertawa kecil, uap putih keluar dari bibirnya yang kedinginan. "Aku merindukannya, tapi jujur, merasakan ketenangan ini bersamamu... rasanya seperti kembali ke masa kita baru mulai jatuh cinta."
Mereka berdiri di depan sebuah iglo besar yang terbuat dari balok es jernih. Di samping mereka, sebuah meja bar dari es memantulkan cahaya pucat dari langit musim dingin yang mendung. Salju yang menumpuk di atas atap iglo terlihat tebal dan empuk seperti whipped cream. Riku mengacungkan jempol ke arah kamera, sementara Usagi tersenyum lebar dengan pose yang sama—sebuah bukti bahwa meski status mereka sudah berubah menjadi orang tua, jiwa muda dan keceriaan mereka tidak pernah luntur.
Sore itu, mereka menghabiskan waktu dengan menyesap cokelat panas di dalam kafe es, di mana meja dan kursinya pun terukir dari es padat. Mereka berbicara tentang banyak hal: rencana masa depan, tingkah lucu anak mereka, hingga janji-janji kecil untuk lebih sering meluangkan waktu berdua seperti ini.
Saat malam mulai jatuh dan lampu-lampu mulai berpendar biru keperakan di balik salju yang kian lebat, Riku menggenggam tangan Usagi yang terbungkus sarung tangan tebal.
"Tahun ini akan menjadi tahun yang hebat bagi kita bertiga," bisik Riku lembut.
Usagi menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, merasa hangat meski suhu di luar mencapai minus belasan derajat. "Selama kita bersama, salju selebat apa pun hanya akan membuat kenangan kita semakin indah."
Di tengah keheningan itu, Riku merogoh saku jaketnya dan menyodorkan secarik kertas yang dilipat rapi.
𝗨𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗨𝘀𝗮𝗴𝗶𝗸𝘂,
Di bawah langit Januari yang memutih karena salju lebat ini, aku baru menyadari sesuatu. Jaket kita mungkin tebal, dan udara di Tomamu ini mungkin sangat dingin hingga membekukan napas, tapi berada di sampingmu selalu membuatku merasa hangat.
Terima kasih sudah mau "mencuri waktu" sejenak bersamaku. Aku tahu hatimu tertinggal di rumah bersama si kecil, begitupun aku. Namun, berjalan berdua denganmu di tengah desa es ini mengingatkanku kembali pada hari-hari awal kita memulai segalanya. Bahwa sebelum kita menjadi orang tua yang hebat, kita adalah dua orang yang saling jatuh cinta tanpa syarat.
Melihatmu tersenyum di depan iglo tadi, dengan hidung yang memerah karena dingin, membuatku sadar betapa beruntungnya aku. Tahun baru ini bukan hanya soal angka yang berubah, tapi soal janji bahwa aku akan terus menjagamu, sesulit apa pun "badai salju" yang mungkin kita hadapi di masa depan.
Ayo kita pulang dan peluk anak kita, tapi jangan pernah lupa bahwa kita selalu punya "ruang rahasia" ini untuk kembali menjadi Riku dan Usagi.
𝗦𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗺𝘂,
𝗥𝗶𝗸𝘂
....
Sepekan kemudian Riku sedang duduk di meja kantornya yang sibuk, lalu saat merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel, ia menemukan lipatan kertas kecil berwarna biru pucat.
𝗨𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗥𝗶𝗸𝘂, 𝗦𝘂𝗮𝗺𝗶𝗸𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗛𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁,
Aku menyelipkan ini di jas kerjamu pagi tadi, saat kau masih sibuk merapikan dasi dan bersiap menghadapi "dunia luar".
Terima kasih untuk suratmu di Tomamu kemarin. Membacanya di tengah kepungan es dan salju membuat hatiku terasa seperti meleleh. Kau benar, Riku. Di antara tumpukan popok, jadwal tidur si kecil yang berantakan, dan lelahnya hari-hari kita, aku terkadang lupa bahwa aku masihlah "Usagi-mu"—gadis yang dulu kau ajak kencan dengan perasaan berdebar.
Tomamu kemarin bukan hanya tentang indahnya 𝘐𝘤𝘦 𝘝𝘪𝘭𝘭𝘢𝘨𝘦 atau cokelat panas yang kita sesap. Itu adalah pengingat bahwa di balik peran kita sebagai Ayah dan Ibu, ada pondasi kuat bernama "Kita". Aku sangat bersyukur kau mengajakku "mencuri waktu" itu. Melihatmu tersenyum di depan iglo, aku melihat laki-laki yang sama yang berjanji akan menjagaku bertahun-tahun lalu. Dan kau menepatinya, bahkan di tengah badai salju sekalipun.
Sekarang kita sudah di rumah, kembali ke rutinitas yang riuh. Tapi setiap kali aku merasa lelah, aku akan mengingat genggaman tanganmu yang mantap di balik sarung tangan tebal itu.
Terima kasih sudah menjadi pelabuhan ternyamanku. Mari kita hadapi tahun ini dengan hebat, bertiga, namun tetap menyisakan ruang kecil di hati kita khusus untuk Riku dan Usagi.
Cepatlah pulang. Si kecil merindukanmu, dan aku... punya secangkir cokelat hangat (kali ini tidak di atas meja es) yang menunggumu.
𝗦𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗺𝘂
𝗜𝘀𝘁𝗿𝗶𝗺𝘂, 𝗨𝘀𝗮𝗴𝗶
Riku menatap kertas itu lama, senyum tipis terukir di wajahnya yang lelah. Dinginnya ruangan kantor seketika tak terasa, digantikan oleh hangatnya kata-kata yang tertulis di sana.
Salju di Tomamu mungkin sudah mencair, tapi kebahagiaan yang mereka bawa pulang terasa abadi. Ia menyimpan kembali surat itu dengan hati-hati, lalu meraih ponselnya untuk mengetik pesan singkat:
"𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨. 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘤𝘰𝘬𝘦𝘭𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶."
Januari ini bukan sekadar tentang perjalanan yang indah, tapi tentang sebuah kepastian: bahwa di mana pun mereka berada, rumah yang sesungguhnya adalah satu sama lain.