Di Kedai Kopi Juke, hidup Junila Putri—atau yang biasa dipanggil Nila—bukan tentang aroma arabika yang wangi, tapi tentang bertahan hidup di antara sif yang melelahkan. Hubungan Nila dengan Brain Briandez berawal dari sebuah kerumitan yang menyesakkan.
Sebagai anak pemilik kedai, Brian sering datang dengan sepatu mahal dan tatapan yang menghakimi. Di matanya, Nila hanyalah pekerja part-time yang terlalu keras kepala. Sementara di mata Nila, Brian adalah simbol hak istimewa yang tidak punya empati, anak orang kaya yang hanya tahu bersantai tanpa pernah mengerti kerasnya bekerja.
"Bisa lebih cepat sedikit, Nila? Pelanggan di meja empat sudah menunggu lima menit," cetus Brian suatu kali sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja bar.
Nila menyeka peluh di dahinya, tidak menoleh sedikit pun.
"Kalau kamu mau cepat, pakai apronmu dan bantu aku, Brian. Jangan cuma jadi pajangan."
Kebencian itu memuncak di suatu sore yang gerah saat sebuah pesanan salah terkirim. Brian melempar bon ke meja dengan kasar.
"Benar-benar tidak kompeten. Apa susahnya membaca pesanan sesederhana ini, Nila? Kamu dibayar bukan untuk melamun."
Nila meletakkan milk jug dengan dentum keras, matanya menyala menahan amarah.
"Aku lelah, Brian! Aku bekerja sepuluh jam sementara kamu cuma tahu cara menghabiskan uang ayahmu tanpa pernah merasakan tanganku yang melepuh kena uap mesin ini!"
Selama berbulan-bulan setelah itu, atmosfer kedai terasa beku meski mesin kopi selalu panas. Mereka hanya bicara seperlunya.
"Kopi meja dua," atau "Geser, aku mau ambil gelas." Dendam itu berkerak, tumbuh di sela-sela uap panas, menjadi jembatan tipis satu-satunya yang menghubungkan mereka.
Hingga akhirnya, perpisahan itu tiba saat hujan bulan Juni turun deras. Nila memutuskan berhenti. Hari itu, ia duduk sendirian di sudut jendela, memegang cangkir bertuliskan "June Rain" yang hangat. Ia termenung melihat rintik di kaca, menyadari ada kekosongan yang aneh saat ia memutuskan untuk melangkah pergi.
"Jadi... kamu benar-benar pergi?" suara Brian tiba-tiba terdengar di belakangnya, terdengar lebih pelan dan canggung dari biasanya.
Nila tidak menoleh.
"Bukankah itu yang kamu mau? Kedaimu akan lebih 'profesional' tanpa pelayan keras kepala sepertiku."
Brian diam cukup lama, hanya suara hujan yang mengisi jarak di antara mereka. Nila pun melangkah pergi tanpa kata pamit tambahan, membawa luka dan cangkir kenangannya sendiri.
~~~
Namun, hujan tidak selamanya membawa duka. Setahun kemudian, di tempat yang sama saat musim hujan kembali bertamu, pintu kedai berdenting. Nila yang kini sudah menata hidupnya kembali, hadir ke sana sebagai pelanggan.
Di balik meja bar, bukan lagi wajah asing yang ia temui, melainkan Brian yang kini memakai apron kusam, tangannya sibuk mengoperasikan mesin kopi dengan serius. Wajahnya tampak lebih dewasa, lebih lelah, namun jauh lebih hidup.
"Satu latte tanpa gula?" tanya Brian tanpa mendongak awalnya, namun suaranya bergetar sedikit.
Nila terpaku.
"Kamu masih ingat?"
Brian akhirnya mendongak, memberikan senyum tipis yang tulus.
"Aku belajar banyak setahun ini, Nil. Ternyata mesin ini memang tidak semudah kelihatannya. Sejak aku sadar kalau mengeluh itu jauh lebih mudah daripada benar-benar bekerja di sini... aku mengerti kamu dulu." Ia menarik napas, "Maaf... untuk semuanya."
Nila menerima cangkir yang disodorkan Brian. Uap kopi itu naik, menghangatkan wajahnya.
"Sepertinya kopimu sudah lebih enak daripada omonganmu yang dulu, Bri."
Keduanya terkekeh pelan. Tidak ada lagi kilat benci, hanya senyum tipis penuh pengertian. Hujan bulan Juni kali ini tidak lagi terasa dingin, karena mereka tahu, ini adalah awal dari babak yang benar-benar baru.