Angin kencang melolong di antara pepohonan cantigi yang membeku, menyapu puncak Hargo Dumilah dengan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di lereng Gunung Lawu yang purba itu, kabut turun seolah-olah menjadi kain kafan yang menyelimuti rahasia-rahasia lama. Namun bagi Farhan, seorang pemuda yang baru saja menyelesaikan studi syariahnya, gunung ini bukan sekadar onggokan tanah dan batu yang menyimpan mistis, melainkan ayat-ayat Allah yang terbentang luas di cakrawala.
Kisah ini bermula ketika Farhan memutuskan untuk mendaki Lawu bersama tiga teman masa kecilnya: Rian, sosok yang selalu penasaran; Dino, yang skeptis; dan Gani, yang sayangnya, masih membawa sisa-sisa keyakinan lama dari leluhurnya tentang "penunggu" gunung.
Malam itu, di pos empat, suasana mendadak berubah mencekam. Suara gesekan daun kering terdengar seperti bisikan ribuan mulut. Gani mulai gelisah. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan segenggam kemenyan dan bungkusan kain kuning.
"Gani, apa yang kau lakukan?" tanya Farhan dengan nada tenang namun tegas.
"Aku hanya ingin kita selamat, Han. Lawu ini punya aturan. Kita harus memberi 'salam' pada mereka yang tak terlihat agar tidak diganggu," jawab Gani dengan tangan gemetar.
Farhan menghela napas panjang. Di sinilah letak horor yang sesungguhnya—bukan pada hantu atau lelembut, melainkan pada tipu daya setan yang berhasil memalingkan hati manusia dari Sang Pencipta. "Gani, tahukah kamu apa yang lebih menakutkan dari gelapnya hutan ini? Ialah kegelapan syirik yang menyelinap ke dalam hati tanpa kita sadari. Kau mencari perlindungan kepada selain Allah, padahal tidak ada satu lembar daun pun yang jatuh di gunung ini kecuali atas izin-Nya."
Tiba-tiba, suasana menjadi sunyi senyap. Burung-burung malam berhenti bersuara. Dari kegelapan di balik pohon besar, terdengar suara tangisan seorang wanita—pilu, menyayat hati, dan terasa begitu dekat. Rian dan Dino tersentak, wajah mereka pucat pasi. Gani semakin panik dan hendak membakar kemenyannya.
"Berhenti!" perintah Farhan. Ia berdiri, menghadap ke arah suara itu berasal, lalu mengumandangkan azan dengan suara yang merdu namun penuh wibawa.
Seketika, suara tangisan itu berubah menjadi jeritan melengking yang menyakitkan telinga sebelum akhirnya lenyap ditelan angin.
"Dengarkan aku," Farhan duduk kembali di tengah kawan-kawannya yang masih gemetar. "Dunia ghaib itu ada. Jin itu nyata. Tapi mereka adalah makhluk, sama seperti kita. Mereka tidak memiliki kekuatan untuk memberi manfaat atau mudarat kecuali jika Allah menghendaki. Horor yang kalian rasakan adalah bentuk teror psikologis dari syaitan agar kalian merasa butuh pada selain Allah. Itulah jerat khurafat."
Farhan kemudian bercerita tentang kisah pilu yang sering terjadi di gunung ini—tentang pendaki yang hilang bukan karena "disembunyikan" oleh penunggu, melainkan karena mereka abai pada keselamatan fisik dan lupa membentengi diri dengan zikir yang benar.
"Banyak masyarakat di lereng ini yang masih melakukan ritual-ritual yang menyimpang," lanjut Farhan dengan suara rendah yang menggetarkan hati. "Mereka memberi sesajen di pohon, menyembah puncak seolah-olah di sana bersemayam kekuatan. Itu menyayat hati saya lebih dari apa pun. Allah menciptakan gunung ini sebagai pasak bumi, sebagai tanda kebesaran-Nya agar kita bertasbih, bukan agar kita menjadikannya tandingan bagi Allah."
Malam semakin larut. Farhan mengajak teman-temannya untuk melakukan shalat malam di tengah udara yang membeku. Di bawah taburan bintang yang tampak begitu dekat, mereka bersujud. Farhan menangis dalam sujudnya, memohonkan ampun bagi masyarakat yang masih terjebak dalam kabut syirik dan bid'ah.
"Kematian di gunung ini sering kali dianggap misterius," Farhan berbicara lagi setelah shalat. "Padahal, ajal adalah kepastian. Yang menyedihkan bukanlah mati di puncak gunung karena hipotermia, melainkan mati dalam keadaan hati yang masih bergantung pada jimat atau makhluk halus. Itulah tragedi yang sesungguhnya."
Farhan menjelaskan bahwa dalam Islam, menghargai alam bukan dengan memberikan sesajen, melainkan dengan menjaga kelestarian, tidak merusak, dan tidak melakukan kemaksiatan di dalamnya. Jin memang menghuni tempat-tempat sepi, namun bentengnya bukan kemenyan, melainkan kalimat Lã ilãha illallãh.
"Syaitan senang jika kita takut," kata Farhan sambil menatap api unggun yang mulai mengecil. "Ketakutan berlebih itu adalah celah. Jika kalian merasa diganggu, bacalah Ayat Kursi, bacalah Al-Mu'awwidzatain (An-Nas dan Al-Falaq). Sadarlah, mereka hanyalah makhluk kecil di hadapan keagungan Allah."
Keesokan harinya, saat mereka mencapai puncak, matahari terbit dengan keindahan yang tak terlukiskan. Gani menatap langit dengan mata berkaca-kaca. Ia mengeluarkan kain kuning dan jimatnya, lalu menyerahkannya kepada Farhan.
"Kau benar, Han. Selama ini aku takut pada gunung, takut pada hantu, tapi aku lupa takut pada Allah yang menciptakan segalanya. Aku merasa sangat bodoh," isak Gani.
Farhan tersenyum dan menerima benda-benda itu. Di atas puncak tertinggi Lawu, ia tidak merayakan keberhasilan fisik, melainkan kemenangan iman. Ia membakar benda-benda itu sambil terus berzikir.
Kisah ini menjadi pengingat bagi setiap pendaki dan masyarakat di sekitar Gunung Lawu. Bahwa gunung bukanlah tempat untuk mencari berkah atau meminta perlindungan dari entitas ghaib. Gunung adalah tempat untuk merenungi betapa kecilnya manusia dan betapa besarnya Allah.
Dakwah Farhan di atas gunung itu menyadarkan mereka bahwa horor yang sebenarnya adalah ketika manusia kehilangan tauhidnya. Pelurusan pemahaman ini membawa kedamaian yang lebih dalam daripada sekadar keselamatan perjalanan. Mereka turun dari Lawu bukan hanya membawa foto-foto indah, tapi membawa hati yang telah dibersihkan dari debu-debu takhayul dan khurafat, kembali kepada murninya syariat yang mencerahkan jiwa.