Ayunda pertama kali kenal Karel di acara ulang tahun temannya. Karel datang dengan gaya sok keren: jaket kulit (padahal panas), kacamata hitam (padahal malam), dan rambut klimis yang kalau kena angin sedikit langsung mirip mie instan gagal matang.
“Kenalin, aku Karel,” katanya sambil menurunkan kacamata sedikit.
Ayunda dalam hati: Ya Tuhan, ini orang kenapa kayak sinetron tahun 2005?
Tapi entah kenapa, Karel jago ngomong. Dua puluh menit ngobrol, Ayunda sudah ketawa-ketawa. Karel juga kelihatan perhatian—ambilin minum, bukain pintu, bahkan nawarin pulang bareng.
“Biar aku aja yang antar, Ayu. Gak aman kalau pulang sendiri,” katanya penuh percaya diri.
Ayunda terharu. Wah, cowoknya perhatian juga ya, pikirnya.
Sampai akhirnya… mereka pacaran.
—
Awal pacaran, Karel benar-benar bikin Ayunda merasa seperti ratu. Chat tiap pagi:
“Selamat pagi, calon istriku.”
“Udah makan belum? Jangan lupa makan ya, aku sayang kamu.”
Ayunda meleleh
Tapi semua berubah saat negara api menyerang—eh maksudnya, saat tanggal tua menyerang.
Suatu hari, Karel chat:
“Ayu, kamu lagi di mana?”
“Di kampus, kenapa?”
“Boleh pinjam 50 ribu gak? Lagi kepepet banget.”
Ayunda mikir, yaudah lah, pacar sendiri. Dia transfer.
Besoknya lagi.
“Ayu, boleh pinjam lagi gak? Aku janji balikin.”
Hari berikutnya lagi.
“Ayu, pulsa aku habis. Tolongin dong.”
Seminggu kemudian, Ayunda mulai sadar.
Ini bukan pacar… ini ATM berjalan.
—
Masalahnya, Karel bukan cuma mokondo (modal komuk doang). Dia juga punya bakat unik: selalu punya alasan kreatif setiap kali ditagih.
“Ayu, uangnya belum bisa aku balikin ya. Aku lagi investasi.”
“Investasi apa?”
“Investasi perasaan ke kamu.”
Ayunda: ………
Atau alasan lain:
“Dompet aku ketinggalan.”
“Di mana?”
“Di masa lalu.”
Ayunda mulai mikir, ini orang lucu apa nyebelin sih?
—
Puncaknya terjadi saat Karel ngajak Ayunda nongkrong bareng teman-temannya di sebuah kafe.
“Ayu, kamu ikut ya. Aku mau kenalin kamu ke circle aku,” katanya.
Ayunda senang. Akhirnya aku dianggap serius.
Mereka sampai di kafe. Teman-teman Karel sudah duduk ramai. Ada yang mukanya jutek, ada yang ketawa keras kayak lagi lomba.
Karel langsung duduk santai, gaya seperti bos.
“Ayu, pesen aja apa yang kamu mau,” katanya.
Ayunda pesan minuman dan makanan ringan. Karel? Pesan banyak. BANGET.
Dari kopi sampai snack, dari dessert sampai minuman tambahan.
Ayunda mulai curiga.
Dan benar saja…
Saat bill datang, Karel pura-pura batuk.
“Eh… Ayu…”
“Iya?”
“Dompet aku… ketinggalan.”
Teman-temannya langsung diam. Salah satu dari mereka bisik:
“Lagi lagi…”
Ayunda menoleh.
“Lagi lagi apa?”
Teman itu langsung pura-pura minum.
Karel mulai senyum-senyum kaku.
“Ayu kan baik ya… bayarin dulu ya. Nanti aku ganti.”
Saat itu juga, sesuatu dalam diri Ayunda… bangkit.
Dia ingat semua transfer. Semua pulsa. Semua alasan tidak masuk akal.
Hari ini… cukup.
—
Ayunda tersenyum manis.
“Oh iya, sayang. Gak apa-apa kok.”
Karel lega. Teman-temannya juga santai lagi.
Tapi kemudian…
Ayunda berdiri.
“Iya, aku bayarin. Tapi sebelumnya…” katanya sambil mengambil ponsel.
Dia membuka aplikasi m-banking, lalu berkata cukup keras:
“Teman-teman, aku cuma mau klarifikasi sedikit ya.”
Semua langsung memperhatikan.
Karel mulai panik.
“Ayu, ngapain sih… duduk aja…”
Ayunda lanjut dengan wajah polos:
“Selama pacaran sama Karel, aku sudah mentransfer total…” dia pura-pura menghitung, “…sekitar satu juta lebih.”
Teman-teman Karel: “HAH?!”
Karel: “Ayu, jangan gitu dong…”
Ayunda masih tersenyum.
“Belum termasuk pulsa, traktiran, dan bayar ojek dia ya.”
Salah satu teman langsung nyeletuk:
“Woy, Karel! Lu jadi sugar baby ternyata!”
Yang lain ketawa pecah.
Karel merah padam.
“Ayu, kamu lebay deh!”
Ayunda menatapnya tenang.
“Lebay? Oke, kita tanya aja ya. Karel, kapan terakhir kamu traktir aku?”
Karel diam.
“Bahkan waktu ulang tahunku, kamu ngasih aku… ucapan di WhatsApp. Itu pun copas dari Google.”
Teman-temannya semakin heboh.
“Parah banget, Rel!”
“Lu gak modal banget sih!”
—
Ayunda kemudian mengambil dompetnya.
“Oke, aku bayar. Tapi ini yang terakhir ya.”
Dia menaruh uang di meja, lalu menatap Karel.
“Mulai hari ini, kita putus.”
Semua langsung hening.
Karel panik.
“Ayu, jangan gitu dong! Aku bisa berubah!”
Ayunda tersenyum tipis.
“Iya, berubah jadi orang lain mungkin.”
Teman-temannya langsung: “WOOOHH!”
—
Setelah kejadian itu, Karel benar-benar jadi bahan gosip.
Setiap nongkrong, selalu ada yang nyeletuk:
“Rel, dompet lu bawa gak hari ini?”
“Atau masih di masa lalu?”
Karel cuma bisa senyum kecut.
Dia juga kapok. Sekarang kalau mau dekatin cewek, dia pastikan dulu… dompetnya isi.
—
Sementara itu, Ayunda? Hidupnya jauh lebih tenang.
Dia sekarang kalau kenal cowok, langsung punya satu pertanyaan penting:
“Dompet kamu… beneran punya kan?”
Dan kalau ada yang jawab, “Aduh lagi ketinggalan…”
Ayunda langsung berdiri.
“Maaf, aku alergi mokondo.”
—
Sejak saat itu, Ayunda jadi legenda di antara teman-temannya.
Bukan karena dia galak.
Tapi karena dia berhasil melakukan hal yang jarang dilakukan banyak orang:
Putus dari mokondo… dengan cara elegan, tegas, dan sedikit… memalukan.
Dan jujur saja…
Karel pantas mendapatkannya 😄
Selesai