Kisah Nyata Anna Anindya
Malam itu udara begitu dingin, menyelinap lewat celah-celah jendela kamar ku. Seperti biasa, tubuhku bergerak sendirinya saat otakku terbenam dalam mimpi yang gelap. Aku tidak sadar ketika kakiku mulai melangkah, kaki satu demi satu mengikuti panggilan yang tak kudengar dengan telinga fisikku.
Aku berjalan keluar rumah tanpa sadar, langkahku lurus menuju jalan tanah yang hanya aku yang bisa lihat di tengah kebun rimbun di belakang rumah. Tanah basah membasahi tumitku, dedaunan kering berdecit di bawah telapak kaki yang tak merasakan rasa sakit atau dingin. Hingga akhirnya, aku memasuki gerbang tersembunyi yang hanya muncul saat malam pekan bulan purnama: Hutan Angker Patih Lombir
Tanpa sadar, aku masuk ke dalam. Pohon-pohon tinggi menjulang seperti tunggul tulang raksasa, daunnya menutupi seluruh cahaya bulan hingga hanya ada kegelapan pekat yang menyelimuti segala sesuatu. Tapi untukku, kegelapan itu bukanlah halangan, aku bisa melihat dengan jelas makhluk-makhluk yang berkeliaran di sana.
"Anna... Anna..." Suara merengek seperti bayi yang menangis terdengar dari balik semak berduri. Aku melihatnya, seorang wanita berambut panjang putih susu, rok kebaya merah pekat yang tersumbat darah, wajahnya penuh luka bakar yang masih mengeluarkan nanah. Kuntilanak. Dia melompat dari satu cabang ke cabang, matanya merah menyala seperti bara api, mengikuti setiap langkahku.
Tak berhenti di situ. Dari balik semak-semak gelap, muncul sosok-sosok wanita berbalut kain hitam pekat, kepalanya terlepas dari tubuh dan terbang mengambang di atas bahu mereka, leher yang kosong mengeluarkan uap putih menyengat. Kuyang. Mereka melayang dengan gerakan yang halus namun menyeramkan, suara napas mereka seperti desahan panas yang terdengar dekat di telingaku. "Kau berbeda... kau bisa melihat kami... mari kau berbagi darahmu dengan kami..."
Saat aku mencoba berlari, kaki aku terhimpit oleh tangan-tangan yang keluar dari tanah basah—tangan-tangan tanpa kulit, berlumuran lumpur dan darah, milik arwah penasaran yang tak menemukan kedamaian. Mereka menarik kakiku ke bawah, ingin menarikku ke dalam dunia mereka yang tak berwarna dan penuh kesusahan.
Hiruk-pikuk suara merengek, tertawa jahat, dan menangis menyiksa memenuhi telingaku. Aku merasa tubuhku akan terkoyak antara dunia yang aku tinggali dan dunia yang mereka tempati. Mataku mulai terbuka sedikit, tapi aku masih terjebak dalam keadaan antara tidur dan terjaga.
Aku berlari dengan segala kekuatan, tanpa tahu arah mana yang benar. Pohon-pohon seolah bergerak menyikapi langkahku, jalan yang kudatangi terus berubah bentuk. Sampai akhirnya, aku melihat sebuah lorong tersembunyi di antara dua pohon besar yang batangnya menyatu seperti pelukan makhluk tua. Dinding lorong terbuat dari akar-akar pohon yang saling menjalin, dan di ujungnya terpancar cahaya lembut yang aku kenal begitu baik.
Tanpa berpikir dua kali, aku melompat ke dalam lorong itu. Angin menusuk tubuhku dengan keras, rasanya seperti melalui lautan waktu yang dingin dan menyakitkan. Suara makhluk-makhluk itu semakin jauh, namun bisikan mereka masih terdengar di telingaku: "Kita akan selalu menemukannya... kau tidak bisa lari selamanya..."
Dalam sekejap, kakiku menyentuh lantai yang keras dan akrab.Mata ku terbuka dengan tajam, aku berada di kamar tidurku sendiri, bantalku terjatuh di lantai, keringat deras mengalir di dahiku, dan tubuhku penuh dengan bekas goresan yang tak kuduga darimana datangnya. Di leherku, ada bekas gigitan kecil yang masih terasa dingin seperti es. Jendela kamar masih terbuka, dan angin malam masih berbisik seperti menyampaikan pesan dari hutan yang tak bisa kubiarkan terlupakan.
Sejak malam itu, aku tahu, hutan itu bukan hanya tempat yang bisa kujangkau saat tidur berjalan. Ia adalah pintu antara dua dunia, dan aku adalah orang yang bisa melihat keduanya. Hidupku tidak akan pernah sama lagi, karena setiap malam aku tak tahu apakah aku akan terjaga di kamarku... atau kembali tersesat di antara makhluk-makhluk yang menginginkanku menjadi bagian dari mereka.