"Secara statistik, hubungan kita memang hanya punya peluang bertahan sebesar lima persen, Hendra. Jadi, aku tidak terkejut."
Alea melipat tangannya di dada, duduk tegak di kursi kafe yang empuk dengan punggung yang tidak menyentuh sandaran sebuah postur yang menunjukkan kendali penuh. Di depannya, seorang pria bernama Hendra tampak sedang memijat pelipisnya, seolah-olah baru saja dihantam badai teori.
"Ini bukan soal statistik, Alea! Ini soal perasaan!" suara Hendra sedikit meninggi, menarik perhatian beberapa pengunjung kafe. "Aku mengajakmu makan malam romantis, dan kamu malah menghabiskan tiga puluh menit pertama menjelaskan bahwa pemilihan warna bunga mawar yang aku bawa adalah bentuk sublimasi dari rasa bersalahku karena terlambat jemput?"
Alea menghela napas pelan, matanya yang jernih menatap Hendra dengan tatapan klinis. "Aku hanya melakukan observasi objektif. Kamu menunjukkan gejala defensive mechanism yang klasik. Jika kita ingin hubungan ini sehat, kita harus membedah akar masalahnya, bukan menutupinya dengan kelopak bunga."
Hendra tertawa getir. Ia meletakkan kunci mobilnya di meja. "Kamu tahu kenapa kamu selalu gagal, Alea? Karena kamu tidak pernah benar-benar mencintai orang. Kamu hanya mendiagnosis mereka. Aku merasa seperti pasien yang sedang menjalani terapi setiap kali kita berkencan."
Hendra berdiri, meninggalkan kopi yang masih mengepul dan Alea yang masih terpaku.
Alea tidak mengejarnya. Ia justru meraih buku catatan kecil dari tas kulitnya dan menuliskan sesuatu.
Subjek ke-10: Gagal dalam regulasi emosi saat menghadapi kritik konstruktif.
Kesimpulan: Ketidakcocokan dalam gaya komunikasi.
Namun, saat tinta pulpennya mengering di kertas, ada sedikit rasa hampa yang menyelusup di antara logika-logika yang ia bangun.
Ia adalah Dr. Alea, psikolog spesialis hubungan yang jadwal praktiknya penuh hingga tiga bulan ke depan. Ia telah menyelamatkan ratusan pernikahan yang hampir karam di meja hijau. Tapi untuk dirinya sendiri? Ia bahkan tidak bisa mempertahankan hubungan lebih dari tiga bulan.
"Mungkin aku hanya belum menemukan orang dengan profil psikologis yang tepat," gumamnya pada diri sendiri, mencoba meyakinkan logika yang mulai goyah.
Keesokan harinya, di klinik pribadinya yang beraroma terapi lavender, Alea sedang meninjau dokumen pasien baru. Sebuah nama tertera di sana, Arlan Prakasa.
Keterangan di formulir pendaftarannya sangat singkat, hampir terlihat malas, "Hanya butuh teman bicara yang tidak banyak teori."
Alea menaikkan sebelah alisnya. "Tidak banyak teori?" gumamnya sinis. "Kita lihat saja nanti, Arlan."
Tepat pukul dua siang, pintu ruang praktiknya diketuk. Seorang pria masuk dengan kemeja flanel yang lengannya digulung asal, rambut sedikit berantakan, dan senyum yang... terlalu santai untuk seseorang yang datang ke psikolog.
"Selamat siang, Dokter Alea," sapa pria itu tanpa menunggu dipersilakan duduk.
Ia langsung mengempaskan dirinya di sofa panjang, bukan di kursi pasien yang sudah disediakan.
"Saya dengar Dokter sangat hebat dalam memecahkan masalah orang lain. Jadi, saya datang untuk memberikan Dokter sebuah tantangan."
Alea memperbaiki letak kacamatanya, mencoba mengaktifkan mode profesionalnya. "Saya di sini untuk membantu kesehatan mental Anda, Tuan Arlan, bukan untuk menerima tantangan."
Arlan terkekeh, matanya yang tajam menatap langsung ke manik mata Alea. "Bagaimana kalau kita mulai dengan diagnosis pertama.
"Dokter sedang merasa kesepian meskipun baru saja menuliskan kesimpulan bahwa Dokter 'baik-baik saja' di buku catatan tadi malam, benar?"
Alea tertegun. Pena di tangannya hampir saja terjatuh. Bagaimana pria ini bisa tahu?
Alea berdeham, berusaha menguasai kembali detak jantungnya yang sedikit melompat. Ia segera mencatat sesuatu di berkasnya,bukan karena ada hal penting, tapi untuk menghindari tatapan Arlan yang terlalu menyelidik.
"Tuan Arlan," suara Alea kembali dingin dan terkendali. "Di ruangan ini, saya yang mengajukan pertanyaan. Spekulasi Anda tentang kehidupan pribadi saya tidak relevan dengan sesi kita hari ini."
Arlan justru menyandarkan kepalanya di sofa, menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih gading. "Relevan, Dok. Karena bagaimana Anda bisa menyembuhkan orang lain jika Anda sendiri sedang berdarah? Bukankah itu seperti montir yang mencoba memperbaiki mobil orang sementara mesin mobilnya sendiri meledak di parkiran?"
Alea meletakkan penanya dengan bunyi klik yang tajam. "Saya memiliki kualifikasi klinis untuk memisahkan masalah pribadi dan profesional.
Sekarang, mari kita bicara tentang Anda. Di formulir, Anda menulis 'hanya butuh teman bicara'. Itu sangat samar. Apa ada trauma spesifik? Masalah dengan keluarga? Atau mungkin... kegagalan hubungan?"
Arlan terkekeh pelan. Ia bangkit dari posisi bersandarnya dan memajukan tubuh, menopang dagu dengan kedua tangan. Jarak mereka kini hanya terpisah meja kayu jati yang luas.
"Masalah saya sederhana, Dok. Saya merasa dunia ini terlalu berisik dengan orang-orang yang merasa paling tahu segalanya. Orang-orang yang lebih percaya pada label diagnosa daripada manusia di depannya.
Saya ingin tahu, apakah Dokter Alea yang hebat ini bisa melihat saya tanpa menghubungkannya dengan teori Freud atau Jung?"
Alea menatap Arlan dengan saksama. Secara visual, Arlan adalah tipe easy-going. Namun, cara bicaranya menunjukkan tingkat observasi yang tinggi. Alea mulai menarik kesimpulan dalam otaknya:
Mungkin dia memiliki kecenderungan kepribadian antisosial ringan? Atau hanya mekanisme pertahanan berupa agresi verbal?
"Anda sedang mencoba memprovokasi saya, Arlan," ujar Alea tenang. "Itu biasanya dilakukan oleh pasien yang merasa terancam dengan otoritas. Anda takut saya akan menemukan sesuatu yang Anda sembunyikan."
Arlan tidak marah. Ia justru tersenyum lebar, jenis senyum yang membuat Alea merasa seolah dia yang sedang di teliti oleh sang pasien.
"Oke, mari kita buat kesepakatan," kata Arlan tiba-tiba. "Saya akan menjadi pasien paling kooperatif selama satu bulan ke depan. Saya akan menceritakan semua 'isi kepala' saya. Tapi, setiap kali saya merasa diagnosa Dokter meleset, Dokter harus melakukan satu hal untuk saya."
Alea mengerutkan kening. "Ini bukan permainan, Tuan Arlan."
"Tentu bukan. Ini terapi," potong Arlan cepat. "Anggap saja ini bagian dari eksperimen untuk melihat sejauh mana teori Dokter bisa bertahan di dunia nyata.
Jika saya menang, Dokter harus ikut saya makan malam. Tapi bukan sebagai psikolog. Sebagai Alea. Tanpa buku catatan, tanpa analisa, dan tanpa kata-kata medis."
Alea terdiam. Secara profesional, ia seharusnya menolak. Ini melanggar batas-batas hubungan terapis dan pasien.
Namun, ada ego yang tersentil di dalam dirinya. Selama ini, belum pernah ada yang meragukan keakuratan analisisnya.
"Dan jika saya benar?" tanya Alea menantang.
"Maka saya akan membayar sesi konsultasi ini sepuluh kali lipat dan mengakui bahwa Dokter adalah penguasa mutlak pikiran manusia."
Arlan berdiri, mengulurkan tangannya di atas meja.
"Bagaimana? Atau Dokter terlalu takut kalau teori-teori itu ternyata salah?"
Alea menatap tangan Arlan yang lebar dan kuat. Ia tahu ini adalah awal dari kekacauan. Namun, rasa penasaran mengalahkan logikanya.
Alea menyambut uluran tangan itu. "Satu bulan, Arlan. Jangan harap Anda bisa menang."
Satu minggu berlalu sejak "perjanjian" itu dimulai. Ruang praktik Alea yang biasanya menjadi tempat paling tenang di Jakarta, kini berubah menjadi medan perang intelektual.
Arlan datang untuk sesi keduanya dengan membawa dua cup es krim cokelat yang mulai meleleh, alih-alih membawa beban emosional untuk dikonsultasikan.
"Apa ini, Arlan?" tanya Alea, menatap es krim itu seolah-olah itu adalah zat beracun.
"Ini namanya Mood Booster, Dok. Dalam teori psikologi Anda, bukankah asupan gula bisa menstimulasi dopamin? Saya sedang membantu Dokter menjalankan teori itu," jawab Arlan santai, duduk di sofa sambil mulai menikmati bagiannya.
Alea menghela napas, tetap mempertahankan punggung tegaknya. "Kita sedang dalam sesi terapi, bukan piknik. Silakan duduk dengan benar. Kita akan membahas tentang hubungan Anda dengan figur ayah, seperti yang Anda sebutkan di formulir."
Arlan berhenti menyuap es krimnya. Ia menatap Alea dengan binar jenaka. "Dok, mari kita jujur. Dokter ingin membahas ayah saya karena itu adalah jalan termudah untuk melabeli saya dengan daddy issues atau trauma masa kecil.
Padahal, ayah saya adalah pria paling bahagia di Bandung yang saat ini mungkin sedang asyik berkebun mawar."
Alea terdiam. Jarinya mengetuk-ngetuk meja. "Lalu apa yang ingin Anda bicarakan? Waktu Anda terus berjalan."
"Mari kita bicara tentang Dokter," sahut Arlan cepat. "Kenapa setiap kali saya menyebutkan kata 'perasaan' atau 'kedekatan', otot rahang Dokter menegang? Itu adalah reaksi fisiologis dari kecemasan. Apa yang Dokter takutkan dari sebuah percakapan tanpa label?"
"Saya tidak cemas," bantah Alea ketus.
"Secara klinis, bantahan yang terlalu cepat sering kali merupakan bentuk penyangkalan," Arlan menirukan nada bicara Alea dengan sempurna, membuat Alea nyaris melemparkan penanya.
Arlan bangkit berdiri, berjalan mendekati meja Alea. Kali ini ia tidak duduk, ia hanya bersandar di tepi meja.
"Dokter tahu kenapa pacar-pacar Dokter pergi? Bukan karena mereka tidak bisa diatur.
Tapi karena mereka merasa tidak pernah benar-benar 'terhubung' dengan Anda. Anda memperlakukan cinta seperti operasi bedah, membedahnya sampai mati hanya untuk tahu bagaimana cara kerjanya."
Kalimat itu menghujam tepat di ulu hati Alea. Bayangan Hendra dan sembilan pria sebelumnya melintas di benaknya. Dia benar, bisik sebuah suara kecil di kepala Alea yang segera ia bungkam.
"Anda melampaui batas, Arlan," suara Alea sedikit bergetar.
"Mungkin. Tapi saya benar, kan?" Arlan tersenyum tipis, kali ini tanpa nada mengejek. "Besok adalah hari Sabtu. Saya ingin menggunakan 'hak' sesi saya di luar ruangan ini.
Kita akan pergi ke pasar kaget di pinggiran kota. Tanpa jas putih, tanpa kacamata pelindung emosional Anda."
"Itu melanggar kode etik!"
"Anggap saja ini exposure therapy untuk Dokter yang takut pada spontanitas," tantang Arlan.
"Jika Dokter tidak datang, saya akan menganggap saya menang dalam perjanjian kita dan Dokter harus mengakui bahwa teori Dokter hanyalah tameng untuk ketakutan Dokter sendiri."
Arlan berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar, ia menoleh. "Jam tujuh pagi. Pakai sepatu kets, Alea. Bukan sepatu hak tinggi yang membuat Anda merasa lebih tinggi dari orang lain."
Pintu tertutup. Alea bersandar di kursinya, merasa seluruh energinya terkuras. Ia melihat ke arah cup es krim yang ditinggalkan Arlan. Tanpa sadar, ia mencicipinya sedikit. Manis, dingin, dan sedikit berantakan persis seperti Arlan.
Pukul tujuh pagi di hari Sabtu, Alea berdiri di pinggir jalan dengan sepatu kets putih yang masih tampak terlalu bersih. Ia mengenakan kaus polos dan celana jins, berusaha keras untuk terlihat "normal," meski tangannya terus-menerus meraba saku mencari buku catatan yang sengaja ia tinggalkan di rumah atas paksaan batinnya sendiri.
"Dokter terlihat seperti mahasiswa yang salah jurusan," suara Arlan memecah lamunannya.
Arlan datang menggunakan motor tua yang mesinnya berbunyi berisik. Ia tidak turun, hanya membuka kaca helmnya dan memberi isyarat agar Alea naik.
"Kita mau ke mana?" tanya Alea ragu, menatap motor itu dengan tatapan skeptis seolah sedang memeriksa keamanan sebuah gedung.
"Ke tempat di mana logika tidak laku, Alea. Naiklah."
Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah pasar kaget yang tumpah ruah ke jalanan. Aroma gorengan, bau amis ikan, dan suara teriakan pedagang yang menawarkan diskon menyerbu indra penciuman Alea.
Ini adalah kekacauan yang terorganisir, sesuatu yang biasanya akan segera Alea klasifikasikan sebagai high-stress environment.
"Ayo," Arlan menarik ujung lengan kaus Alea, bukan tangannya. sebuah batasan yang entah kenapa membuat Alea merasa sedikit kecewa.
Mereka berjalan di antara kerumunan. Arlan tampak seperti ikan di dalam air, ia menyapa penjual koran, menawar harga kerupuk dengan candaan, dan sesekali tertawa lepas.
Sementara itu, Alea berjalan kaku, matanya sibuk memindai orang-orang di sekitarnya.
"Lihat pasangan di sana, Arlan," bisik Alea, menunjuk sepasang suami istri tua yang sedang berdebat soal harga cabai.
"Dari pola komunikasinya, sang suami menunjukkan tanda-tanda passive-aggressive, sedangkan istrinya menggunakan dominasi verbal untuk menutupi rasa tidak amannya."
Arlan berhenti melangkah. Ia berbalik dan menatap Alea dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Alea, lihat lagi.
Pakai matamu, bukan pakai gelarmu."
Alea terdiam. Ia melihat kembali pasangan tua itu. Setelah berdebat sengit, sang suami akhirnya membeli cabai tersebut, lalu dengan lembut mengusap keringat di dahi istrinya sambil menyerahkan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya. Sang istri tersenyum, sebuah senyum kecil yang tulus.
"Mereka tidak sedang berdebat soal cabai, Alea," gumam Arlan. "Mereka sedang melakukan ritual komunikasi yang sudah mereka jalani selama empat puluh tahun. Itu namanya cinta yang sudah selesai dengan ego. Tidak ada diagnosa yang bisa merangkum momen itu."
Alea terpaku. Dadanya terasa sesak. Selama ini, ia selalu melihat interaksi manusia sebagai potongan-potongan puzzle yang harus dipecahkan, bukan sebagai sebuah gambar utuh yang harus dinikmati.
"Kenapa kamu mengajakku ke sini, Arlan?" tanya Alea pelan.
"Karena di sini, kamu tidak bisa mengontrol variabelnya. Kamu dipaksa untuk merasakan," Arlan menarik Alea ke sebuah kedai bubur ayam di pojok pasar.
"Duduk. Makan. Dan tolong, jangan hitung berapa kalori atau kadar serotonin yang akan dihasilkan bubur ini."
Saat mereka duduk berdampingan, seorang pengamen kecil mendekat dan menyanyikan lagu cinta yang agak sumbang. Arlan mulai ikut bersenandung kecil. Alea memperhatikan profil samping wajah Arlan rahangnya yang tegas, cara matanya menyipit saat tersenyum.
Tiba-tiba, Arlan menoleh. "Nah, sekarang giliran saya yang mendiagnosa Dokter."
Alea menahan napas. "Apa?"
"Dokter sedang merasa takut," Arlan merendahkan suaranya. "Bukan takut pada pasar ini. Tapi takut karena Dokter mulai menyadari bahwa selama ini Dokter menggunakan teori sebagai jeruji penjara, bukan sebagai kunci. Dokter takut kalau teori itu hilang, tidak ada yang tersisa dari seorang Alea."
Alea ingin membantah. Ia ingin mengatakan bahwa Arlan salah, bahwa ia adalah wanita yang utuh dengan atau tanpa gelarnya. Namun, kata-katanya tertahan di tenggorokan.
"Jangan takut," Arlan meraih tangan Alea di atas meja kayu yang berminyak, menggenggamnya dengan mantap. "Menjadi berantakan itu tidak apa-apa, Alea. Itu artinya kamu manusia."
Tepat saat itu, Alea merasakan sesuatu yang belum pernah ia tulis di buku catatannya, sebuah getaran yang tidak logis, namun terasa sangat benar.
Setelah hari di pasar kaget itu, Alea tidak lagi sama. Ruang praktiknya yang biasanya terasa seperti benteng perlindungan, kini terasa seperti kotak kaca yang menyesakkan. Setiap kali ia mulai memberikan nasihat kepada kliennya, kata-kata Arlan tentang "ritual komunikasi tanpa ego" selalu terngiang di telinganya.
Sesi ketiga dimulai dengan suasana yang berbeda. Alea tidak lagi memakai kacamata berbingkai tebalnya. Ia juga membiarkan rambutnya tergerai, sebuah perubahan kecil yang langsung ditangkap oleh radar Arlan.
"Dokter terlihat... lebih bernapas hari ini," sapa Arlan, kali ini ia datang tanpa es krim, tapi dengan sebuah buku tua di tangannya.
"Saya hanya mencoba mengikuti saran pasien saya untuk tidak terlalu kaku," jawab Alea dengan senyum tipis yang tulus. "Jadi, Arlan, hari ini saya ingin jujur. Saya mendiagnosa diri saya sendiri semalam. Saya menyadari bahwa saya menderita Emotional Intellectualization. Saya menggunakan kecerdasan untuk menjauhkan diri dari emosi yang sebenarnya."
Arlan terdiam sejenak, menatap Alea dengan apresiasi. "Itu pengakuan yang besar, Alea. Tidak mudah bagi seorang ahli untuk mengakui bahwa alatnya sendiri yang justru melukainya."
"Tapi sekarang giliran saya yang bertanya," lanjut Alea, tubuhnya condong ke depan. "Kamu terlalu mahir dalam membaca orang, Arlan. Kamu bukan hanya 'pengamat'. Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu begitu terobsesi membongkar pertahanan saya?"
Arlan memutar-mutar buku di tangannya. "Nama belakang saya mungkin tidak asing bagi Anda jika Anda sering membaca jurnal psikologi klinis dari tahun 90-an. Prakasa."
Mata Alea membelalak. "Profesor Hendrawan Prakasa? Pakar trauma anak yang legendaris itu? Dia... ayahmu?"
Arlan mengangguk pelan, tapi senyumnya memudar. "Dia adalah pria yang sangat hebat di podium, Alea. Tapi di rumah, dia adalah pria yang mendiagnosis tangisan ibuku sebagai 'gejala depresi pasca-melahirkan yang berkepanjangan' alih-alih memberikan pelukan.
Aku tumbuh besar dengan melihat bagaimana teori bisa membunuh kehangatan dalam sebuah keluarga. Itulah sebabnya aku membenci label. Dan itulah sebabnya, saat melihatmu di seminar tahun lalu, aku melihat bayangan ayahku dalam versi yang lebih cantik dan... lebih kesepian."
Alea tertegun. Jadi, Arlan datang bukan karena sebuah kebetulan. Ia datang dengan sebuah misi pribadi.
"Jadi ini semua... balas dendam?" tanya Alea dengan suara tercekat.
"Bukan. Ini upaya penyelamatan," Arlan berdiri dan berjalan mendekati jendela besar yang menampilkan kemacetan Jakarta. "Aku tidak ingin wanita sehebat kamu berakhir seperti ayahku. Sendirian di ruangan penuh buku, tapi tidak punya siapa-siapa untuk diajak berbagi cerita tentang betapa lelahnya harimu."
Alea merasa dadanya seperti dihantam sesuatu yang keras. Logikanya mencoba mencari pembelaan, tapi hatinya justru merasa telanjang. Ia berdiri, melangkah mendekati Arlan,Ia menyentuh lengan Arlan.
"Kenapa kamu peduli, Arlan? Kita ini pasien dan terapis. Ini salah."
Arlan berbalik, menatap Alea dengan intensitas yang membuat udara di ruangan itu terasa menipis. "Sejak awal, kita tidak pernah menjadi pasien dan terapis, Alea. Kita adalah dua orang yang sama-sama takut pada cinta, tapi dengan cara yang berbeda. Kamu melawannya dengan buku, aku melawannya dengan lari dari komitmen."
Tiba-tiba, telepon di meja Alea berbunyi nyaring. Sebuah panggilan darurat dari salah satu klien lamanya yang sedang mengalami krisis hebat. Alea harus kembali ke dunianya.
"Aku harus menerima ini," ucap Alea bimbang.
"Pergilah. Selesaikan tugasmu," ujar Arlan sambil berjalan menuju pintu. "Tapi ingat perjanjian kita. Besok malam adalah batas satu bulan. Dan aku menagih makan malam itu. Bukan sebagai pasien, tapi sebagai pria yang ingin mengenal wanita di balik gelar dokter itu."
Saat Arlan menghilang di balik pintu, Alea menatap gagang telepon yang masih bergetar. Ia sadar, kasus tersulit yang pernah ia hadapi bukanlah pernikahan kliennya, melainkan bagaimana cara mencintai tanpa harus mendefinisikannya.
Malam itu, hujan turun membasahi Jakarta, menciptakan suasana melankolis yang biasanya akan Alea analisis sebagai set-up atmosferik untuk meningkatkan kadar melantonin.
Namun, saat ia berdiri di depan cermin, Alea berhenti berpikir.
Ia tidak memilih pakaian berdasarkan "kesan psikologis warna," ia hanya memilih terusan hitam yang membuatnya merasa nyaman dan... cantik.
Makan malam itu tidak terjadi di restoran mewah. Arlan menjemputnya dan membawanya ke sebuah kedai mi ayam kaki lima yang tersembunyi di gang sempit.
"Arlan, ini malam penentuan kita, dan kamu membawaku ke sini?" tanya Alea, kali ini dengan nada bercanda, bukan protes.
"Tempat ini jujur, Alea. Tidak ada piring yang dihias berlebihan, tidak ada musik yang diatur volumenya. Hanya rasa," Arlan menarik kursi plastik untuknya.
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Alea tidak lagi memperhatikan bagaimana Arlan memegang sumpit atau apakah Arlan menunjukkan tanda-tanda kecemasan sosial. Ia hanya menikmati uap hangat yang menerpa wajahnya.
"Satu bulan sudah lewat," Arlan memecah kesunyian setelah mereka selesai makan. "Jadi, Dok? Apa diagnosa terakhir Anda untuk kasus kita?"
Alea meletakkan gelas teh hangatnya. Ia menatap Arlan dalam-dalam. "Kasus ini ditutup, Arlan. Karena ternyata, saya adalah pasiennya, bukan kamu."
Arlan tersenyum, jenis senyum yang mencapai matanya. "Dan apa resep untuk pasien itu?"
Alea menarik napas panjang. "Resepnya adalah berhenti bertanya 'mengapa' dan mulai merasakan 'apa'. Aku selama ini terlalu takut gagal karena aku pikir kegagalan adalah bukti ketidakkompetenan. Tapi kamu benar. Menjadi berantakan adalah bagian dari menjadi manusia."
Alea meraih tangan Arlan di atas meja, tanpa ragu, tanpa beban kode etik yang biasanya menghantuinya. "Terima kasih karena sudah menjadi pasien yang paling menyebalkan sekaligus paling menyembuhkan."
Arlan menggenggam balik tangan Alea, kali ini lebih erat. "Aku punya satu pengakuan lagi, Alea. Aku tidak pernah benar-benar membenci teori. Aku hanya membenci teori yang tidak punya hati. Dan malam ini, aku melihat seorang wanita yang punya hati luar biasa besar, yang selama ini hanya bersembunyi di balik tumpukan buku."
"Jadi," bisik Arlan, mendekatkan wajahnya. "Apa langkah kita selanjutnya, Alea? Tanpa rencana, tanpa struktur?"
Alea tersenyum, matanya berbinar dengan keberanian yang baru. "Langkah selanjutnya adalah kita jalani saja. Dan kalau kita tersesat, kita akan tersesat bersama. Tanpa perlu mendiagnosa arah jalannya."
Enam bulan kemudian.
Alea duduk di ruang praktiknya, namun suasana ruangan itu telah berubah. Tidak ada lagi aroma lavender yang kaku, kini ada beberapa pot tanaman hijau pemberian Arlan yang membuat suasana lebih hidup.
Di atas mejanya, masih ada buku catatan, tetapi isinya bukan lagi sekadar kode diagnosis yang dingin.
Pintu terbuka tanpa ketukan yang formal. Arlan melangkah masuk dengan santai, membawa dua bungkus martabak manis.
"Masih sibuk mendiagnosis dunia, Dokter Alea?" goda Arlan sambil meletakkan makanan itu tepat di atas tumpukan jurnal medis.
Alea tertawa, sebuah suara yang kini lebih sering terdengar di ruangan itu. Ia menutup bukunya. "Sebenarnya, aku baru saja menyelesaikan catatan untuk klien terakhirku. Seorang wanita yang sangat mirip denganku dulu. Terlalu pintar untuk membiarkan dirinya merasa bahagia."
Arlan bersandar di meja, menatap Alea dengan bangga. "Dan apa saranmu untuknya?"
Alea berdiri, melingkarkan tangannya di leher Arlan tanpa rasa takut akan pelanggaran etika yang dulu menghantuinya. "Aku bilang padanya bahwa cinta itu seperti seni, bukan sains.
Kamu tidak bisa mengukurnya dengan penggaris, kamu hanya bisa merasakannya dengan hati. Dan kadang-kadang, kamu harus membiarkan dirimu sedikit 'gila' untuk bisa benar-benar waras."
Arlan mengecup dahi Alea lembut. "Sepertinya guruku ini sudah lulus dengan nilai sempurna."
Alea tersenyum. Ia melirik ke arah buku catatannya yang terbuka di halaman terakhir. Di sana, di bawah daftar rencana harinya, terselip sebuah kalimat pendek yang ia tulis dengan tinta biru.
"Cinta tidak butuh diagnosis. Ia hanya butuh seseorang yang bersedia menetap saat semua teori gagal menjelaskan mengapa kita masih ingin bersama."
Alea tidak lagi takut pada kegagalan. Karena di samping Arlan ia belajar bahwa hubungan yang paling indah bukanlah yang berjalan sempurna tanpa cela, melainkan hubungan yang tetap bertahan meskipun keduanya tahu betapa berantakannya mereka.
TAMAT