Malam itu terasa berbeda.
Cinta berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri dengan jantung yang berdebar tak biasa. Sudah hampir empat bulan sejak terakhir kali ia bertemu Davi. Empat bulan menahan rindu, empat bulan hanya ditemani layar ponsel dan suara di ujung telepon.
LDR bukan hal mudah. Tapi mereka bertahan.
Dan malam ini, penantian itu berakhir.
Ponsel Cinta bergetar. Sebuah pesan masuk.
"Aku sudah di bawah." — Davi.
Senyum Cinta langsung merekah. Tanpa pikir panjang, ia meraih tas kecilnya dan bergegas keluar. Langkahnya cepat, hampir berlari menuruni tangga.
Dan di sana… Davi berdiri.
Masih sama. Tinggi, sedikit lebih kurus, tapi tatapannya—tetap hangat seperti terakhir kali mereka bertemu.
“Cinta…”
Suara itu membuat segala rindu runtuh dalam sekejap.
“Davi…”
Tak ada kata lagi. Cinta langsung memeluknya erat. Begitu erat, seolah takut jika ia melepasnya, Davi akan menghilang lagi.
Davi membalas pelukan itu. Tangannya mengusap lembut rambut Cinta.
“Aku kangen banget…” bisiknya pelan.
“Aku juga…” jawab Cinta, suaranya sedikit bergetar.
Malam itu mereka tidak banyak bicara di awal. Hanya saling menatap, seolah ingin memastikan bahwa ini nyata.
Setelah itu, mereka pergi bersama. Davi sudah memesan sebuah kamar di hotel kecil yang nyaman.
Di dalam kamar, suasana terasa hangat. Lampu kuning redup menciptakan nuansa yang tenang dan intim.
Cinta duduk di tepi tempat tidur, sementara Davi berdiri di dekat jendela, menatap kota malam.
“Aneh ya…” kata Davi pelan.
“Kenapa?”
“Setiap kali kita ketemu, rasanya kayak mimpi. Tapi setiap kita jauh… rasanya nyata banget sakitnya.”
Cinta tersenyum kecil. Ia bangkit, lalu berjalan mendekati Davi.
“Kita kuat kok. Buktinya sampai sekarang masih bertahan.”
Davi menatapnya. Dalam. Lama.
“Aku takut kehilangan kamu, Cin.”
“Jangan takut. Aku di sini.”
Perlahan, Davi menggenggam tangan Cinta. Hangat. Nyaman.
Mereka duduk berdekatan. Bahu saling bersentuhan. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang ingin melewatkan satu detik pun.
Percakapan mereka mengalir. Tentang hari-hari yang dilewati tanpa satu sama lain. Tentang rasa sepi yang sering datang tiba-tiba. Tentang mimpi-mimpi yang ingin mereka wujudkan bersama.
Dan di sela-sela itu, ada tawa kecil. Ada sentuhan ringan. Ada tatapan yang bicara lebih banyak dari kata-kata.
Malam semakin larut.
Cinta menyandarkan kepalanya di bahu Davi.
“Kalau bisa, aku pengen waktu berhenti malam ini,” katanya lirih.
Davi tersenyum, lalu memeluknya lebih dekat.
“Kalau waktu berhenti, kita gak bakal punya alasan buat ketemu lagi nanti.”
Cinta tertawa kecil. “Kamu ini…”
Mereka terdiam sejenak. Menikmati keheningan yang justru terasa penuh.
Davi mengangkat dagu Cinta perlahan, membuat mata mereka bertemu.
“Boleh?” tanyanya pelan.
Cinta tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menutup mata perlahan.
Dan Davi pun mendekat.
Sebuah ciuman lembut yang penuh rindu. Tidak tergesa. Tidak liar. Hanya dua hati yang akhirnya kembali bertemu setelah lama terpisah.
Cinta menggenggam baju Davi, seolah memastikan ia benar-benar ada.
Malam itu dipenuhi dengan kedekatan. Dengan sentuhan yang penuh makna. Dengan rasa yang selama ini hanya bisa mereka simpan dalam jarak.
Jam menunjukkan hampir pukul tiga pagi.
Cinta terbaring dengan kepala di dada Davi. Ia mendengarkan detak jantung pria itu.
“Kalau nanti kamu pergi lagi…” katanya pelan.
“Iya?”
“Janji jangan berubah.”
Davi mengusap rambutnya.
“Aku gak akan berubah. Yang berubah cuma jarak kita, bukan rasa kita.”
Cinta tersenyum, matanya mulai terpejam.
“Janji ya…”
“Janji.”
Malam itu menjadi saksi.
Saksi tentang rindu yang terbayar. Tentang cinta yang tetap bertahan meski jarak memisahkan. Tentang dua hati yang memilih untuk terus kembali, walau harus berkali-kali berpisah.
Dan ketika pagi mulai datang, mereka tahu…
Perpisahan berikutnya akan terasa berat.
Tapi setidaknya, mereka punya malam ini.
Malam yang akan selalu mereka ingat.
Malam yang penuh cinta.
Selesai