Sore itu, langit di atas SMA Cendrawasih berwarna jingga keunguan, memantulkan cahaya yang lembut pada kaca-kaca jendela kelas yang mulai sepi. Di pojok koridor, Clarissa sedang asyik mengeluarkan sebuah kotak bekal dan botol minum set bernuansa lilac dan mint green. Warnanya begitu lembut, tipe warna pastel soft yang sedang tren dan sangat memanjakan mata siapa pun yang melihatnya. Dari kejauhan, Nanda berjalan mendekat. Matanya langsung tertuju pada benda-benda di atas meja Clarissa. Ada dorongan kekaguman yang begitu kuat menyergap dadanya saat melihat betapa serasinya warna-warna itu dengan kepribadian Clarissa yang kalem.
"Ih, Clarissa! Lucu banget, sih! Sumpah, ini barang baru kamu? Warnanya gemas banget, soft parah! Aku baru lihat ada perpaduan warna selucu ini," seru Nanda dengan nada tinggi yang penuh antusiasme. Tangannya hampir menyentuh botol minum itu, namun ia menahannya karena terlalu terpesona. Clarissa tersenyum bangga, menceritakan betapa sulitnya ia mendapatkan set tersebut karena selalu habis dipesan di toko daring. Sepanjang sore itu, Nanda tidak berhenti memuji. Ia terus-menerus membicarakan betapa indahnya barang-barang itu, betapa beruntungnya Clarissa, dan betapa ia merasa "iri" dalam konteks positif karena barang itu benar-benar estetis.
Namun, sesuatu yang ganjil terjadi hanya berselang tiga hari kemudian. Pagi itu, Nanda melihat Clarissa duduk di bangkunya dengan wajah muram. Di atas mejanya, botol minum yang kemarin dipuji habis-habisan itu tampak mengenaskan. Penutupnya retak besar tanpa sebab yang jelas—padahal Clarissa mengaku tidak menjatuhkannya—dan warna lilac yang tadinya cerah kini tampak kusam seperti terkena tumpahan zat kimia, padahal hanya dicuci dengan sabun biasa. Lebih aneh lagi, kotak bekal pasangannya pun penguncinya patah begitu saja saat hendak dibuka. Clarissa kebingungan, ia termasuk orang yang sangat apik menjaga barang, apalagi itu barang baru yang ia cintai.
Nanda terdiam membeku di depan meja Clarissa. Ada perasaan dingin yang merayap di tengkuknya. Ia teringat kembali betapa menggebu-gebunya ia memuji barang itu tiga hari yang lalu. Kata-kata "lucu banget", "gemas", dan "bagus sekali" yang ia lontarkan tanpa jeda seolah terngiang kembali di telinganya. Di saat itulah, Nanda teringat pada sebuah percakapan lama dengan neneknya tentang konsep yang sering dianggap remeh oleh anak muda zaman sekarang: penyakit Ain. Neneknya pernah berpesan bahwa kekaguman yang murni, tanpa melibatkan nama Tuhan, bisa membawa dampak yang tidak terduga, bukan hanya kepada manusia, tapi juga kepada benda mati.
Malam itu, Nanda tidak bisa tidur tenang. Ia mulai mencari tahu lebih dalam, membuka lembaran demi lembaran penjelasan tentang bagaimana pandangan mata yang disertai rasa kagum yang berlebihan—bahkan tanpa rasa dengki sedikit pun—bisa menyebabkan kerusakan. Ia menemukan sebuah kesadaran baru yang mencerahkan hatinya. Penyakit ain bukan hanya soal iri dengki yang hitam, tapi bisa juga datang dari rasa cinta dan kekaguman yang "telanjang". Nanda menyadari bahwa saat ia memuji barang Clarissa, hatinya begitu terfokus pada keindahan benda itu sehingga ia lupa bahwa keindahan itu hanyalah titipan. Ia melupakan Sang Pencipta keindahan tersebut.
Nanda merenung panjang di meja belajarnya. Ia teringat betapa seringnya manusia modern saat ini saling melempar pujian di media sosial atau di kehidupan nyata dengan kata-kata yang bombastis, namun kering dari unsur spiritual. "Apa aku berlebihan ya dalam memuji barangnya itu?" bisiknya pada diri sendiri. Ia merasa bersalah. Seharusnya, kata-kata yang keluar dari bibirnya adalah, "Wii, Masya Allah, barang kamu lucu banget, Clarissa." Sebuah kalimat sederhana yang sebenarnya adalah benteng pelindung. Kata "Masya Allah" yang berarti "Atas kehendak Allah hal ini terjadi" bukan sekadar bumbu percakapan, melainkan pengakuan bahwa keindahan barang itu ada karena izin-Nya, sehingga pujian tersebut dikembalikan kepada pemilik hakiki dari segala keindahan.
Keesokan harinya, Nanda menemui Clarissa. Bukan untuk meminta maaf karena ia merasa telah "merusak" barang itu secara fisik, karena ia tahu itu sulit dijelaskan secara logika medis atau mekanis, melainkan untuk berbagi ilmu yang baru saja ia dapatkan. Nanda menjelaskan dengan hati-hati bahwa mungkin saja energi kekagumannya yang terlalu besar telah memengaruhi barang tersebut. Ia mengajak Clarissa untuk tidak terlalu bersedih, namun menjadikannya pelajaran berharga. Clarissa mendengarkan dengan saksama, awalnya heran, namun perlahan matanya berbinar karena menyadari sesuatu yang lebih besar dari sekadar botol minum yang rusak.
Kejadian itu mengubah cara Nanda berinteraksi dengan dunia. Kini, setiap kali ia melihat matahari terbenam yang indah, melihat kucing tetangga yang lucu, atau melihat pencapaian teman-temannya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Masya Allah" atau "Tabarakallah". Ia menyadari bahwa memuji dengan melibatkan Tuhan tidak mengurangi rasa senangnya, justru menambah kedamaian karena ia tidak lagi merasa "memiliki" kekaguman itu sendirian. Ia merasa lebih aman, dan orang di sekitarnya pun merasa lebih terlindungi.
Pelajaran dari botol minum lilac yang rusak itu menjadi titik balik bagi Nanda dan teman-temannya di sekolah. Mereka mulai membiasakan diri untuk menjaga lisan dan hati. Nanda memahami bahwa penyakit ain pada barang hanyalah pengingat kecil agar manusia tidak menjadi berhala atas materi. Keindahan barang bisa pudar, plastik bisa retak, dan warna bisa kusam, namun keberkahan dalam memuji akan tetap abadi. Melalui kejadian sederhana itu, Nanda belajar bahwa kata-kata adalah doa, dan menyelipkan nama Tuhan dalam setiap kekaguman adalah cara terbaik untuk merayakan keindahan tanpa harus menghancurkannya. Ia kini berjalan di koridor sekolah dengan hati yang lebih waspada namun penuh cahaya, menyadari bahwa setiap pujian yang tulus dan beradab adalah bentuk ibadah yang paling sederhana namun mendalam.