Lantai tiga RS Medika Sejahtera—atau yang lebih dikenal barudak sebagai "The Old Clinic of Parahyangan"—malam itu nampak seperti set film horor Hollywood low budget. Di depannya, tepat di pangkalan "Koulibaly & Co. Basecamp", empat pemuda sedang berkumpul. Mereka menyebut diri mereka The West Java Comedians, grup stand up yang seleranya sok Barat tapi lidahnya tetap "Sunda Banget".
Ada Jaka (si ketua yang merasa wajahnya mirip aktor drakor padahal lebih mirip aktor azab), Dino (penakut level dewa), Udin (si logis yang sering error), dan Farhan (sang penengah yang selalu bawa dalil).
"Manéh tahu nggak, Jek?" Udin memulai percakapan sambil gaya-gayaan pegang cangkir kopi layaknya barista London, padahal isinya kopi tubruk gula aren. "Di lantai tiga itu, katanya ada suster yang kalau jalan suaranya 'high heels' banget. Clack... clack... clack... Gaya mah Vogue, tapi muka mah The Nun."
"Eta mah bukan suster, Din! Eta mah Suster Beverly dari Majalaya!" timpal Jaka. "Dia mah bukan mau nakutin, cuma mau nanya di mana outlet seblak yang aesthetic buat di-posting di Reels."
Tiba-tiba, sebuah suara debuman keras terdengar dari arah lift tua yang sudah mati sepuluh tahun. BRAKK!
"ALLAHU AKBAR! SUBHANALLAH!" Dino langsung komat-kamit. Karena saking paniknya, dia refleks teriak, "ASTAGFIRULLAHALADZIM... EVERYBODY DANCE NOW!"
Jaka langsung menjitak kepala Dino. "Manéh teh panik tapi kenapa jadi lirik lagu disko, Din?! Tadi katanya mau baca dzikir!"
"Refleks, Jek! Lidah urang mah kalau panik suka mixing antara hidayah sama playlist Spotify!" bela Dino sambil gemetar.
"Dah, daripada tebak-tebakan, mending kita check and recheck. Kita buktikan kalau horor di The Old Clinic ini cuma fake news," ajak Jaka dengan gaya sok berani.
Mereka pun merangsek masuk. Di koridor yang gelap, mereka melihat bayangan hitam besar dengan rambut panjang yang menjuntai di pojok lorong. Dino sudah hampir pingsan, kakinya lemes kayak seblak kematangan.
"Jek, itu... itu pasti Kuntilanak Premium Version!" bisik Dino.
Jaka mendekat dengan senter HP. "Ssst! Tenang... Don't be afraid, barudak. Kita harus gentleman."
Saat cahaya senter mengenai bayangan itu, ternyata itu adalah sebuah manekin latihan perawat yang dipasangi wig sisa drama sekolah, dan di lehernya ada tulisan: "Hargai Aku, Jangan Dipinjam Terus Tapi Nggak Dibalikin. - Bagian Inventaris."
"Gusti... urang udah hampir copot jantung, ternyata cuma manekin yang lagi 'curhat'!" seru Udin sambil ngelus dada.
Lalu mereka naik ke lantai dua. Di sana, mereka mendengar suara tangisan pilu dari kamar mandi. "Huuhu... kenapa begini... kenapa perih banget..."
"Wah, ini mah fiks tangisan arwah penasaran," bisik Dino.
Mereka mendobrak pintu kamar mandi dengan gaya polisi di film aksi. BRAAAK!
"FREEZE! TEU MEUNANG GERAK!" teriak Jaka.
Ternyata di dalam ada Kang Dadang, satpam RS, yang sedang jongkok sambil nangis sesenggukan. Di depannya ada mangkuk bakso.
"Eh, Barudak... kaget saya!" Kang Dadang menyeka air mata.
"Kang Dadang?! Akang kenapa nangis di sini malam-malam? Kita kira ada hantu lagi depresi!" tanya Udin heran.
"Ini... bakso Mang Oded... pedasnya keterlaluan, Barudak! Saya minta level lima, dikasih level 'Siksa Kubur'. Perih banget ke mata, ke hati juga perih karena harganya naik dua ribu!"
Barudak Koulibaly tepok jidat massal. Horor macam apa yang isinya satpam nangis gara-gara sambal bakso?
"Dengarkan, teman-teman," Farhan akhirnya angkat bicara dengan nada bijak. "Inilah yang namanya tashawwur atau persepsi yang salah. Kita terlalu banyak nonton film horor yang nggak masuk akal sampai lupa kalau jin itu sebenarnya nggak se-eksis itu kalau kita nggak 'ngundang' lewat rasa takut yang berlebihan."
Farhan merangkul bahu Dino. "Di dalam Islam, kita diajarkan untuk hanya takut kepada Allah. Percaya pada takhayul atau menganggap tempat ini angker karena ada kekuatan selain Allah itu bisa jatuh ke dalam syirik kecil atau khurafat. Alam ghaib itu ada, tapi mereka nggak nungguin koridor RS cuma buat nakutin orang yang mau ke WC."
Jaka manggut-manggut. "Bener, Han. Kita mah barudak The West Java masa percaya ginian. Kita harusnya lebih takut kalau stand up kita nggak ada yang ketawa (garing), itu lebih horor daripada ketemu suster Beverly."
Tiba-tiba, dari ujung lorong terdengar suara tertawa melengking lagi. Hihihihihi!
Dino sudah siap-siap lari, tapi Jaka menahan kerahnya. "Bentar, Din. Itu suaranya kayak familiar..."
Mereka menuju sumber suara. Ternyata itu adalah laptop di meja pendaftaran yang lupa dimatikan, dan sedang memutar otomatis video kompilasi lawakan mereka sendiri di YouTube.
"Lah, itu mah video urang pas lagi bahas 'Kenapa Cowok Sunda Kalau Ngomong Inggris Tetap Ada Logat Melengkungnya'!" seru Jaka bangga.
Mereka semua akhirnya tertawa terpingkal-pingkal di tengah kegelapan RS. Suasana yang tadinya mencekam berubah jadi comedy club dadakan.
"Ternyata benar kata Farhan," ujar Dino sambil nyengir. "Penunggu paling serem di sini bukan hantu, tapi pikiran kita yang overthinking. Ternyata RS ini bukan angker, cuma kurang hiburan aja!"
Mereka pun keluar dari bangunan itu dengan gaya slow motion ala film Avengers, namun diakhiri dengan Jaka yang tersandung kabel roll satpam. Keadilan tetap tegak, takhayul runtuh, dan barudak Koulibaly sukses mendapatkan materi stand up paling mencerahkan—bahwa hantu paling menakutkan adalah tagihan parkir yang lupa dibayar selama tiga hari.